1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Menjadi Si Bolang (Bocah Hilang) 2

moromaho.jpg

Setelah dua jam mengarungi samudera, memecah ombak di malam yang diterangi bintang dan bulan bulat (cuiiih sekali), kami tiba di Pulau Tomia. Kami akhirnya menginap di Waha di Pulau Tomia karena saya ngeri dijadikan jangkar kapal oleh Pak Kapten speed boat, dan lantas harus berganti nama menjadi Mbilung Jangkarkapal. Sebelum berangkat tidur, Pak Kapten berpesan, “kita berangkat besok jam 3 pagi ya” dan lagi-lagi saya mengangguk setuju. Saat itu saya benar-benar menikmati langit malam yang dipenuhi bintang dan sesekali bisa melihat seleret bintang jatuh (meteor). Di kota besar, kadang saya bisa juga menikmati yang begini pada saat langit sedang bersih dan PLN sedang melakukan pemadaman listrik.

Pagi dini hari sebelum ayam-ayam pada bangun, Pak Kapten sudah menyalakan mesin speed boat dan kami siap berangkat menuju Moromaho. Dua jam saja kata Pak Kapten, tetapi dia menyarankan agar kami mampir dulu di Karang Koko untuk bertemu dengan beberapa kawan yang sudah lebih dahulu berangkat ke Moromaho dengan kapal besar (KML Menami). Berhubung Menami tidak bisa buang sauh di Moromaho, kapal ini berlabuh di Karang Koko yang merupakan atol sebetulnya dan seluruh karang berada di bawah air pada saat air pasang.

rfb.jpg

Mendekati Karang Koko, Menami sudah terlihat dan Pak Kapten sibuk dengan GPS untuk mencari pintu masuk ke bagian tengah atol. Saat itulah saya pertama kali melihat salah satu buruan utama saya dalam perjalanan kali ini. Burung laut, Angsa-laut kaki-merah (Sula sula), yang melayang amat sangat rendah di atas air seolah-olah sedang meniti buih gelombang. Burung pemakan ikan dan cumi-cumi ini memang penerbang ulung walaupun pada saat akan terbang atau mendarat gayanya amat sangat tidak meyakinkan, sangat kikuk.

Setelah speed boat kami bersandar manis di lambung Menami, tujuan utama Pak Kapten mengejar Menami langsung terlihat, dia bergegas menuju dapur kapal mencari sarapan. Ikan segar yang baru diangkat dari laut dengan cepat menjadi penghuni wajan dan lantas perut yang dimakan hanya dengan nasi putih hangat dan kecap manis. Rasa ikannya luar biasa, tidak seperti rasa ikan yang dibeli di pasar swalayan besar di kota yang sering diembel-embeli “Ikan Segar”. Segar apanya? itu ikan yang dijual pasti sudah mati 14 kali.

Makan selesai, kami kembali melaju ke Moromahu diiringi burung-burung laut itu. Terkadang ada juga burung-burung cikalang (Fregata minor) yang merampok makanan para angsa-laut di udara dengan cara memaksa sang angsa memuntahkan makanan dari temboloknya. Cikalang sejatinya adalah pemburu tangguh yang menangkap ikan terbang atau torani pada saat sang ikan sedang terbang di atas air. Keberadaan cikalang ini sering dipakai oleh para nelayan sebagai tempat bagus untuk mencari ikan. Sederhana saja, torani tidak akan mencolot dari dalam laut jika tidak sedang dikejar ikan-ikan besar. Ada cikalang, ada torani, ada ikan-ikan besar di bawah laut.

Terlena dengan pemandangan burung berburu ikan sambil meniti buih begini, membuat perjalanan ke Moromaho terasa singkat. Tidak lama rasanya, Moromaho sudah terlihat. Pulau kecil yang ditumbuhi bakau dan ditanami kelapa oleh petani kopra yang datang ke pulau ini setiap 6 bulan sekali untuk memanen kelapa. Girang? Tidak juga. Kami tiba pada waktu yang salah. Saat itu air laut sedang surut dan itu berarti speed boat tidak bisa mencapai bibir pantai. Speed boat harus berhenti di tubir karang, dan dari sana saya harus berjalan kaki sekitar 2 km di atas karang dan pasir. Jalan di karang begini selain menyakitkan juga harus hati-hati karena saya tidak ingin menginjak karang hidup.

Pagi itu, saya tiba dengan terengah-engah di Moromaho. Mari berenang, mari menyelam dan mari mengamati burung. Tapi sebelum itu saya perlu istirahat sambil menghitung luka di kaki.

Bersambung lagi…saya mau makan.

15 orang ikut ndobos

1

07 November 2009 10:48:01

-alle-

aiih indah sekali pastinya :D
bicara ikan segar supermarket, memang segar koq, khusus gurame yg masih idup di akuarium yg jarang dibersihkan itu :P

Ah ya, Dik Alle benar. Yang saya maksud ikan di tulisan itu, ikan laut. -Mbilung-

2

07 November 2009 11:16:49

mawi wijna

waow, air laut surut sampai 2 km, padahal berapa luas pulau kecil itu?

belum dihitung persisnya, tetapi kalau sedang surut luas pulaunya bisa bengkak jadi tiga kali lipat -Mbilung-

3

07 November 2009 11:22:24

neng oCHa

ngahaha! ngerasa bersyukur banget jadi anak pulau yang bia nikmatin ikan segar sewaktu ingin dan butuh :lol:

4

07 November 2009 11:39:16

nonadita

Kalo butuh Asisten Blogger tolong kontak saya ASAP.
Terima kasih.

Nanti kalau saya pulang, pastinya butuh tukang pijat. nanti dirimu kutelepon -Mbilung-

5

07 November 2009 11:59:52

yudhi

cuiiiiihh

weeeeek … *joged-joged* -Mbilung-

6

07 November 2009 12:30:04

dewi

btw, ikan itu termasuk larangan pantangan ga sih untuk menghindari tepar? *ingetin pakdhe biar ga terlalu girang*

7

07 November 2009 12:55:42

didut

bah !! *mengiripun*

8

07 November 2009 15:05:14

danindra

seneng kali lagi di dobosi pakdhe kyk gini..
trus udah megang burung blm dhe??

9

07 November 2009 19:49:17

oKKy

waH…sedang beRbuRu apa sampai ke sana siR? selamat makan deH..mumpung banyaK iKan segaR yang beLom peRnah mati…^^

10

07 November 2009 21:57:14

senimanpeta

wah pukulun oleh-olehnya banyak ini..

11

08 November 2009 06:17:17

antyo rentjoko

Angsa laut yang kikuk. Alam sudah mengatur agar keindahan tidak dimonopoli… :)

12

08 November 2009 12:15:55

SBC

Wuih, Sula sula… belum pernah ketemu…

13

08 November 2009 17:20:05

yati

beuh…. jadi, makan ikan segar yang belum pernah mati? :))

14

09 November 2009 10:55:39

clingakclinguk

ndak sandalan atau sepatuan gitu biar kakinya ndak luka-luka ?

15

21 June 2010 10:32:28

Yohan Wibisono

Keren juga nich pulau???kapan2 pgn ke sana…

Ikutan Ndobos

|