Jeng Jeng Time – Potongan

Ini hanya beberapa catatan kecil dibuang sayang dari acara jeng jeng kemarin itu. Tidak ada hubungan antara satu dengan lainnya.

kyai.jpg

Dalam berwisata sedapat mungkin saya menghindar untuk mendatangi tempat wisata yang sudah terkenal. Kalaupun akhirnya tempat terkenal itu didatangi, ya jangan pada hari libur. Sulit bagi saya menikmati objek wisata sembari umpel-umpelan atau diuber-uber pedagang asongan. Sulitnya mencari tempat parkir, pungutan ndak jelas, peturasan umum yang mengerikan kondisinya, atau pengeras suara yang mengganggu kenyamanan telinga, hanyalah beberapa dari banyak pengganggu kenyamanan berwisata.

softex.jpg

Tempat menginap selama berwisata bisa di mana saja, kadang ya tidur di mobil saja. Kalaupun perlu tempat menginap, ada banyak penginapan yang relatif murah terserak sepanjang jalan. Tidak semua menawarkan “kebersihan” sebagai barang dagangan utama memang, tetapi jika beruntung bisa saja kita mendapatkan penginapan yang murah, bersih, nyaman dan ramah.

Jajanan selama perjalanan, ini bisa jadi masalah sendiri. Lapar mata, itu masalahnya. Tidak hati-hati dalam masalah ini, liburan sampeyan bisa diisi dengan acara murus-murus sepanjang jalan. Bukannya sibuk menikmati pemandangan, malah sibuk mencari peturasan umum.

susu.jpg

Kata-kata manis pedagang makanan itu sudah biasa digelar. Entahlah, pengalaman saya kok mengatakan, makin manis kata-katanya, makin rusak rasa makanannya. Maka kata-kata bujukan yang menawarkan kepadatan susu dan kemantapan rasa saya hindari.

rantai.jpg

Kadang prihatin juga melihat kondisi objek wisata, entah itu karena soal kebersihan atau karena soal kelengkapan objek wisata. Kebiasaan mengutil tidak hanya berlaku di pusat perbelanjaan rupanya. Kursi-kursi bersejarah di tempat perundingan Linggarjati misalnya, sampai harus dirantai agar tak dipindah-pindah atau bahkan diangkut. Menganggu pemandangan memang, tapi ya bagaimana lagi? Wong patung segede gardu hansip saja bisa lenyap kok.

tiga.jpg

Kawan ber-jeng jeng. Jika Zam biasanya ber-jeng jeng bersama Didit atau Annots, saya juga tak ingin ber-jeng jeng sendiri saja. Kawan ber-jeng jeng ini adalah faktor penting untuk saya yang pemalas. Tanpa kawan, bisa-bisa saya malah ndak ke mana-mana. Jika tahun lalu ada Nana dan Tito yang menemani saya dan anakanak berlibur di Yogya, kali ini ada Jeni, keluarga Pak Koes dan Gita yang menyertai perjalanan.

Libur akhir tahun sampeyan sendiri bagaimana? Atau malah ndak liburan sama sekali? Jangan kerja terus, nanti kalau kaya malah bingung.

Selamat Tahun Baru 2008

Join the Conversation

24 Comments

  1. wah padahal saya mengharap gambar potongan keramik bakalan muncul dipostingan, lha kok malah foto saya yg nongol. jan mateni pasaran :))

  2. liburannya seru, memang saat yang tepat buat melepas kejenuhan setelah setahun megawe, tapi saya setahun kerja terus tapi kok masih belum bisa jengjeng ya sir? apa yg salah ya?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *