Kota Sunyi
Tadi malam saya baru sadar betapa sepinya Tokyo ini walaupun disesaki oleh lebih dari 12 juta jiwa — itu baru orang lho, belum kalo yang bukan orang ikut dihitung bisa berlipat-lipat jadinya. Sepi terutama untuk saya. Di tempat ini saya bisu (nggak bisa ngomong Jepang), tuli (nggak ngerti orang Jepang ngomong apa) dan buta huruf (nggak bisa baca tulisan Jepang), maklum saya dipindah mendadak ke tempat ini.
Lepas dari semua keterbatasan saya itu, Tokyo adalah kota yang sunyi. Tidak percaya? mari ikut saya pulang dari kantor. Kantor saya ada di Shinjuku dan stasiun kereta Shinjuku yang katanya disesaki oleh lebih dari 3 juta orang per-harinya itu adalah tujuan pertama. Orang mengalir seperti air bah, serba cepat, tetapi suara paling keras di stasiun itu adalah suara hentakan sepatu. Semua orang bergegas dengan ekspresi wajah yang nyaris sama, dingin, pandangan lurus ke depan, mulut terkatup rapat, kecuali mulut saya yang ndlongop dan pandangan mata saya yang pecicilan lirik sana lirik sini.
Tiba di peron, antrian biasanya sudah panjang. Ngantrinya tertib tapi ya itu tadi, semua diam. Sibuk dengan bacaan, menceti tombol-tombol hp atau cuma ngelamun. Kalaupun ada yang ngobrol, sayup-sayup. Suara roda-roda kereta, pengumuman kedatangan dan keberangkatan kereta adalah suara yang dominan. Begitu kereta tiba, seperti botol minuman bersoda yang baru dikocok dan lantas tutupnya dibuka, orang-orang muncrat dari dalam gerbong. Masih tanpa suara.
Giliran yang masuk sekarang, dalam hitungan detik gerbong sudah penuh. Berdesak-desakan, full body contact. Kasian yang habis belanja tomat, mesti sampe rumah itu tomat sudah jadi jus. Pintu kereta ditutup….banyak wajah-wajah yang menempel di kaca …. persis seperti ikan sapu-sapu di akuarium. Semua diam, tak ada suara semisal “hwadooooooh” …. “hooooooi kejepit neeeeh” …. “penuhh paaaak penuuuuh” ….. “iiiiiih, apaan sih inih” …. “sapa yang kentut!!!”.
Setengah jam lebih saya bakal ada di dalam kereta sunyi itu. Ada yang tidur, ada yang baca, ada yang mainan hp, ada yang ndlongop …. saya itu. Poster-poster iklan dalam kereta yang jumlahnya banyak nian itu seolah-olah ingin mengajak ngobrol, tapi saya ndak ngerti. Ya sudah….saya balas saja senyum para poster itu. Kereta berhenti di beberapa stasiun, orang keluar masuk, himpitan makin lama makin longgar. Sesekali terdengar ada yang menghela napas, mungkin karena merasa lega.
Sudah tiba, keluar gerbong beramai-ramai dan mulai terjadi antrian di tangga. Semua masih diam. Sekarang berjalan menuju halte bus dan mengantri lagi. Coba perhatikan sekeliling. Ada warung 7-Eleven yang buka 24 jam itu, ada McDonald’s dan ada KFC … penuh semua. Warung-warung itu, saya menyebutnya kedutaan besar Amerika Serikat, punya pengaruh besar di Jepang. Warung McDonald’s pertama di Asia dibuka di Jepang, 40% warung 7-Eleven di dunia ada di Jepang dan Pak jenggot Colonel Sanders dikenal sebagai “Mister Fried Chicken” di Jepang. Terry Sanders, sang pemenang Oscar dua kali, pernah membuat film tentang McDonald’s di Jepang ini yang lantas diberi judul “The Japan Project: Made in America”.
Mobil-mobil lalu-lalang di jalan, nggak ada suara klakson. Antrian itu …. 7 perempuan 3 laki-laki, saya laki-laki ke empat dalam barisan. Perempuan Jepang bekerja di luar rumah adalah hal yang umum sekarang, walaupun entah kenapa jika berjalan bersama rekannya yang laki-laki mereka langsung bergeser sedikit ke belakang, mungkin jalan beriringan dengan laki-laki itu adalah hal yang tidak pantas. Teman perempuan sekantor saya juga begitu, kalau saya melambatkan jalan, dia juga menyesuaikan kecepatan jalannya, saya belum coba apakah kalau saya lari dia juga ikut lari. Ya sudahlah, mungkin memang saya lebih menarik kalau dilihat dari belakang, begitu pikir saya.
Bus itu datang, bus nomer 21 malam ini. Semua antri tertib masuk, membayar atau memasukan kartu magnetik sebesar kartu telepon. Sang supir bolak balik bilang terima kasih, tanpa ada yang menyahut, hanya dia yang bicara, saya juga diam tak menjawab ucapan terima kasihnya, takut nanti dia malah kaget. Saya duduk di belakang, tak lama, ada seorang perempuan mengangkuk ke saya, saya balas mengangguk sambil tersenyum, dia nggak senyum dan lantas duduk di samping saya. Suara perempuan yang telah direkam sebelumnya terus nyerocos sepanjang perjalanan, entah apa yang diomongkannya. Tidak sampai 10 menit, saya sudah tiba. Tempat tinggal saya masih kira-kira empat ratus meter lagi dan hari sudah larut. Negeri ini memang sepi.
Sampeyan apa pernah minum jus tomat hasil dempet-dempetan? Blender sunyi.
* ini tulisan diterbitkan ulang, aslinya ada di sini.
38 orang ikut ndobos
24 January 2008 10:39:43
aprikot
yah mungkin itulah yg dinamakan sepi ditengah keramaian
niwei hobi kok ndlongop
24 January 2008 10:54:57
komikus keren
seping ing pamrih, rame ing gawe ….
24 January 2008 10:55:28
kw
makin metropolis makin individualis ya?
24 January 2008 10:55:47
komikus keren
wah kleru. kudune: sepi ing pamrih, rame ndobose
24 January 2008 11:04:00
detnot
apa bedanya sama hutan ya pak dhe?
kalo sepi nyenyet kaya begitu……heeheue
24 January 2008 11:12:23
soyuz
tak pikir saya doank yg mengira kota ini adalah kota yg sunyi. saya juga sempet berpikir disini yg kita lihat itu bukan orang, tapi cyborg :d
24 January 2008 11:58:41
iway
dan itu tiap hari ya pakdhe, masih mendingan krl donk, warna-warni
24 January 2008 12:40:55
Moes Jum
salah Kang … itu sepi karena gak mendem. Coba sampeyan ke pub dan bar … nahh di sana itu ribut banget. Kayaknya mereka baru ngoceh kalo sudah mabuk. Kaciaan deh luu ….
24 January 2008 13:00:22
dewi
saya seringkali kagum sama orang negeri itu. di negerinya mereka begitu diam, tapi klo lagi berwisata kesini, kenapa nyrocos kek bebek yah? atau jangan2 dsana emang ada larangan untuk berbicara, pakdhe?
24 January 2008 13:34:36
pitik
itu cerita pas sampeyan jadi jugunianfu ya om?wah..memang sengsara jadi jugunianfu itu..
24 January 2008 14:44:09
yudhi
dari hutan kayu yang penunggunya adalah para kewan2,ujug2 pindah ke hutan beton dengan penunggunya adalah robot.hahahaa.pantes sampeyan itu kayanya kerasan sekarang ini di tempat yang penunggunya setengah robot dan setengah kewan
24 January 2008 15:03:52
extremusmilitis
Wah,m se-andai-nya di Indonesia seperti itu Pak Dhe, pasti akan sangat menyenang-kan dan tertib…se-andai-nya…
Tapi, kalau nggak pada ribut juga, itu ber-arti nama-nya bukan Indonesia dong Pak Dhe
24 January 2008 15:03:57
pnsgila
Jadi inget film lost in translation…
24 January 2008 15:29:18
anima
ah, aku bener-bener pengen kesana ngerasain apa yang bapak bilang
24 January 2008 16:02:27
annots
pakdhe-pakdhe, kalo ini bener2 tulasan seorang ndobos, ndoyok ala bos. Ndoyok kalo saya paling ya ngikut Zam ke candi, ga pernah sampe tokyo
24 January 2008 17:20:47
lei
mulutnya diem tapi bnyk hasil karyanya..
24 January 2008 18:03:49
yati
hmmm…kangen jepang ya? kok diposting lagi? atau di sini terlalu riuh?
24 January 2008 19:40:42
didut
kya … shinjuku ..kangen odakyu-sen!!!
24 January 2008 20:42:37
pacul
nang jepang 2 th ora bisa basa jepang……hmmmmmmmmm.
24 January 2008 21:11:25
Penggemar wanita Jepang
….dan KFC serta McDonnald pertama yang punya paket nasi adalah gerainya yg di Jepang
25 January 2008 08:10:29
stey
Ini yang bikin saya pengen ke Jepang Pakdhe..negara kok bisa segitu teraturnya..yah selain the fact kalo saya crazy about Laruku sih Pakdhe.hehehe..*nyengir iblis*
25 January 2008 11:13:17
ebeSS
baca judulnya . . dah siap2 mikir oleh2 . . .
disini ya sepi kok sir . . . ndak percaya?
ramenya ya klo ada oleh2 itu . . .
25 January 2008 13:10:06
maya
lah Ndoro kan yang mestinya datang untuk “MEMBUNUH SEPI” itu?
25 January 2008 14:17:43
sluman slumun slamet
ketemu miyabi gak?

25 January 2008 14:26:22
escoret
di situ ada tambal ban ga ya..???
*siap2 buka tambal ban cabang di jepang*
25 January 2008 15:25:48
gatotburisrowo
lha sampean balik nang tokio lagi?????bosen naik pakuan, cari KRL lain ya????
25 January 2008 15:30:37
gatotburisrowo
ealah, ternyata re-run ya????
25 January 2008 16:56:28
suprie
wah pakde… sayah pengen banget ke jepang… jadi ngiri…
25 January 2008 17:10:56
mpokb
hm, kesannya manusianya dingin yak. tapi kalo di komik atau film kok beda banget… btw, nggak kangen2an sama putri dan pangeran yg lagi berkunjung pak?
25 January 2008 17:27:49
dee
salam kenal pakdhe..
baca tulisannya langsung ingat film Lost in Translation. Waktu nonton film itu, terasa sekali sepinya scarlet di sono..ya kaya pakdhe itu lah kali ya..
tapi kalo bagian yang ini:
“Ya sudahlah, mungkin memang saya lebih menarik kalau dilihat dari belakang, begitu pikir saya.”
no comment deh :p
25 January 2008 21:07:33
mariskova
Ngikut Pacul: belum bisa juga bahasa Jepang?
*nggeleng-geleng kepala*
25 January 2008 23:53:16
Wazeen
Saya pernah Pak Mbilung, saya pernah minum jus tomat seksi hasil blenderan itu
26 January 2008 00:43:53
mbakDos
tiwas… dikira lagi di sana!
tapi kalo mengingat kondisi sekarang, jadi pengen pindah ke tokyo juga. sebentar aja tapinya, dan gak pake panjenengan
26 January 2008 07:05:13
didi
kalo pulang dari jkt ke bogor pripun sir?
26 January 2008 16:45:21
Nazieb
Lha.. saya kira ini postingnya dari Jepun sono..
Ternyata repost toh..
Haik.. haik..
01 February 2008 16:33:06
Lik Tri
Lho, lha kok kang Mbilung tahu kalo sopinya ngomong terimakasih. Emang dia ngomong apa? arigato? arigatel?…. atawa ari daek mah kadieu wae….
09 February 2008 23:10:21
kenji
kagak sepi kok sebenarnya… klo mo ngajak ngobrol, coba tanya orang2 yang lansia. yang muda2 memang tenggelam dalam rutinitas kesibukan mereka.
anyway, klo mo ribut, datang ke tokyo pas summer…. bikini2 girl di sana berisik dan agresif pisan
12 February 2008 23:59:15
Lintang
hehehe..setujuuuu…saya tiap hari lewat shinjuku lho (T_T) dan kalau lagi naik kereta, ipod itu kebutuhan pokok bagi saya, soalnya kalau gak ada ipod, saya bisa terbunuh kesunyian seperti yang diceritakan diatas..