Bon Appétit

sajian21.jpg

Cari makan di Sanur itu gampang, tempat makan pating telecek, ada di mana-mana. Mau makanan jenis apa? Dari mulai makanan mentah sampai makanan gosong ya ada. Dari mulai nasi campur sampai makanan yang namanya saya ndak bisa melafalkannya ya ada. Suasana tempat bersantapnya juga beragam. Mau yang terang benderang , formal, atau yang terbuka di bawah pohon kelapa yang buahnya rajin dipetiki, ada.

Senang mestinya. Tetapi tunggu dulu. Ada rupa ada harga, walaupun sering juga harga dan rasa tak berkorelasi postif. Di sebuah rumah makan yang padat orang asing itu, begitu daftar menu dibuka, pisuhan bisa langsung mencolot (paling tidak dalam hati), “Madam Drembo!!!! lha kok ini gado-gado segini harganya?”

Tempat bersantap yang lebih ramah kepada calon pengunjung, mencantumkan menu beserta harganya di luar pintu tempat bersantap. Calon pengunjung punya kesempatan untuk mengukur daya belinya dan bisa meninggalkan tempat tersebut tanpa harus mengundang tatapan penyantap lainnya.

Saya ingat pada satu waktu di Dili. Tempat makan itu juga dipadati oleh banyak orang asing. Teman saya makan yang orang asli Timor, malah clingak-clinguk canggung. Tempat itu asing untuk dia, walaupun ada di tanahnya. Soal harga, dia juga tak habis pikir.

Perkara mahal dan murah itu katanya relatif. Baiklah, saya tak akan berbantah soal ini. Toh tak ada juga yang memaksa saya untuk memesan. Suka ya dibeli, tak suka ya tinggal minggat. Bagi para pelancong dari negara bermata uang kuat, apa yang ditawarkan dirasa murah. Sementara bagi para pemburu Rupiah, terutama para penghamba volume santapan, bisa lain urusannya. Bagi pedagang? Ah, kalau bisa jual mahal, kenapa jual murah.

Maka, jika masih ada yang nongkrong di trotoar sambil menikmati nasi goreng yang dijajakan dengan gerobak dorong, itu hanyalah masalah willingness to pay saja. Bon appétit.

Join the Conversation

31 Comments

  1. waduh, kene nongkrong dan makan di pinggir jalan mergo keadaan je. ya gimana lagi, nasib kaya je. sesekali kami pengin juga makan yang murah. buat nostalgia gitu. hahaha

  2. kayaknya ini salah satu alasan saya lebih suka mengunjungi jogja daripada bali. lebih bersahabat ( pada kantong ).

  3. Mbali ncen opo2 larang, nyang Solo mas mbilung nek mung arep ngawulo weteng dijamin ora ngentek’ké duwit

  4. orang2 banyak duit kadang bukan cari kenyang mas..
    mereka cari nama n gengsi…

    n bagi kita (aq?) yg volume lebih penting…he he he
    abang2 dorongan juga wenaaaakkkk

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *