Jeng Jeng Time – Makanan

Perkara makanan sekarang. Ini sulit. Saya tak pandai membahas soal makanan, tidak seperti Zam yang jeng jeng nya hendak saya tiru ini. Bagi saya, makan ya makan saja, lantas, ooo ini bisa dimakan, itu tidak. Maka, tinggal di Bogor yang diseraki begitu banyak jajanan (herannya, kok ya laku), tidak menjadikan saya seorang yang piawai dalam urusan menilai makanan.

Jadi, jeng jeng kemarin itu apa saja yang masuk perut? Banyak dan tidak semua sebetulnya layak untuk saya santap. Tidak semua akan saya ceritakan, yang berkesan saja.

Empal Gentong. Begitu judulnya. Katanya khas Cirebon dan yang katanya enak itu empal gentongnya Mang Kojek. Berbeda dengan empal gentong yang pernah ditulis Mbak Dena, empal gentong satu ini mengkhususkan diri dengan dengkul sapi, tanpa jeroan yang bisa membahayakan tubuh saya. Jangan tanya saya di mana tempat persisnya. Saya itu ndak hapal Cirebon, maka tempatnya Mang Kojek itupun ditemukan setelah sebelumnya menculik tukang becak untuk menunjukan jalan ke sana.

Lalu bagaimana hasilnya? enak? Ya rasa dengkul sapi. Porsinya agak kebanyakan untuk saya, tetapi terlalu sedikit untuk anak saya yang sedang tumbuh itu. Maka begitu dia melihat saya tak sanggup menghabiskannya, dengan bahagia dia menyantap sisa dengkul saya.

Dengkul-dengkul sapi yang belum diolah, dikumpulkan di satu wadah di atas tungku untuk diasapi. Susahnya warung tenda pinggir jalan begini, sirkulasi udaranya tidak baik sehingga asap itu ya mbulet saja di dalam tenda. Dengkul dan penyantap dengkul sama-sama diasapi. Maka bagi pengidap bengek, saran saya jangan makan di dalam tenda.

Berikutnya Nasi Ayam Bu Nyoto. Ada di pinggiran jalan MT. Haryono Semarang. Saya datang ke tempat ini karena digiring Gita untuk sarapan. Tukang parkir di depan warung dengan bersemangat berteriak “habeeeees …. habeees”, yang maksudnya bukan meminta saya mbanting setir sampe habis, tetapi dia mengabarkan nasi ayamnya sudah habis.

Habis? wohooooo, ngapusi itu tukang parkir. Masih ada dan enak tampaknya, terutama di saat-saat lapar begini. Nasi, suwiran ayam yang diguyur cairan serupa santan, sayur dan krecek (pedas) dan bisa ditambahi asesoris lain seperti telur ayam, telur puyuh atau ati-ampela. Saya suka!!!

Namanya juga makan di emperan ya siap-siap saja kalau ada yang mau lewat. Gerakan menghindar dan menyelamatkan makanan adalah jurus wajib. Kalau ada makanan jatuh karena tersenggol pejalan kaki, ya harus maklum, toh sampeyan makan di tempat yang diperuntukan bagi pejalan kaki.

Dua makanan di atas adalah makanan yang termasuk bisa saya nikmati. Berikut yang tidak bisa.

Garang Asem di Kudus. Tanyakan pada Gita di mana ini tempatnya. Katanya terkenal enak. Memang banyak kendaraan parkir di tempat itu, menandakan banyak orang makan di situ. Mestinya ini dengan catatan “bagi penggemar makanan pedas”. Celakanya saya tidak suka pedas.

Begitu bungkus garang asem itu dibuka tampaklah potongan-potongan ayam, cabai hijau dan tomat hijau. Ini mengerikan. Cabai hijau dan tomat hijau itu jika disatukan maka hasilnya adalah bahan bakar roket. Tetapi, dengan bodoh gagah berani makanan itu saya santap juga. Betul saja, suapan pertama belum habis saya sudah diserang cegukan dahsyat.

Dengan susah payah akhirnya itu makanan bisa saya habiskan. Walaupun sesudahnya saya ndak berani kentut. Ngeri kalau-kalau saya bisa mencelat sampai ke Sanga-Sanga.

Sate Kerbau di Jepara. Ini sebetulnya yang saya tunggu-tunggu. Promosi Gita perkara sate yang satu ini luar biasa. Saya rela ndak makan malam dan ndak sarapan pagi demi sate satu ini. Sate kerbau Pak Darno, maksudnya sate kerbau buatan Pak Darno bukan kerbaunya Pak Darno yang disate, lembut dagingnya, ndak alot. Enaknya susah digambarkan, dijamin ketagihan.

Benarkah itu semua? Mungkin saja benar. Saya tidak (belum) dapat membuktikannya, karena warung sate kerbau itu tutup!! Alasannya? Hari itu adalah hari Minggu.

Saya teringat keluhan Gita tentang beberapa museum di Bandung yang tutup pada hari Minggu. “Hari minggu mestinya ya buka, banyak calon pengunjung, …..” Begitu antara lain omelannya. Saya tak bisa menjawab, karena saya tak punya jawaban kenapa museum tersebut tutup. Sekarang saya tahu, dan jawaban saya pada Gita adalah “Coba kamu tanyakan, mungkin kepala museumnya orang Jepara”.

Join the Conversation

29 Comments

  1. mampir sejenak untuk ikutan nimbrung komentar..

    wahh..
    kalo saya rasane ngga’ doyan ma semua makanan di atas..
    saya rasanya lebih ke arah vegetarian gtu..
    ngga’ tau..
    mungkin turunan dari ortu..

    paling-paling saya doyan cuma ayam ma ikan laut saja..
    ngga’ doyan yang lainnya..
    apalagi sate kerbau ituhh..
    sate kambing saja saya ngga’ dotan lohh..
    entah..
    rasanya saya menghindari bau dan rasa amis dalam perut saya..
    kalo ndak..
    saya bisa muntah..

    kadang juga ngiri liat teman-teman yang makan rawon, gule dan masakan-masakan lainnya yang ada dagingnya..
    kelihatannya makannya enak buanget..
    hicks..
    jadi pengen..

  2. sate kebo itu kayaknya asli kudus, dan kudus itu juga punya sego pindang semacam rawon tetapi memakai santan.. kalo garang asem itu dari purwodadi meskipun yang terkenal swikenya.. ngomong ngomong kalo om sampe di klaten cari sego kucing.. ato warung hek , ciri khasnya pake pindang bandeng sak cuwil bukan teri kalo sego kucing isinya teri itu jogja ato sego sak kepel plus oseng kacang panjang rata rata mung 6 lembar ukuran 3cm diameter 5mm saya pernah ukur pake sigmat,, solo cobalah itu sengsu ato rica RW, tanpa duduh dan deres tenan pedes mrico.. bisa buat jamu tombo darah rendah.. kalo sampe di kendal tulung mampir rumah saya titip jipuke kunci kontrakan.. ketinggalan pas balik kemarin.. saiki lawang kontrakanku tak bungkar

  3. Nasi Ayam Semarang itu mirip banget sama Nasi Liwet Solo, pakde..

    Nasi Liwet yang gurihnya “soft”, disiram dengan sayuran dari labu siam yang dipotong panjang-panjang. Sebelumnya ada suwiran daging ayam kampung dan telornya (opsional).

    ada semacam areh dari kepala santan yang tambahkan sebagai topping dan hasil rebusan kocokan telur putih.

    Sopan santunnya, makana nasi liwet ya pake daun pisang. ditambah krupuk rambak (kulit), begitu dahsyat terasa..

    Kapan ke Solo, pakde? 😀

  4. hari ini nemu museum yang buka di hari minggu pakdhe, museum kareta yogyakarta!!!! berarti kepala museumnya itu bukan orang jepara 😛

  5. BUAT TEMEN-TEMEN yang berminat mencoba makanan malam khas solo

    DImbuka PADA TANGGAL 31 MEI 2008

    telah DImbuka warung hek SOLO di margonda,depok

    BUKA JAM 07.00 MALAM – SELESAI

    MENU :

    NASI KUCING Rp.2000
    NASI OSENG Rp.2000
    BRAMBANG ASEM Rp.1500

    TAHU n TEMPE BACEM Rp.500

    WEDANG JAHE (ORIGINAL) Rp.2500
    WEDANG JAHE PLUS-PLUS Rp.3500

    sate macem2 Rp.2000

    DLL.

    KAMI SERTAKAN DENAH PETANYA di web:

    klik disini

  6. sekedar info :

    Anda yang berasal dari Pati ( Jawa Tengah ) tentunya sudah tidak asing dengan nasi gandul.

    Kalau anda berdomisili di BSD ( Bumi Serpong Damai ) dan sekitarnya, silakan kunjungi WARUNG nasi gandul PAKDHE, di komplek pasar modern BSD, buka mulai pukul 17.00 – 24.00 WIB. Harga terjangkau, 10 ribu / porsi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *