1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Berani Tetapi Takut

Ada kebahagiaan saat mendengar kabar orang terdekat akhirnya berani dan mampu untuk melakoni apa yang benar-benar dia inginkan. Seperti apa yang ditulis oleh si nyonya lasak itu di sini. Lantas, ada nyengir-nyengir pahit setelah membaca tulisannya. Nyengir-nyengir yang ditujukan pada diri sendiri. Tulisan itu mengingatkan saya pada suatu masa yang belum terlalu lama sebetulnya. Pada waktu itu, saya pernah begitu percaya diri untuk berganti pekerjaan. Keinginan untuk meninggalkan apa-apa yang saya tekuni selama belasan tahun dan memulai sesuatu yang benar-benar baru dan (mudah-mudahan) saya sukai. Paling tidak, begitulah rencana gagah berani itu saya bayangkan. Saya memulainya dengan mengundurkan diri dari tempat saya bekerja dan meninggalkan Tokyo.

Begitulah, di puncak musim dingin, saya meninggalkan Tokyo dan kembali ke Bogor yang hangat. Beberapa bulan berikutnya kegiatan saya hanya diisi dengan “berlibur”. Menyenangkan memang, sampai suatu saat saya merasa bosan menjadi pengangguran begitu. Masalah dimulai di sini. Ada beberapa tawaran pekerjaan yang datang sebetulnya, hanya saja ternyata saya tidak segagah berani yang saya kira. “Kemapanan” selama belasan tahun tampaknya menjadikan saya selembek agar-agar untuk memulai sesuatu yang benar-benar baru. Sering kali saya bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan “bagaimana jika …”.  Singkat kata, saya takut.

Cerita selanjutnya, saya akhirnya memilih bekerja kembali di bidang yang nyaris sama dengan pekerjaan saya sebelumnya. Tipis saja bedanya, dahulu di darat sekarang di laut. Memang benar ada banyak orang yang baru saya kenal, tetapi banyak pula orang yang sudah lama sekali saya kenal di pekerjaan saya yang baru tersebut.

Lantas, apa yang “salah” dalam kasus saya itu sehingga tidak sesuai rencana? Selain soal keberanian, masalah terbesar bagi saya adalah saya tidak punya rencana yang baik pada saat memutuskan untuk berhenti bekerja dari tempat lama. Paling tidak, rencana yang saya miliki saat itu tidak jelas, amat sangat umum. Impulsif? Bisa jadi begitu. Beberapa orang-orang terdekat sudah mengingatkan saya tentang hal ini sebetulnya. Tapi dasarnya saya kepala batu, degil, saya selalu menjawabnya dengan jawaban ngeyel “ah bisa kok”. Kenyataannya, toh sampai sekarang tetap belum bisa.

Hanya bermodal keberanian di awal serta tanpa rencana yang jelas, bukan cara bagus untuk memulai sesuatu yang baru. Kepada si nyonya lasak, saya masih harus banyak belajar.

29 orang ikut ndobos

1

Gravatar

04 September 2009 11:47:14

pargodungan

Hmmm, memang untuk melakukan sesuatu yang baru dibutuhkan 2 kali lipat keberanian daripada melakukan sesuatu yang sudah biasa.
Sayangnya, saya pun juga sering terbentur dengan hal2 seperti itu. Ibarat kata, udah tau solusinya, eh.. masih tetap mempersoalkannya.
Salam. :)

2

Gravatar

04 September 2009 11:54:43

hedi

maksudnya mau jadi fotografer juga kayak dinda? waduh jangan dehhhhh….tobattt :P

3

Gravatar

04 September 2009 12:12:37

kenyo

yang jelas di laut banyak airnya pak

4

Gravatar

04 September 2009 12:14:19

titin

udah belasan tahun sih udah banyak pak pengalamannya…

5

Gravatar

04 September 2009 12:36:42

Riki Pribadi

jadi…keluar dari zona amannya, sukses ga nih pak?

6

Gravatar

04 September 2009 13:25:03

bandit pangaratto

klo emang di zona aman tak membuat kita berkembang, pindah ajah..

heheheheh

7

Gravatar

04 September 2009 13:25:39

ndoro kakung

katanya mampu … ngapusi ki

8

Gravatar

04 September 2009 13:47:23

aprikot

yang saya tanyakan pakde, lantas apakah pakde takut untuk pensiun? ;)

9

Gravatar

04 September 2009 14:15:27

bangsari

lha…. dodol mendoan bae pakde…

10

Gravatar

04 September 2009 14:42:26

zam

been there, done that. :D

11

Gravatar

04 September 2009 16:44:07

mastongki

bukannya duit panjenengan sudah meeteran?

12

Gravatar

04 September 2009 21:23:35

jun

Kok mirip dg yg saya alami sekitar 3 th lalu ya? Bedanya saya gawe di negara gurun, Bahrain..
Yg jelas pertimbangan resign ada kemungkinan sama, banyak uang di negara orang ibarat sayur tanpa garam, sedikit sekali nikmatnya,hehe..

13

Gravatar

05 September 2009 03:33:19

atta

Ah, lagi-lagi saya terlambat tahu. Itu dinda kita kan? Hihihi.

Heibat ;)

Btw, apa kabar keluarga Bogor? Kangen banget

14

Gravatar

05 September 2009 12:46:06

dinda

ah bapaaaakkkkk… aku jadi maluuuuuuuu… ini juga masih belajar :)

@atta: iya neeeng! dinda ‘kita’ hahah

*pake link blog yang baru neeeeehhh*

15

Gravatar

06 September 2009 08:11:57

Fickry

keluar dari zona nyaman.. harsu keluar dari Jogja juga berarti? oh Tuhaaaaannnn….

16

Gravatar

06 September 2009 09:50:36

mbakDos

panjenengan ini memang kok! kalo belum kesandung sendiri, ya nggak ada tuh namanya berhenti :D

ah eniwei, saya ya lagi dalam fase itu kayanya

17

Gravatar

06 September 2009 14:22:27

irma

jadi…mau balik lagi ke Bogor kang?

18

Gravatar

07 September 2009 02:56:40

antyo rentjoko

Setau saya sampeyan itu dari dulu tergolong berani. Termasuk berani mengakui kalo takut untuk hal tertentu. Ndak masalah. :D

19

Gravatar

07 September 2009 06:59:57

duniafannie

inspiring., saya juga sedang berusaha berani… semoga tidak takut. :-o

20

Gravatar

07 September 2009 11:42:35

yati

hahahahaha….*nda sopan, ngetawai orang tua*
saya ingat dulu, perbincangan tokyo-balikpapan itu selalu dijawab: ah, mau brenti, udah kaya!
uh, sombong.
saya nanya juga: meninggalkan yang 17 tahun dijalani, yakin bisa? katanya: kan enak, bisa jalan2 terus
tiga bulan kemudian: diantara dua pilihan, darat dan laut. ternyataaa… :)) kerja di tempat yang sama lagi

hahahahaha…. *pletak, anak durhaka, ngetawain lagi*

tapi kayaknya kita sama kok, pak, saya resign tapi balik lagi ke kerjaan sejenis. huh, penakut!!!!

21

Gravatar

07 September 2009 22:21:56

queeny

hmmmmm,,, BING GO..!!!!

diriku nyatet yang ini ya pakde,

” saya tidak punya rencana yang baik pada saat memutuskan untuk berhenti bekerja dari tempat lama.”

22

Gravatar

08 September 2009 08:41:43

mare

wah sy juga pengin berani ninggalin kerjaan yang sekarang,
pengin balik kampung ke Bali mas

23

Gravatar

10 September 2009 16:13:48

Fany

segeralah berguru, pakdhe..
nanti kalo sudah master, saya jadi muridmu..

*yg masih takut*

24

Gravatar

10 September 2009 17:47:57

bung BONAFIT

Kalau saya takut tapi gak berani . kira-kira hukumnya itu apa ?

25

Gravatar

10 September 2009 20:15:57

-tikabanget-

iya e…
sayah juga takut e.. :|

26

Gravatar

11 September 2009 17:42:46

mariskova

*langsung ngaca*

27

Gravatar

15 September 2009 22:24:10

roelus

Hmmmmmm….

28

Gravatar

14 October 2009 10:17:22

reez

memang suatu dilema di saat kita harus memilih…..
krn pilihan itu adalah masa depan kita…

29

Gravatar

21 June 2010 11:31:20

Yohan Wibisono

Buat enjoy aja buat apa hidup dibuat susah…

Ikutan Ndobos

Ndobosan sebelumnya | Ndobosan selanjutnya