Tong Kosong Nyaring Bunyinya.

bw.jpg

Sudah lumayan lama saya tidak melakukan hobi satu ini, mengamati burung (birdwatching). Kemampuan mengenal jenis burung di lapangan jelas menurun jauh. Buku panduan untuk mengenali jenis (field guide) kembali harus rajin dibuka. Itulah yang terjadi dua minggu belakangan ini. Dua hari minggu kemaren, saya memaksakan diri untuk kembali melakukan hobi ini. Untungnya, teman-teman mantengin burung di tempat ini sungguh menyenangkan.

Ada letupan kecil keharuan melihat mereka begitu antusias dan penuh tenaga. Jam 7 pagi sudah berada di tempat (sebagian malah belum mandi) dan terus berada di tempat itu hingga tengah hari. Saya ingat jaman saya mulai melakukan kegiatan ini, kegiatan yang membawa saya ke kehidupan yang sekarang. Kalau itu, jumlah npengamat burung masih bisa dihitung dengan jari. Modalnya hanya berani, terutama berani malu. Field Guide hanya punya satu, hasil urunan dan itupun tidak lengkap. Teropong yang merupakan perlengkapan wajib hanya punya satu, dan itupun sudah juling serta buram. Hasilnya kami kirimkan lewat surat (ya … surat yang ditulis dengan tangan dan dikirimkan dengan prangko) ke para ahli burung di luar negeri dengan Bahasa Inggris Teletubies.

Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu dengan orang yang dulu saya kirimi surat itu. Dengan gembira dia menunjukan surat yang saya kirim dulu, sambil ketawa ngakak. “Lihat ini suratmu dulu, bahasamu hancur, hasil pengamatanmu banyak yang ngawur.” Lalu saya bertanya kenapa surat itu dia simpan? “Karena ini laporan hasil pengamatan dari orang Indonesia pertama yang saya terima”, itu jawab dia. Saya membaca ulang surat itu, dan ketawa ngakak. Kok ya berani-beraninya dulu mengirimkan laporan sampah macam itu.

“Surat sampah” itu ternyata membawa saya ke dunia saya yang sekarang ini. Karena sejak itu saya ada menerima keanggotaan ini itu, informasi yang jauh lebih baik dan yang paling penting orang-orang yang secara sukarela mau dijadikan guru.

Di luar dunia burung begini, saya juga punya teman-teman di blog dengan beragam profesi dan latar belakang. Hal yang sama juga terjadi, walaupun beda awalnya. Ke dunia ini saya seperti diseret masuk oleh Ndorokakung. Pakai kursus atau pelatihan bikin blog? ya tidak juga. Dia hanya bilang “Sudah, ndak usah kebanyakan omong, tulis saja. Buat satu tulisan tiap hari, selama setahun, kalau jelek ya paling diolok-olok saja.” Ah, kalau hanya soal diolok-olok sih ndak masalah, wong saya ya juga sering mengolok-olok kok.

Begitulah jurus tong kosong nyaring bunyinya sering saya pakai. Makin kosong harus makin nyaring, agar orang lain tahu kalau ada tong yang kosong. Siapa tahu ada yang berbaik hati mengisi tong itu … dengan olok-olok sekalipun.

Join the Conversation

37 Comments

  1. pak dhe, baca ini jadi pingin ngikut ngamatin burung… kedengarannya menyenangkan. (tapi saya ndak punya teropong. yang juling dan buram saja ndak punya, hehehe). oh ya, katanya di muara angke ada taman burung yang bagus banget. hmm, saya jadi pingin ke sana. bagi-bagi ilmu ngamatin burung dong pak dhe, di blog…

  2. lho sir . . teman tukang racun itu apa memang bilangnya :
    “tos kosong nyaring bunyinya” . . . saya kok nggak yakin dia ngaku ngomong “TOS” . . . . .
    ini pasti nyindir dia kek burung . . . giginya “TOnggoS” . . 😛

    hehehe … typo beSS, sudah saya betulkan. Maturnuwun. -Mbilung-

  3. “surat sampah” berbahasa teletubiesnya di minta gak? at least di scan lah trus dipajang di sini, keren tuh tong kosongnya bakalan cepet penuh dan buat yang muda seperti sayah ini (HALAH!) bisa kebagian inspirasi untuk menjadi tong kosong lainnnya…. opo meneh seh??!!

  4. pakdhe, kira-kira, di mana saya masih bisa liat burung manyar?

    Zen, yang deket-deket Jakarta, coba ke Muara Gembong -Mbilung-

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *