1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Ingatan

Belakangan saya agak sering bertemu dengan teman-teman yang sudah amat sangat lama tidak bertemu. Lama yang saya maksud itu 20 tahunan, bahkan yang saya temui terakhir di Jogya pada akhir pekan kemarin itu sudah 32 tahun tidak pernah bertemu dalam arti bertatap muka. Gembira tentu saja. Jika ada bagian “sedih” dari pertemuan-pertemuan itu, ternyata ada begitu banyak kejadian yang saya sudah lupa, tetapi celakanya mereka masih ingat. Lebih celaka lagi jika hal tersebut berkaitan dengan aib masa lalu.

Sebenarnya dahulu, jaman masih di Sekolah Dasar, saya sempat “sebal” dengan teman yang sudah 32 tahun tidak bertemu itu. Saban waktu pembagian rapot, dia selalu menjadi juara kelas. Lantas para guru menjadikannya sebagai contoh murid yang baik dan benar. Sementara saya, nyaris selalu menjadi salah satu contoh sebagai murid yang nakal dan tak layak dijadikan panutan. Apa saja “kenakalan” saya? Itulah dia soalnya, saya tak ingat banyak dan kalaupun ingat itupun secara samar-samar.

Parah juga soal lupa itu. Harus saya akui saya sering lupa, bukan hanya kejadian yang sudah lama lewat, kadang apa yang saya lakukan kemarin saya lupa. Faktor umur? Ah ya tidak juga, toh teman-teman saya itu juga seusia saya. Dia bisa ingat, saya tidak. Ataukah karena faktor lain, misalnya semua yang diingatnya itu adalah segala hal yang ingin saya lupakan? Atau karena sebab lain, seperti terbatasnya daya tampung ingatan saya atau rentang waktu ingatan saya yang memang pendek.

Ada juga yang bilang begini, dan buat saya ini menarik. Orang hanya mengingat hal-hal yang buat mereka menarik, sesuatu yang istimewa. Semua “kenakalan” saya dulu bukanlah hal yang istimewa buat saya, sehingga kenangannya lepas begitu saja atau terkubur jauh di dalam benak. Jika ini benar, maka saya bolehlah sedikit berbahagia, karena apa-apa yang dahulu saya lakukan ternyata istimewa buat orang lain sehingga mereka mengingatnya.

Pada sisi lain, minimnya daya ingat saya itu kadang membuat saya ngeri untuk menghadiri reuni. Agak bagaimana begitu rasanya jika saya bertemu dengan kawan lama, saling bersalaman sambil tersenyum dan saya lantas berkata “waaaaaah senang sekali bisa bertemu lagi … kamu siapa ya?”

24 orang ikut ndobos

1

Gravatar

14 September 2009 16:04:43

yok

ah…ga seru…kiran mau cerita aib ;))

2

Gravatar

14 September 2009 16:22:12

ndoro kakung

tapi belum lupa ama yang di rumah kan?

3

Gravatar

14 September 2009 16:38:11

hedi

tapi pasti ga lupa dengan species burung yg ribuan itu to?

4

Gravatar

14 September 2009 16:42:31

bangsari

wingi aku reunian anak nuklir. dan hampir 40 pesertane aku lupa jenenge. hahahaha

5

Gravatar

14 September 2009 17:09:33

zam

ha ha ha.. aku juga sok gitu, pakde.. ketemu orang, sok nanya kabar, ketawa-ketawa, tapi pas ditanya, siapa yg barusan, saya cuma nyengir.. gak tau.. LUPA!

saya emang sering lupa ama wajah/nama teman lama, terutama COWOK! kalo cewek? pasti inget.. he he he..

ngapain juga nginget-inget cowok? :p

6

Gravatar

14 September 2009 17:55:19

balibul

masih inget update blog sir?

7

Gravatar

14 September 2009 18:08:47

kenyo

lupa nggak apa2 dong pakde, ikut reuni aja yah…

8

Gravatar

14 September 2009 18:37:48

dewi

bapak mungkin ga inget tentang kenakalan itu karena memang ga istimewa, kenakalan sudah menjadi hal yang biasa dilakukan. bukan begitu? *sungkem*

9

Gravatar

15 September 2009 00:17:54

Hning

Saya malah bakal khawatir kalau elemen masa lalu muncul sekaligus berurutan. Kalau di dunia mistik, mimpi ketemu sesepuh yang sudah meninggal artinya dipanggilpulang. Kalau di dunia nyata, artinya apa ya? :D

10

Gravatar

15 September 2009 05:13:03

meong

whahahahahaha *ngakak puoooll pada bagian ini:
[…karena apa-apa yang dahulu saya lakukan ternyata istimewa buat orang lain sehingga mereka mengingatnya…]

beruntung lho, mereka yg mudah lupa, krn otaknya jd gak penuh dg hal2 yg gak perlu dipikirin *nyengir*

11

Gravatar

15 September 2009 07:08:47

antyo rentjoko

ah mereka itu kurang pelajaran sebetulnya sehingga yang diingat dikit dan cuma itu-itu mulu. atau jangan2 secaar bersekongkol mereka ngarang, sehingga akhirnya diyakini sebagai kebenaran. lain kali kalo dik rudy ketemu mereka, hajar saja! pasti mereka lupa. yang diingat tetap masa SD. :D

12

Gravatar

15 September 2009 08:36:24

Kang Bas

Pak Dhe kayaknya udah “lupa” sama cantrik-cantriknya, dikangenin tuh. Masih utang review database manuk lho ya… :D

13

Gravatar

15 September 2009 10:00:12

arrie

heehe…iya nih…kirain mau cerita kenakalan jaman SD dulu….cerita donk^^

14

Gravatar

15 September 2009 10:35:21

Chic

pakdhe masih inget saya toh pastinya… hihihihihi

15

Gravatar

15 September 2009 12:14:11

mbakDos

komenku udah keduluan ndoro :mrgreen:

16

Gravatar

15 September 2009 14:33:51

Riki Pribadi

Kalo utang ingat ga Pakde??

17

Gravatar

15 September 2009 17:00:00

-GoenRock-

memorynya pakdhe terlau banyak kepake buat menghapal nama2 burung mrgreen:

18

Gravatar

15 September 2009 17:10:58

-GoenRock-

Komengku kok ndak nongol ya? Ulang wes..

Memory pakdhe mungkin terlalu penuh buat menghapal nama2 burung :mrgreen:

19

Gravatar

15 September 2009 19:42:09

do2t

Pasti Ketemuan nya gara fesbukk yah pakdhe! hehehehe

20

Gravatar

15 September 2009 22:30:26

roelus

Ingatan terbatas? Wajar lah Kang. Wong memori keluaran tahun 60an aja maunya banyak. Kapasitas hard disk jaman itu 1 Mega juga udah syukur. Udah gitu isinya gambar semua lagi, ya cepat penuh lah. Saran saya, beli aja eksternal hardisk yg 1 tera :P

21

Gravatar

18 September 2009 10:25:18

-tikabanget-

templateku :
“halow.. kayaknya kita pernah kenalan ya..? saya tikaa..”

22

Gravatar

18 September 2009 10:26:53

-tikabanget-

lha iyo, tapi yang aib masa SD itu apa?
temennya bisa inget ndak?
kalo inget, mbok ya ditulis..

23

Gravatar

18 September 2009 14:00:30

yati

Aib jaman SD-nya itu apaaaaaa???

Pak, lebaran di bogor? Banyak makanan ga? Saya libur senin

24

Gravatar

21 June 2010 11:30:28

Yohan Wibisono

Masa lalu harus berlalu…hehe…

Ikutan Ndobos

Ndobosan sebelumnya | Ndobosan selanjutnya