Hak Mencari Nafkah

Ruang adalah sumberdaya, ada harganya, terutama di kota besar seperti Jakarta. Pemanfaatan ruang menjadi topik bahasan yang selalu hangat diperbincangkan. Sebagai mahluk daratan, lahan yang telah penuh menggiring orang untuk berpikir menguruk laut, atau memaksimalkan lahan yang ada, misalnya dengan membangun tempat hunian ke atas (vertikal).
Ruang dalam gedung-gedung bertingkat yang harga jual dan sewanya dihitung per meter persegi tak luput dari upaya maksimalisasi tersebut. Maka ruang “kosong” di depan pintu lift lantai tujuh pada sebuah gedung yang dipakai oleh sebuah departmen pemerintahan tidak lagi kosong dan hanya berisi seorang satpam bermimik bosan. Ada “pasar” kecil di situ.
Apa saja yang dijual? Ada jasa membuat photo copy, menjual barang-barang seperti di warung, menjual voucher pulsa telepon genggam, menjual alat-alat masak dan yang baru saya jumpai kemarin adalah menjual perangkat hiburan organ tunggal. Alat masak dan organ bisa dicicil, pulsa dan photo copy tunai urusannya.
Saya sendiri tak tahu bagaimana hitung-hitungan bisnisnya, saya hanya menduga mestinya untung, wong pasar itu ndak pernah kosong penjual dan selalu ramai dirubung orang banyak terutama pada jam-jam istirahat makan siang. Keramaian begini kadang juga mengundang jengkel pemakai gedung yang lain. Penjaja organ tunggal memamerkan kehebatan barang dagangannya dengan memberi kesempatan kepada calon pembeli untuk menyanyi diiringi organ yang dimainkan oleh sang penjual.
Hiburan? Bisa jadi begitu, jika dan hanya jika suara sang penyanyi enak di telinga dan keseluruhan hiburan dikumandangkan dengan volume yang pas. Sayangnya yang begini ini belum terjadi. Teguran sopan untuk mengecilkan suara biasanya disambut dengan raut wajah tak sedap pandang dan dianggap mengganggu proses mencari nafkah.
Begitulah jaman sekarang, makin banyak yang kusut, makin banyak yang berkata “Jangan ganggu saya. Saya lagi cari makan, karena saya punya hak. Kalau situ merasa terganggu, itu urusan situ, bukan urusan saya”. Oooo soal hak toh? lha, kewajibannya mana?
25 orang ikut ndobos
16 April 2008 15:47:49
venus
ini sebenernya ya mesakke, tapi kok ya agak2 mengganggu ya? susah juga…
16 April 2008 15:49:25
pema
Wah…cosmolitan effects
16 April 2008 15:57:15
suprie
mmm… kadang menganggu kadang menghibur, tapi itu kan relatif pakdhe
16 April 2008 15:59:05
ebeSS
harusnya diatur kek blogosphere ini ya sir . . . . !
ndobos sak kempesnya nggak ganggu orang lain . . .
mo mampir ya silahkan, nggak suka ya silahkan minggat . . .
16 April 2008 16:08:07
yati
astagaaa….setiap centi ruang ga lagi membebaskan. ckckck…bisa mandi duit kalo punya gedung ya
16 April 2008 16:16:19
kw
di pantry pabrik, di sebelah deretan wadah-wadah gula, kopi dan teh setiap pagi tersedia makanan cukup ringan macam kue basah. siapa yang minat ambil, langsung bayar. tak ada yang nungguin.
asyik sebenarnya. andai kesiangan tak perlu sarapan di tempat kos.
sayang hak mencari nafkah itu tak di barengi dengan “kewajiban membayar. saya dan kalian pasti heran, di sebuah pabrik yang isinya orang dewasa semua, sudah berpendapatan tapi tetap saja ada yang tak mau membayar. (apa pun alasannya).
sehingga beberapa pencari nafkah (tambahan ) yang berusaha mengadu peruntungan itu lebih memilih berhenti. ini memalukan, tapi faktanya memang seperti itu.
16 April 2008 16:37:07
mikow
Suasananya mirip di pabrikku
16 April 2008 16:49:27
nina
kewajiban lagi ngungsi bos, kena gusur karena buka warung sembarangan di jembatan layang ….. hehehee ….
16 April 2008 16:53:09
ngodod
menjadi arif adalah penting untuk bisa tetap menjaga keseimbangan antara kepentingan personal dan publik.
16 April 2008 17:06:43
JalanSutera dot Com
iya yah, kita sering menuntut hak terlalu banyak, bahkan ketika kewajiban belum kita laksanakan. sigh…
16 April 2008 17:09:36
iway
saya rasa itu masuk kocek-nya pengelola gedung, dan bebas pajak tentunya
16 April 2008 17:32:17
sahrudin
Mencari nafkah itu bukan hak…bang,,,,
Tapi kewajiban kita selaku manusia….
tapi inget,,,,harus saling menghargai….titik….
jangan asal sikut sana sikut sini….he..he
16 April 2008 17:56:34
nonadita
di mana sih itu di manaaa???
*mau foto bareng*
16 April 2008 18:45:52
yok
kita ini udah kebanyakan orang pakde…sedikit tanah buat digarap…akhirnya ya gini…makanya..pada pake kondom dong
16 April 2008 22:09:36
Goenawan Lee
Komen ini urusan saya, bukan urusan sampeyan….
16 April 2008 22:35:55
Hedi
masih enak itu, karena cari untung berarti bisa kita kasih duit supaya diam (jangan berisik)
16 April 2008 23:21:50
matahari
antara perut dan utopia hidup yg manusiawi. di mana letak ujung dari benang kusut ini? di perut, gw kira.
16 April 2008 23:22:17
mbakDos
ndak ikut nyanyi aja di sebelah organ tunggalnya?
17 April 2008 14:03:59
diditjogja
wes pokoke asal payu sugih lak yo trus gak mikir liane, lumrah
17 April 2008 16:41:17
restlessangel
dilema PKL juga ya ??
demi perut katanya…..walo kmd mrk seenaknya pake saluran air hujan utk buang sampah, dll.
spt preman jalanan alias tukang parkir itu juga, ga, pakdhe ??
demi perut katanya….
seperti juga supir bis kota dan angkot yg ugal2an di jalan ??
demi perut juga kan, ya ??
sampe bikin macet, nyaris bikin celaka orang lain.
kalo yg korupsi milyaran itu, demi apa ya ??
demi LV, demi apartemen di oz, demi ferrarri terbaru ato demikian ya???
17 April 2008 23:11:53
yoyo kesambet
itu wajar di Jakarta…kalo ndak begitu justru ndak wajar…
(komen ra mutu) hehehe
19 April 2008 11:38:20
kalangkabut
bos besar: “kamu ngeblog terus?”
saya: “biarin…..”
bos besar: “nafkahmu bukan disitu!!”
saya: “biarin….”
21 April 2008 18:41:12
stey
kadang suka bingung dengan mereka, tapi ya itu tadi..kasian..
25 April 2008 08:29:20
raka
Bahkan ada juga yang jualan di rumah sakit, hmm… ada demand ada supply.
20 September 2008 20:52:01
capung
hitung terus………………….epenkah