Bahagia

Beberapa kawan yang kewarasannya perlu dipertanyakan ada yang bertanya kepada saya perkara kebahagiaan dirinya dan pasangannya. Mereka merasa dirinya dan pasangannya tidak bahagia. Dalam keadaan terpojok begini, maka saya mengeluarkan jurus gombal (yang mungkin bermanfaat) untuk menjawabnya.

Begini saya berkata :

” Jika kamu mencintai pasanganmu, maka kamu akan sangat bahagia jika melihatnya bahagia.”

Kawan itu mengangguk.

“Maka, agar dirimu bahagia, bahagiakanlah pasanganmu itu.”

Kawan itu mengangguk lagi.

“Maka, jika dirimu melihat pasanganmu berusaha membuatmu bahagia, apa yang akan kamu katakan kepadanya?” saya bertanya.

Bukannya menjawab, dia malah terlongo-longo memandangi saya, dan saya terpaksa menjawab pertanyaan saya sendiri.

“Kamu katakan … DASAR EGOIS!!!”.

Sampai tadi kawan itu masih mengirim pesan singkat (sms) menanyakan tentang hal itu, dan saya malas menjawabnya. Salahnya, tanya hal begitu kok ke saya.

Join the Conversation

30 Comments

  1. sebenernya kebahagiaan itu ada di hati masing2 manusia, pakde.. krn hati diciptakan Tuhan untuk memberi rasa bahagia pada umatNya.. hehehhe…*bhs ku ketinggian…

  2. harusnya nanya apa sama pakdhe?

    Owalah Meeeed, masyaoloooohhh..Gusti paringono Memed bojo sing ganteng, sugih, tur gampang diapusi… (ngutip sopo kui, 2009)

  3. hehehe iya . . . begini klo “bahagia” nggak dibatasi definisi dan asumsi! bisa nyasar ke mana2 . . .
    nggak cuman nggombal dan ndobos sampek pecas ndahe . . .
    lha klo pasangannya memang bahagia di panti jompo? rumah sakit jiwa? jadi teroris? apakah bromocorah, residivis tidak berhak bahagia? tuna graita? tuna netra? tuna wisma? tuna susila?
    yang pasti bahagia ya tuna-ngan . . . 😛

Leave a comment

Leave a Reply to Nazieb Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *