Pedapa

pedapa.jpgPada jaman masih sekolah di SMP, yang namanya waktu pelajaran Bahasa Inggris adalah waktunya ngabur dari kelas. Pelajaran Bahasa Inggris sama statusnya dengan bel pulang sekolah atau bel istirahat. Inilah waktunya meninggalkan kelas tanpa perlu ijin. Nilai yang saya peroleh di raport untuk pelajaran ini, 3.

Siapa yang saya salahkan waktu itu? Gurunya (maaf Pak Guru, tapi sampeyan ngeselin sih). Adilkah? Mungkin saja, karena dari sekian puluh murid di kelas, lebih dari setengahnya mendapat nilai di bawah 5. Itu artinya, gurunya tidak bisa menyampaikan materi pelajarannya dengan benar. Bagi saya, tidak ada yang namanya murid bodoh.

Bagaimana suatu hal disampaikan adalah faktor penentu bagi seberapa gampang hal yang disampaikan itu nantinya dipahami. Pada kasus saya dengan pelajaran Bahasa Inggris di SMP, penyampaian dengan menggunakan alat bantu pemukul rotan, penghapus papan tulis yang dialih fungsikan menjadi proyektil dan kata-kata kaku, benar-benar membunuh nafsu belajar saya (kami).

Jaman sudah berganti. Maka, kehadiran (atau tepatnya hidup kembalinya) sebuah media untuk belajar Bahasa Inggris seperti Pedapa, haruslah saya sambut dengan keriangan. Lho? apakah saya maih membutuhkan diajari Bahasa Inggris. Saya jawab, amat sangat masih. Selamat ya na, ijinkan saya menjura takzim.

Untuk sampeyan semua, datanglah ke sana, dan janganlah segan bertanya. Ibu gurunya jinak kok.

Join the Conversation

18 Comments

  1. jaman dulu memang nilai asli apa adanya. nilai 3 ya ditulis 3. kalo skrg di raport ya paling guoblok bisa dpt 5, dan nilai berkisar 6 7 8… hahahahahaha

  2. aku senang belajar bahasa inggeris. senang sekali meski nilai tetep jelek. saya seneng dengerin aksen nya yang unik. bahasa bahasa daerah juga seneng dengerin…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *