Menertawakan Kesialan
One does not forget how to swim, or ride a bike. Sekali bisa berenang atau naik sepeda, tak akan pernah lupa. Ndobos!!!
Beberapa belas tahun yang lalu, pada saat saya masih yayang-yayangan (sekarang yayang beneran) sama perempuan yang akhirnya menjadi istri saya itu, kegesitan saya mengendarai stang lurus (sepeda motor) memang tak layak puji, gesit standard lah. Entah berapa kali itu dengkulnya terantuk tonggak besi yang dijadikan saringan mobil di ujung sebuah jalan di Bandung.
Sudah lama sekali saya tak menyupiri kendaraan stang lurus dan selalu pakai kendaraan stang bulat (mobil). Perubahan karoseri badan (sekarang berat depan) ternyata juga merusak keseimbangan tubuh. Maka wajar saja jika ganjaran untuk berani-berani mencoba kembali mengendarai stang lurus adalah terkapar di jalan, dan menjadi objek tertawaan banyak orang. Malu? Terhina? Ah, tidak, saya menganggapnya sebagai keberhasilan saya menghibur mereka … bajindal !!!
Lantas? ini soal apa? Ini soal menyikapi kesialan. Adalah Charlie Chaplin, sang pelucu tersohor dari Inggris yang menjadi bintang jaman film masih bisu. Tokoh yang dimainkannya selalu sial, korban dari keadaan walaupun pada akhirnya semua berbalik menjadi keberuntungan di pihaknya pada akhir cerita. Kesialan itu yang menjadi bahan jualannya. Pengakuan atas kelucuan film-film Charlie Chaplin seolah menjadi pengakuan betapa lucunya kesialan yang dialami orang lain itu. Sementara kesialan yang dialami diri sendiri, ratapi saja.
Chaplin tidak sendiri. Ada juga Abbott dan Costello, sementara untuk kelas lokal ada Doyok dan Kadir. Ada banyak macam kesialan yang dialami oleh orang lain yang bisa mengundang tawa spontan. Apakah yang tertimpa musibah menanggapinya dengan merengut atau malah ikut tertawa, itu urusannya dia. Lantas saya bagaimana dengan kesialan yang saya alami itu? Saya ikut tertawa ngakak.
19 orang ikut ndobos
01 March 2008 20:49:05
dewi
tertawa bukan untuk menutupi malu, sir? hihihi. jadi sudah ada sepeda ber stang lurus toh? darimana kemana, kirain kesandung ajah udah nyampe, bukan?
01 March 2008 20:49:15
Pacul
kurang skrinsyute kie………
wah..sukuran kie…sukuuuur..sukuuuur
01 March 2008 21:00:50
venus
perlu dibantu ngetawain situ, gak? :p
*ah, how i love hitting this Owkey button
01 March 2008 21:40:50
kardjo
Waktu Sir terkapar, ada cewek bule yang menolong ga?
01 March 2008 22:00:00
Totok Sugianto
wah sampeyan gak biasa nyetir stang lurus yo pakde.. nanti lain kali motornya diganti stang mobil gimana? kan kalo stang bundar udah biasa
01 March 2008 22:02:22
yoki
makanya karoserinya di permak lagi dung jadi berat depan, belakang, dan rata samping…seimbang kan?
01 March 2008 22:30:15
komikus keren
berarti situ mirip tukul, hobine mentertawakan diri sendiri
01 March 2008 22:44:10
kw
hebat, bisa mentertawakan kesialan sendiri. saya perlu waktu lama banget untuk sampai ke situ.
02 March 2008 00:44:12
mbakDos
kalo merasa senasib dengan panjenengan, itu sepertinya layak disebut kesiyalan gitu?!
02 March 2008 01:09:29
-=«GoenRock®»=-
Ada lagi yang menjual kesialan, Jaleel White yang berperan jadi Steve Urkel dalam Family Matters. Serial TV favorit saya waktu masih SMP
02 March 2008 02:00:59
-tikabanget-
tiap hari sayah ngakak ngakak aja inih kerjaannya
sial mulu. ktawa mulu.
wakakkaakak..
02 March 2008 03:06:31
yuswae
Kayaknya Pak De ndak konsentrasi karena terlalu banyak makhluk seksi di bali.
02 March 2008 04:08:45
Gage Batubara
wah.. pasti sudah sembuh, kan dokternya udah comment tuh… xixixixi…
02 March 2008 14:18:17
yati
hahaha….jadi, jalannya masih kayak pocong?
02 March 2008 23:39:47
Hedi
sudah kaya kok masih milih stang lurus
03 March 2008 09:05:43
bangsari
sial kok sugih?
03 March 2008 10:54:07
mikow
tertawalah sebelum dilarang
03 March 2008 19:24:21
Nazieb
Mulut tertawa hati menangis..
07 March 2008 21:26:03
sogol
hidup memang penuh dengan cobaan dan kegetiran