1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Menyeberang

nyebrang.jpg

Entah sudah ada berapa nasehat yang pernah mampir ke kuping saya perkara menyeberangi jalan. Tengok kanan-kiri sebelum menyebrang, menyeberanglah pada tempatnya, dan sebangsa itulah. Lantas kemarin itu, paman kemplu ada menggombal perkara jalanan Jakarta yang dirancang untuk kaum berkendaraan bermotor, pengguna jalan lain bertenaga kaki silahkan minggir. Lalu ada opini tanpa penelitian seksama dari saya, kota macam Jakarta itu dipenuhi oleh pengemudi kendaraan bermotor yang ganas bahkan sering tuna tata krama. Kesimpulannya adalah: menyeberangi jalan di Jakarta bukan perkara mudah, maka jika fasilitas untuk menyebrangi jalan tersedia tetapi sampeyan enggan memakai, jangan memaki jika ditabrak apalagi lantas minta santunan.

jembatan.jpg

Di luar stasiun kereta api Gambir (ujung Selatan) ada sebuah jembatan penyeberangan miskin peminat. Nyaris saban pagi kala saya menggunakannya, saya adalah satu-satunya pengguna. Mungkin sangking sepinya, pengemispun enggan “membuka usaha” di situ. Para penyeberang jalan lebih memilih menyeberang langsung saja, tidak hirau pada fasilitas yang sudah disediakan. Pak Polisi di pertigaan juga tak hirau pada para penyeberang itu.

Konon katanya, masyarakat yang berbudaya itu adalah masyarakat yang taat aturan, dan Indonesia rajin sekali berseru-seru jika kita memilki kebudayaan yang tinggi. Pada sebuah dialog di komik Asterix, salah satu tokoh berujar “dasar barbar liar tuna budaya” pada karakter lain yang tak patuh aturan.

budaya.jpg

Lantas apakah banyaknya penyeberang tidak taat aturan adalah gambaran rendahnya budaya? Di ujung jembatan penyeberangan itu ada sebuah perpustakaan, Perpustakaan Kebudayaan dan Pariwisata. Pada beberapa kesempatan di jam istirahat, saya mengunjunginya. Sebuah perpustakaan yang sepi pengunjung ………

23 orang ikut ndobos

1

Gravatar

02 November 2007 10:28:07

oon

pasukan penegak diselipin perlu diadakan lagi mungkin ndoro?

*nunggu dibagi rompi…lumayan buat ngojek xixixi…

2

Gravatar

02 November 2007 10:46:47

bangsari

gimana mau tertib, ndak ada aturan je…

3

Gravatar

02 November 2007 10:54:49

ayahshiva

justru menyeberang bukan pada tempat nya itulah yang telah menjadi budaya

4

Gravatar

02 November 2007 11:38:48

Totoks

gimana kalau budaya tertib ini kita mulai dari para blogger dulu? jadi yg nyeberang tidak pada tempatnya pasti bukan blogger hihihi…

5

Gravatar

02 November 2007 11:50:58

reza

di depan mall ambassador malahan banyak orang nyeberang gak ada jembatannya :) ironis kan ;(

6

Gravatar

02 November 2007 11:52:52

funkshit

@atas
setuju.. bukan orang indonesia asli klo menyeberang pada tempatnya :d

lagian klo lewat jembatan penyeberangan, capeee :D

7

Gravatar

02 November 2007 12:11:56

trie

wah… yg beginian di sby juga buannyakkk, sir. wah..jgn2 emang dah jadi budaya sak ngendonesah *sedih*

8

Gravatar

02 November 2007 12:16:02

de

perpuse bukune elek2 soale :D

9

Gravatar

02 November 2007 12:54:29

aprikot

ga toto iyo pakdhe :)

10

Gravatar

02 November 2007 13:20:54

mikow

Pakde.. dijakarta kalo mo nyebrang “ditempat yg bukan untuk menyeberang” harus lebih galak dari pengendara bermotor :)

11

Gravatar

02 November 2007 13:21:26

iway

biar awet pakdhe jembatannya

12

Gravatar

02 November 2007 16:49:44

mpokb

kalau jalanan padat dan susah menyeberang, kendaraan nggak kasih jalan padahal penyeberang sudah di zebra cross (!), ada cara gampang. ikutin aja buntut mobil yg sudah lewat (lari2 kecil dikit). dijamin mobil di belakangnya nggak akan nabrak kita yg ‘nempel’ di buntut mobil depan :p

13

Gravatar

02 November 2007 17:56:48

Mak Jepun

kayaknya kantor kita deket niy hehehehehe

14

Gravatar

02 November 2007 18:27:40

Syafrudin

Kalau soal kebiasaan mencoba selalu menyeberang lewat JPO atau zebra-cross (Jembatan Penyeberangan Orang), Alhamdulillah kebiasaan ini didukung oleh anak - anak saya (SD kelas 1 dan TK kelas A) , sehingga saya bisa selalu lewat JPO atau zebra-cross kalau sedang berkeliaran di sekitar Bandung Indah Plaza. Namun saya tidak bisa melakukannya di Simpang, karena tidak ada JPO di simpang :-)

15

Gravatar

02 November 2007 18:31:24

triadi

wah capek pak e kalo musti ke atas kan?

“padahal jalan tuh tempat ketemunya macem2 budaya..jadi disitu lah gambar yang paling mudah diliat tentang suatu bangsa…”

16

Gravatar

02 November 2007 18:40:10

gstraat

Menyeberanglah pada “tempat”nya…….hahahaha.

17

Gravatar

02 November 2007 19:10:41

keritiKentangâ„¢

hahaha… jd itu deket stasiun gambir?
pantes… rasa2nya sering ke sana. tp rada2 ga mudheng! xP
soalnya dulu saya pernah KP (Kerja Praktek) di PLN Gambir! ;)
dan saya jg termasuk yg suka nyebrang di jalan itu!
hahaha… xD *jd malow… :”>*
eh, tp nyebrangnya kalo dah lampu merah aja! :P
*tetep aja ya ga ngikut aturan? T_T*
btw, baru nyadar kalo deket sana jg ada Perpustakaan Kebudayaan dan Pariwisata…
uhmmm… :|

18

Gravatar

02 November 2007 21:36:44

Hedi

Tata krama, disiplin dan keteraturan? Kalo ada orang Indonesia tinggal di luar negeri, bisa kok ikut tertib…tapi kalo udah pulang lha jadi setan lagi hehehe

yang jadi “setan” di luar negeri juga ada kok sam … hehehe (-Mbilung-)

19

Gravatar

03 November 2007 06:26:10

yoki

wah itu kan bukan jembatan penyebrangan…cuman sebuah gapura atau landmark sajah, sampeyan sajah yang iseng naik-naik kesituh :P

20

Gravatar

03 November 2007 12:39:56

bibi SP

ya itu mas seperti kata asterix, (budaya) barbar… :-)

21

Gravatar

03 November 2007 23:15:17

khuclukz

ya… namanya juga Indonesia…
hehehe ;)

22

Gravatar

04 November 2007 01:00:44

Aris

trims utk mengingatkan bhw kita sesungguhnya masih barbar. mungkin dibutuhkan lebih banyak lagi orang2 seperti mas pudji agar bangsa kita menjadi bangsa yg berbudaya. salam kenal mas.

23

Gravatar

06 November 2007 02:25:16

kenji

sebenarnya saya dulu sering memakai jembatan di depan station gambir itu… buat ngambil taksi dari arah berlawanan depan gambir… terus terang pernah sekali saya pakai, pas turun dibilang ama orang2 di bawah “cowok kok banci banget ga berani nyeberang langsung”

Sejak saat itu saya malas naik kereta lagi :D

Ikutan Ndobos

Ndobosan sebelumnya | Ndobosan selanjutnya