1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Archive for January, 2008

Giliran Goyang Loyo

gigolo1.jpg

Penghargaan untuk kejelian harus diberikan kepada Zam sang raja jeng jeng. Demikian pula dengan kecepatannya memotret. Gambar tempel bertuliskan GIGOLO yang ternyata merupakan singkatan dari Giliran Goyang Loyo itu terpampang di bagian depan sepeda motor, lengkap dengan gambar perempuan berkutang merah jambu yang serasi dengan warna rambutnya. Saya mengira itu gambar Little Mermaid. Entah kenapa gigolo gambarnya kok perempuan.

Gigolo, pekerja seks komersial berjenis kelamin laki-laki, boleh jadi tak setenar rekannya yang berjenis kelamin perempuan. Toh masih banyak yang berpandangan bahwa pekerja seks itu ya hanya perempuan dan laki-laki itu hanya pengguna.

Bukaaaaaaan, saya tidak menawarkan dagangan. Perkara begini Pak Kolonel Pitu lebih tahu dan saudara Pitik serta Endik lebih selidik.

Foto oleh Zam.

Continue Reading 27 Comments

Kolam Gundik agar tak Gudik

Ada-ada saja kenangan yang bisa digali dari foto-foto lama. Sebuah hotel berbintang banyak di Chengdu, Cina, memiliki sebuah spa yang diberi nama “Imperial Concubine Pond”.

concubine.jpg

Pemilihan nama? Ah, mungkin ini soal erotisme lawas yang masih laku dijual saja, walaupun saya yakin para gundik Kaisar Cina ya ndak pernah kungkum bareng di situ. Soal pemilihan kata yang langsung-langsung begitu, “concubine”, lha ya biar saja toh ya, kejelasan adalah faktor utama. Ndak perlu pakai bungkus yang njelimet, muter-muter dan bikin bingung. Begitu?

Continue Reading 14 Comments

Tempat yang Tepat

mesra.jpg

Alih fungsi itu sudah jamak terjadi. Tengok saja Kebun Raya Bogor yang asri itu. Tempat di mana mestinya kita dapat belajar anatomi tumbuhan, toh di beberapa tempat menjadi ajang belajar anatomi tubuh manusia.

Pemberitahuan perkara “bermesraan” itu pertama saya dengar dari Gage. Ada sebuah tempat makan di Bogor yang memasangnya di beberapa tempat di dalam rumah makan itu. Saya sendiri datang ke rumah makan itu bukan dengan tujuan untuk bermesraan, walaupun pada akhirnya saya bersantap bersama istri dengan santai tapi mesra.

Di sini bukan tempat yang tepat untuk bermesraan. Lantas, tepatnya di mana?

Continue Reading 27 Comments

Renyah Percuma

krupuk.jpg

kriuk ………..

Continue Reading 24 Comments

Kota Sunyi

Tadi malam saya baru sadar betapa sepinya Tokyo ini walaupun disesaki oleh lebih dari 12 juta jiwa — itu baru orang lho, belum kalo yang bukan orang ikut dihitung bisa berlipat-lipat jadinya. Sepi terutama untuk saya. Di tempat ini saya bisu (nggak bisa ngomong Jepang), tuli (nggak ngerti orang Jepang ngomong apa) dan buta huruf (nggak bisa baca tulisan Jepang), maklum saya dipindah mendadak ke tempat ini.

Lepas dari semua keterbatasan saya itu, Tokyo adalah kota yang sunyi. Tidak percaya? mari ikut saya pulang dari kantor. Kantor saya ada di Shinjuku dan stasiun kereta Shinjuku yang katanya disesaki oleh lebih dari 3 juta orang per-harinya itu adalah tujuan pertama. Orang mengalir seperti air bah, serba cepat, tetapi suara paling keras di stasiun itu adalah suara hentakan sepatu. Semua orang bergegas dengan ekspresi wajah yang nyaris sama, dingin, pandangan lurus ke depan, mulut terkatup rapat, kecuali mulut saya yang ndlongop dan pandangan mata saya yang pecicilan lirik sana lirik sini.

Continue Reading 38 Comments

Ndobosan lama |