Belajar
Tadi saya berjalan ke warung makan. Ada sepeda motor yang melaju kencang meraung, padahal ada tikungan berpasir di depan. Keseimbangan badan mungkin berbanding lurus dengan tingkat kecerdasan, dia terguling. Orang-orang di sekitar ada yang tertawa, ada pula yang menyumpahi sembari memberi petuah.
Pengendara itu tidak cedera serius tampaknya, kecuali cedera harga diri. Dia bergegas pergi, tidak sekencang tadi. Untuk saya, belajar dengan melukai harga diri itu mahal. Anda bagaimana?
9 orang ikut ndobos
17 October 2010 22:59:31
iphan
dalem ya…
mendedikasikan tulisan ini untuk seseorang
17 October 2010 23:57:32
Antyo Rentjoko
1. Nekat, ngawur, dan berani adalah tiga hal yang berbeda; tapi dalam praktik susah memilahnya
2. Kalau dia orang optimistis pasti akan bilang ke pasir, “Nah akhirnya kamu dapat pelajaran kan? Dari kemarin aku sabar padahal pengin banget jatuhin diri ke kamu!”
19 October 2010 10:09:22
hedi
ah itu sih orang yg cuma bisa ngegas sama ngerem aja, belum bisa mengendarai…tikungan ya menurunkan kecepatan dong, pebalap pun gitu
19 October 2010 10:23:27
bangsari
makanya, sehabis kecelakaan, pertanyaan pertama selalu: “motornya ga bocel bocel kan?”
19 October 2010 12:35:27
zammy
duh, puk puk.. itu kodoknya udah lari..
*nyalahin swikee*
19 October 2010 22:50:15
Aditz
Jelas malunya itu yg lebih parah dripada sakitnya
)
20 October 2010 17:43:07
yati
27 October 2010 11:14:27
jarwadi
mungkin harga diri pemuda itu sudah dijual murah, jadi dia tidak punya lagi saat terjatuh di depan pakdhe mbilung
30 October 2010 17:36:32
mawi wijna
semua ada resikonya, termasuk resiko melaju kencang