1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Archive for February, 2008

Urat Budak

minum.jpg

Namanya juga pegawai baru, maka pertanyaan baik yang terucap maupun tidak ya masih sering muncul. Apa ini? Lho, kok begini? Kok bisa? Penyesuaian diri memang perlu waktu. Sejauh ini, baik-baik saja sebetulnya. Teman-teman di kantor baru juga dengan sabar menjawab pertanyaan saya yang ngeyel dan ngeselin yang saya kemas dengan nama penyesuaian diri itu tadi.

Ada satu hal yang kelihatannya sepele, dan mestinya dengan cepat bisa saya atasi, adalah soal dilayani. Saban pagi, begitu saya memasuki ruang kerja saya, sudah tersedia segelas air putih (dingin) dan secangkir kopi (panas). Saya sempat protes halus kepada teman sekerja saya sang office boy itu. “Mas, ndak usah dibuatkan, biar nanti saya bikin sendiri saja di dapur”. Teman itu dengan sopan menjawab “Jangan Pak, ini tugas saya”. Lantas saya mencoba berdamai dengan rasa tidak nyaman itu.

Continue Reading 34 Comments

Kantung Semar

nepenthes_hamata.jpg

Tanaman pemakan daging, begitu dulu saya diberi tahu perkara kantung semar. Lama kemudian baru saya sempat melihat sang pemakan daging di hutan Kalimantan. Wujudnya tidak seram seperti julukannya, terlihat cantik malah. Tak heran jika kemudian kantung semar ini lantas menjadi koleksi tanaman hias berharga puluhan hingga ratusan ribu rupiah. Bagi yang senang, kantung semar adalah tumbuhan yang cantik, menarik, menawan hati, walaupun namanya bukan Diana si putri paman petani. Tetapi di balik kecantikannya, kantung semar hidup di lingkungan penuh derita. Dia tumbuh di tanah yang miskin hara dan/atau tanah yang terlalu asam.

Continue Reading 57 Comments

Karya Para Burung Hantu

satu.jpg

Ya, kemarin itu Gage ada berkunjung ke tempat saya, tetapi bukan untuk cengengesan atau jemur-jemur. Lha wong orang itu apa yang mau dijemur? Kalau ikan asin sih dijemur laku, sementara Gage itu jika dijemur apa ndak semakin jomblo? Singkatnya, Gage berkunjung untuk saya perhamba.

Continue Reading 51 Comments

Citra

Pak, jangan menyewa di sini. Ndak pantas bapak tinggal di sini. Tempatnya jelek.

Kira-kira begitu potongan ucapan bapak tua itu kepada saya, ketika saya datang menengok tempat yang ditawarkan untuk disewakan. Kamarnya tak begitu besar, dengan kamar mandi di dalam, hanya ada satu tempat tidur di dalamnya. Harganya relatif murah, sangat murah malah. Tetapi batin saya malah bersorak girang karena ditolak begitu, “akhirnya ada juga yang menganggap saya bangsawan“, begitu kata saya dalam hati. Biasanya komentar yang dilontarkan adalah “waaaah, ndak pantas kamu tinggal di sini, tempat itu terlalu bagus buatmu“.

Continue Reading 39 Comments

Kami Masih Seperti yang Dulu

“Ada apa antara sampeyan dengan ndoro?”, begitu ada yang bertanya. “Mengapa saling serang di blog?” begitu lanjutnya. Sik to le, ini ada apa to? Lha wong saya sama ndoro ya masih seperti yang dulu kok. Paling tidak saya masih mencari damai bersama bayangannya. Untuk itu hatipun rela berkorban, demi keutuhan kau dan aku (dipetik dari lirik lagu lawas “Tak Ingin Sendiri”).

Continue Reading 38 Comments

Ndobosan lama |