1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Indonesia Punya

buntil.jpg

Dalam sebuah tulisannya, Momon ada menyebut tentang Protected Designation of Origin (PDO). Sesungguhnya PDO bersama-sama dengan Protected Geographical Indication (PGI) dan Traditional Speciality Guaranteed (TSG), adalah bagian dari kerangka Protected Geographical Status (PGS) dalam Undang-Undang Uni Eropa yang dibuat untuk melindungi nama dari makanan dan minuman. Bukan sekedar nama yang dilindungi, tetapi lebih ke dari mana makanan dan minuman itu berasal. Seperti ditulis oleh Momon, “Misalnya sampanye, minuman alkohol yang bersoda itu, hanya boleh diproduksi di desa Champagne, Perancis. Yang lain? Namanya sampanye bajakan.”

Undang-undang yang berlaku di Uni Eropa sejak tahun 1992 ini secara berangsur-angsur diperluas wilayah cakupannya melalui mekanisma perjanjian bilateral untuk negara-negara di luar Uni Eropa. Apakah sudah ada perjanjian bilateral dengan Indonesia? Tampaknya belum dan jika diberlakukan, dengan segala sisi baik dan “buruknya”, maka menurut saya dampaknya akan besar. Ambil contoh Sate Blora. Sate Blora yang boleh diperdagangkan dan diakui keasliaannya jika dan hanya jika sate tersebut dibuat di Blora dengan bahan-bahan dari Blora. Bisa bubar itu usaha Sate Blora yang ada di luar Blora. Aih … ngeri.

Tetapi sisi baiknya, para tukang sate di Blora akan terlindungi, sehingga tidak akan terjadi Blora punya nama Jakarta punya laba. Permintaan akan Sate Blora dari banyak tempat, menjadi peluang usaha yang luar biasa dari para tukang sate di Blora. Hal yang sama juga berlaku untuk Bubur Manado, Peuyeum Bandung, Pempek Palembang, Soto Betawi atau Dodol Garut misalnya.

Lantas bagaimana dengan tukang sate yang berjualan Sate Blora tetapi bahan-bahan serta pembuatannya tidak di Blora? Ya harus ganti nama. Tidak boleh memakai nama Sate Blora. tetapi bukan orang Indonesia namanya jika tidak panjang akal. Nama bisa saja diganti tanpa menghilangkan cap yang sudah melekat. Misal, ganti nama menjadi Sate ala Blora yang berbeda dengan Sate Blora. Cara lain adalah dengan memperluas wilayah geografis. Misalnya Sate Blora tidak didaftarkan berasal dari Blora, tetapi dari Indonesia. Seperti halnya Scotch Whisky didaftarkan di bawah nama United Kingdom (UK), atau Ron de Malaga didaftarkan di bawah nama Spanyol.

Selesaikah masalahnya? Belum. Pun jika hal di atas yang akan dilakukan, maka restoran yang menjual Sate Blora dengan bahan yang dibeli dan prosesnya dilakukan di Amsterdam tidak boleh lagi menjual sate dengan nama Sate Blora, maka gantilah jadi Sate Blodam (Blora-Amsterdam). Lantas bagaimana dengan masakan Padang asli Nguling atau Sate Madura (kabarnya sulit cari Sate Madura di Madura)? Bagaimana dengan Fettucini Pesto alla Genovese di Jakarta yang buat saya lebih enak dan pas kenyangnya dari pada fettucini yang sama di Genoa?

Ah mengada-ada. Mungkin saja. Ah, tidak akan terjadi di Indonesia. Mungkin saja. Ah, itukan hanya untuk barang-barang dari Uni Eropa … hohoho, tidak saudara-saudara. Mau contoh? Longjing Cha atau Dragonwell yang merupakan salah satu varietas teh hijau dari Hangzhou di Propinsi Zhejiang di China terdapat dalam daftar PDO. Sementara beras Thung Kula Rong-Hai Thai Hom Mali dari Thailand terdapat dalam daftar PGI, seperti halnya teh Kangra dan Darjeeling dari India. Jadi … apakah kita berminat untuk memasukan ke dalam daftar itu beras Rojolele, Pandangwangi atau durian Petruk? Atau mau menunggu dulu barang-barang itu diaku oleh negara sahabat di sebelah baru kita pentalitan?

Foto oleh Gage.

28 orang ikut ndobos

1

Gravatar

05 October 2009 11:33:24

kw

haha orang indonesis sukanya berpolitik aja kali mas, sampai sampai lupa mengurus database kekayaan budaya :)

2

Gravatar

05 October 2009 11:40:59

-alle-

..menunggu tetangga mengkalim baru kita ribut mengakuinya,. seperti biasa tho?

3

Gravatar

05 October 2009 11:46:46

Herman Saksono

Kopi luwak harus dipertimbangkan masuk PDO, selain dari indonesia silahkan pake nama yang lain.

4

Gravatar

05 October 2009 12:25:29

lindaleenk

itu sayurannya T.T
aku laperrrrrrrr :((

5

Gravatar

05 October 2009 12:25:34

kenyo

indonesia kaya kuliner

6

Gravatar

05 October 2009 12:27:33

hedi

Indonesia lebih seneng ngurus DPO dari pada sebaliknya ;)

7

Gravatar

05 October 2009 12:33:37

yok

@hedi

:))

8

Gravatar

05 October 2009 12:50:03

nengjeni

wah, kalo semua masakan indonesia di PDO in, kasian juga ya nanti orang2 yang pada merantau ke negeri orang….

9

Gravatar

05 October 2009 14:04:25

ebeSS

blogger yang antik2 ini aja dulu di PDI eh PDO kan :)

10

Gravatar

05 October 2009 16:51:17

nicowijaya

sate blora tetep paling enak itu makan di Koplakan! aseli blora:D

11

Gravatar

05 October 2009 20:03:46

antyo rentjoko

Masukkan saja sekarang ke daftar. Beras mentik termasuk gak, Rud?

12

Gravatar

05 October 2009 21:31:54

didut

wondering gimana kl pete kesukaan saya :P

13

Gravatar

06 October 2009 00:59:46

aprikot

durian petruk itu dr jepara lho pakde :D

14

Gravatar

06 October 2009 03:11:54

elia bintang.

malaysia aja mengklaim gempa tasik.. gempa kok diklaim.. ga penting :D

15

Gravatar

06 October 2009 09:44:03

Ahmad

jayalah negaraku…

tanah air tercinta….

16

Gravatar

06 October 2009 14:47:08

zam

makanan itu makin terkenal kalo udah keluar daerahnya, pakde. di madura, ndak ada itu sate madura. adanya sate ayam. begitu juga dengan nasi padang. di padang ndak ada yang namanya nasi padang. :p

17

Gravatar

06 October 2009 16:48:39

oKKy

lha kaLo bandeng presto juwana yg ngetopnya di Semarang, ato wingko babat yg di babat sendiri jarang2…jadinya gimana ya? haha.. kreatif!

18

Gravatar

07 October 2009 13:55:41

sarjana pengangguran

waduh…keknya susah tuh diterapinnya di Indonesia…siapa yang mau mengawasi penerapannya :D

19

Gravatar

07 October 2009 15:57:52

dilla

indonesia terlalu malas ngurusi yang begitu2an.. Giliran diakui sana sini baru ribut.. memang mereka sukanya pentalitan sendiri kok pakdhe :))

20

Gravatar

08 October 2009 17:47:20

Arief

Ndobos bersama….wah indonesia bnyk bngt kulinernya…jd laperrr…

21

Gravatar

09 October 2009 17:02:07

adipati kademangan

sepakat sama Zam
kalau masakan sudah keluar dari daerahnya, masihkah butuh eksistensi ? kenyataannya semakin jauh dari daerahnya semakin kuat nama asal makanan / barang tersebut.

22

Gravatar

10 October 2009 18:45:35

ngupingers

aku pengen pol pokoke

pol = sekali
pokoke = pokoknya

23

Gravatar

11 October 2009 23:53:12

venus

tapi apa ya gak ribet ngurusin beginian ya? :D

24

Gravatar

12 October 2009 23:31:44

endik sangar

hasyah mbok uwis ben sing penting ayem tentrem butuh mangan kari mangap, butuh ngising kari ndodok butuh nguyuh kari ndodok karo mangap bar kuwi metu eketan ewune

25

Gravatar

14 October 2009 06:55:54

Omtri

pecel blitar buatan orang madiun itu palsu? bakso solo buatan orang garut juga palsu? wartegnya orang pemalng juga palsu?

26

Gravatar

14 October 2009 10:12:15

reez

pak dhe mbilung juga salah satu aset dan kekayaan budaya Indonesia lo hehehe….

27

Gravatar

19 October 2009 23:48:13

lapeltelus

hik .. hik … kita balik aja yu … sate blora harus pesen dari luar, khan lebih kuat namanya … hik .. hk ..

28

Gravatar

21 June 2010 10:42:08

Yohan Wibisono

tak ada yang bisa lawan masakan asli indonesia yach…

Ikutan Ndobos

Ndobosan sebelumnya | Ndobosan selanjutnya