Dear Sweet Pumpkin

realloveletter.jpg

Bagi saya, “cinta” yang coba dibangun oleh banyak kawan sekarang seperti berada di jalur cepat. Dengan bantuan berbagai situs sosial media, piranti chatting dan layanan pesan singkat elektronik (sms), dari awal hubungan yang dibina berada pada gigi tinggi dan gas mentok. Lantas, apakah ini salah? Ah, ini bukan soal salah benar. Ini soal pilihan cara apa yang akan dipakai saja. Saya termasuk orang yang menggunakan cara perlahan dan lama untuk ukuran jaman sekarang. Jika diumpamakan dengan tumbuhan, maka itu adalah tumbuhan yang ditanam dari biji, bukan dari hasil cangkok. Sebut saya kuno … lha ya memang iya. Jaman saya dulu tidak ada fasilitas komunikasi seperti sekarang. Tidak ada chatting? tidak ada sms? trus pakai apa? Begitu pertanyaan yang kerap muncul. Saya jawab, … ya pakai hati … dan pakai surat yang ditulis tangan yang kalau cepat biasanya tiba dipangkuan pujaan hati tiga hari kemudian. Bayangkan itu … pada jaman sekarang bisa ada berapa macam pesan yang sudah dipertukarkan selama tiga hari?! Kalau mau, itu tiga hari sudah cukup untuk dipakai merayu, jadian, mesra-mesra, berkelahi, lantas putus! All just in 3 days.

Saya masih ingat jaman saya pacaran dengan perempuan yang sekarang jadi istri saya itu. Saya di Bandung, dia di Bogor (kuliah) atau Jakarta (rumah orang tuanya). Dapat bertemu sebulan dua kali, bagus itu. Apalagi jika saya sedang ada di entah hutan yang mana. Surat menjadi andalan penjalin komunikasi dan selebihnya adalah rasa. Entah sudah berapa surat yang kami pertukarkan, walaupun jumlahnya pasti akan jauh lebih kecil dibanding sms cinta anak-anak jaman sekarang dalam satu minggu atau bahkan mungkin satu hari.

Surat dibuka dengan kata-kata yang pilihannya tergantung suasana hati. Jika sedang berbunga-bunga ya…”Dear sweet pumpkin”. Kalau sedang biasa-biasa saja ya “Hai perempuan beruntung” atau sekedar … “Neng”. Lantas dilanjutkan dengan paragraf pertama yang isinya biasanya hanya bertanya kabar. “Apa kabarmu? Abangmu yang tampan mempesona serta baik hati ini dalam keadaan yang baik-baik saja. Mudah-mudahan Neng juga baik-baik saja keadaannya”. Oh iya, jangan lupa pastikan bahwa kata ganti orang keduanya sekonsisten mungkin. Jangan pakai Neng, kemudian adinda, lalu sayang, dalam surat yang sama. Ini dapat menimbulkan prasangka tak sedap. Kalau terlanjur salah … ganti, ulang, tulis surat dari awal lagi. Itulah gunanya membaca ulang surat itu berkali-kali sebelum dikirimkan.

Paragraf dua dan beberapa paragraf berikutnya adalah tulisan bebas. Biasanya mengabarkan kejadian sejak surat terakhir dikirim, puji-pujian, penyemangat atau pengungkap rasa rindu. Bisa juga ditambahi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sang kekasih di suratnya terdahulu. kadang saya mencantumkan sumber pertanyaannya, karena sang kekasih tidak memiliki salinan suratnya. Walaupun tidak memiliki salinan, jangan asal jawab karena (God knows how) pacar saya itu seringkali ingatannya sekuat ingatan gajah, walaupun dia tidak hafal persis kata-katanya.

Surat bisa panjang bisa pendek, tergantung apakah memang ada yang hendak diberitakan. Saya sendiri bukanlah macam orang yang kuat menulis banyak sebenarnya. Lagipula, tulisan tangan saya makin lama makin sulit dibaca. Pada bagian awal, tulisan dapat mudah dibaca tetapi jika tulisan sudah mulai menyerupai sandi rumput,Β  itulah tanda bagi saya untuk berhenti menulis. Begitulah, maka tulisan lantas diakhiri dengan paragraf penutup. Inilah paragraf yang isinya pamit undur diri selayaknya selesai bertamu. Kadang, jika ingat, pakai titip salam untuk bapak dan ibunya. Tak lupa sebelum tanda tangan dibubuhkan, sepenggal kalimat bernada “bujuk rayu” disertakan sebagai penguat keyakinan baginya, walaupun ini sebenarnya tidaklah perlu dicantumkan, karena semua orangpun sudah tahu. Kalimat apa? … Ya “Teriring salam manis dari pria pujaanmu yang tampan, gagah dan baik hati.” Cukup …

Begitulah cara kami membina komunikasi. Sangat berbeda dengan cara saya membina komunikasi dengan orang tua yang saat itu tinggal jauh dari Bandung. Telegram, hanya empat kata, murah, meriah dan hasil besar. Apa isi telegram? … “Putro waras, arto telas.” Yang ini lebih mirip sms memang.

Gambar diambil dari sini.

Join the Conversation

31 Comments

  1. Wah, saya pun masih sempat mencicipi masa surat2an itu, pak Dhe. Walau sudah mulai tergeser oleh telpon kartu yang saat itu masih gampang dicari. Cuma kadang gagangnya putus kabelnya atau malah hilang sama sekali.
    Kalau telegram, wah, sudah ndak njamani saya.
    BTW, empat kata itu “putro waras, arto telas” sungguh mujarab (lmao)

  2. saya juga sempet ngalami surat-surat dengan mantan kekasih dulu (padahal saya anak jama sekarang loh dhe), waktu itu saya juga tidak lupa untuk memilih amplop surat berwarna pink & sedikit dibubuhi wewangian biar gimanaaaa gitu…tp tetep putus juga! *eh koq curhat*

  3. Hahaha si Om romatis juga ya… romantis narsis wkwkwkw.

    Aku ingat dulu waktu masih suka bertulis2 surat, jaman kelas 3 SD cari sahabat pena di majalah BOBO πŸ™‚

    Terus juga sering surat2 an dengan spupu dan cewek yang ku taksir.

    Penutupnya sih bukan kata ndobos kayak om, tetapi diagram:

    Namaku ——— (gambar hati) ———– Nama dia

    πŸ™‚ hahahaha romantisan masa kecil.

  4. Saya dan bini masuk golongan muda donk, pakde? Kenal seminggu, lalu pisah beda pulau, beda propinsi dan beda zona waktu. Abis itu ya mung nelpon, sms, chatting pake mIRC, dan friendster (facebook belum booming). Alhamdulillah hasilnya lumayan baik… Cukup baik malah.

    Jaman kuliah kehabisan duit, saya paling ke wartel, nelpon yang isinya: “lamkum.. telpon ke kosan 5 menit lagi. Laam..”. Abis itu saya lari2 balik ke kos nunggu telpon. Hahahahaha..

  5. surat? saya sering diprotes kalo nulis surat. ga bisa ga panjang soalnya. enam lembar bolak balik sampe pinggir2nya juga penuh. tapi ke temen, bukan ke pacar :p

    kangen sama komentar di atas. halo Bang Pay! apa kabar?

  6. masku yang matang,mapan,pongah yang jauh dimata dekat dihati,
    adinda tak sabar menantikan kedatanganmu untuk sekedar berbagi secangkir kopi, tanpa betadin apalagi endrin.
    kapankah saat itu tiba? segeralah kirim kabar…

    Oh ya, hasil panen tahun ini jauh dari yang harapkan. semua ternak sudah terjual habis, segeralah pulang.
    adinda dalam keadaan sedikit waras, tetapi arto telas πŸ˜€

    salam sehangat mentari pagi,
    adindamu yang baik hati tidak sombong serta rajin membaca

  7. hahahhaha….angger.. Narsis …
    pantesan rambutnya dah pada putih semua yaaa…
    mendeeemmmm… jauh jauhan terus… si mantan pacarnya kasian jadi suratnya dibaca sambil nangis….. ..
    iya khan ne’..???

  8. jadi ingat jaman dulu saya sekolah di luar kota, dan dy di jakarta banting tulang.
    Dan ternyata kenangan seperti itu malah sangat berkesan sampai sekarang daripada tiap hari chatting. lebih cepat bosan. πŸ˜€

  9. penggunaan nama panggilan yang konsisten juga works fine jika punya satu orang pacar … di tiap ibu kota propinsi πŸ˜€

    you read my mind Nana ;)) – Mbilung –

  10. bingung kenapa harus “sweet pumpkin”, padahal pumpkin sendiri tidak sweet rasanya.. hihihihi

    hoho chic … believe me, my pumpkin (SHE) is so fantastically sweet – Mbilung –

  11. Ah, masa jahiliah itu. Blm ada internet Blm ada ponsel. Saya di Yogya, dia di Bandung. Dua minggu sekali (minimal) surat kilat khusus. Saya sampai hapal penjaga loket kilat khusus giliran malam, dan tahu bahwa yang terkirim malam itu akan dibawa oleh KA Mutiara Yogya-Bandung. Esok siang sudah tiba di alamat. πŸ˜€

  12. Mungkin itu pula alasannya kenapa saya dulu pacaran gak ganti-ganti sampai menikah. Lah wong mau dapetin satu ajah susahnya minta ampun.

    Mau menyatakan cinta musti beli kertas surat warna-warni centil dulu di warung. Tulis dengan pikiran sampai keringetan. Anterin surat ke rumahnya naik angkot. Sampai depan rumahnya musti intip-intip dulu liat ada bapaknya atau ndak.

    Lah kalau semua langkah di atas musti diulang karena gonta-ganti pacar, bisa mabok juga. Sekarang sih enak dikit-dikit tinggal tut..tut…kirim SMS. πŸ˜€

  13. alah ..paling itu cuma bualan P’De saja.
    bukankah jaman dulu cuma pake lirik-lirikan saja..
    hayo ngaku..

  14. empat kata terakhir yang paling ampuh jaman sma di asrama. sama kalimat. adek sakit. tuh lebih ampuh lagi. hehehehehe.
    jadi inget jaman ada buku surat, diary bersama dan sejenisnya. *buku suratku dulu dimana ya???*

Leave a comment

Leave a Reply to rara Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *