1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Archive for December, 2008

Selamat

Hari ini, tanggal 31 Desember, hari terakhir di tahun 2008 dan pekerjaan saya untuk tahun 2008 masih lumayan banyak yang tersisa untuk diselesaikan. Ah, berpikiran positif sajalah, saya masih punya waktu lebih dari 15 jam.

Untuk sampeyan sekalian, selamat tahun baru 2009. Untuk Bapak di Bandung, 1 Januari Pak … selamat ulang tahun yang ke 73, kadonya minta sama menantumu saja ya.

Continue Reading 35 Comments

Recehan yang Menyenangkan

bannercoin4251.jpg

Uang logam, recehan, itu menyebalkan! Terselip di kantong, sering meyakitkan kalau saya duduk (salahnya pakai celana kok sempit), secara fisik saya telah di(ter)siksa oleh uang logam itu. Uang logam juga tukang bikin gara-gara juga kalau saya melewati pemeriksaan yang menggunakan detektor logam. Alat itu menjerit-jerit, ada uang logam yang maish terselip di kantong tampaknya, lantas lelaki kekar minim senyum menghampir. Buat saya sungguk tidak ada nyaman-nyamannnya diraba-raba lelaki kekar itu.

Sulit untuk menemukan barang yang bisa saya beli dengan satu uang logam, kecuali di tempat-tempat khusus seperti di Yogja misalnya. Jika mendapat uang kembalian berupa uang logam, saya biasanya memilih untuk menambah belanjaan saya agar uang logamnya terbelanjakan. Biasanya saya memerlukan beberapa uang logam untuk membeli barang atau jasa. Jika uang logamnya hanya satu, sulit juga “membuang”nya. Pengamen sering cemberut jika diberi uang logam, padahal pada saat dia menyanyi secara paksa di depan saya, dia sudah membuat saya cemberut. Sungguh tidak adil.

Singkat kata, bagi saya uang logam itu mengesalkan. Biasanya uang logam itu saya kumpulkan saja di dalam sebuah wadah. Niat awalnya, jika sudah terkumpul agak banyak, akan saya tukarkan ke bank dengan uang kertas. Hanya saja, buat saya yang pemalas ini, prosesnya menjadi rumit.

Uang kok bikin cemberut. Ah tapi itu dulu. Saya harus berterima kasih kepada Hanny dan Nia yang merubah mood saya terhadap uang logam. Tengoklah apa yang mereka gagas di sini. Barang yang (bagi saya) menjengkelkan itu, bisa menjadi amat sangat bermanfaat. Saya tidak akan bercerita apa itu Coin A Chance, sampeyan baca saja sendiri.

Ikutlah. Paling tidak sekarang sampeyan punya alasan untuk kopdar dengan Hanny atau Nia atau keduanya, dan saya jamin sampeyan tidak akan rugi.

Continue Reading 32 Comments

Jaman Dulu Itu …

Tentang masa lalu, dengan segala kemanisan dan kepahitannya, adalah bahan obrolan yang kok ya ndilalah sering diulang-ulang. Sebagian besar isi cerita adalah soal kebanggan, seperti “… jaman revolusi dulu, kakekmu ini … wooo … dapur umum”. Gagah. Tetapi, tidak selamanya kisah “menyenangkan” memang, kadang ya soal kesusahan walaupun tetap dengan nada penuh kebanggaan (susah kok bangga?) seperti ” … dulu itu, bapakmu kalau ke sekolah harus jalan kaki 5 km !!!” Atau kisah yang kikir fakta seperti “… jaman bapakmu sekolah dulu, bapakmu ini penjaga gawang kesebelasan sekolah, dan tidak pernah kebobolan.” Tetapi fakta kalau sang bapak adalah penjaga gawang cadangan (dengan sengaja) tidak diceritakan.

Continue Reading 51 Comments

|