1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Kesenangan Dalam Kekusutan

Pada suatu masa dulu saya ada diberi pekerjaan yang pada saat pertama kali dijelaskan tampak mudah. Begini … gampangnya, saya diminta untuk mencari letak lokasi suatu tempat dan manaruhnya di atas peta. Untuk menaruh lokasi tersebut di atas peta, yang saya perlukan adalah angka-angka koordinat lintang dan bujur tempat tersebut. Misal, Kota Bandung di Jawa Barat memiliki angka-angka koordinat 6° 54′ 53.08″ Lintang Selatan 107° 36′ 35.32″ Bujur Timur. Pada waktu itu, Internet masih merupakan kemewahan dan GPS masih merupakan barang langka. Tetapi pada waktu itu saya masih beranggapan bahwa ini adalah pekerjaan mudah yang dengan hati girang saya terima. Lantas, sayapun “terjebak” di pekerjaan itu selama hampir 7 tahun (tentu saja ditambah dengan pekerjaan lain). Apa pasal?


Pada saat itu saya terlibat dalam sebuah pekerjaan yang hendak mengumpulkan semua informasi tentang burung yang ada di Asia, termasuk informasi di mana saja burung tersebut pernah dicatat keberadaannya. Misal, burung Gelatik Jawa pernah tercatat ada di Depok pada bulan Juli 1909. Haha…Depok, gampang. Oh, ternyata tidak. Di Pulau Jawa, ada dua tempat yang bernama Depok, satu di dekat Jakarta sedang yang satu lagi di dekat Yogyakarta. Masalahnya ini Depok yang dimaksud dalam catatan tahun 1909 tentang Gelatik Jawa itu Depok yang mana?

Soal lain. Ada kebiasaan masyarakat di Asia yang gemar berpindah-pindah dengan berbagai macam sebab. Ada bencana alam, pindah, ada wabah penyakit. Repotnya (bagi saya), pada saat mereka pindah mereka membawa nama asli kampungnya. Sehingga bisa saja sebuah lokasi A pada tahun 1800-an berbeda letaknya dengan lokasi A pada tahun 1990-an. Kadang para penggemar bedol desa ini berbaik hati dengan menambahkan kata “Baru” pada nama desa di tempat barunya. Untuk menambah kadar kepeningan, saya tidak hanya harus berurusan dengan budaya dan Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia yang relatif saya pahami. Ada begitu banyak budaya dan bahasa di Asia.

Soal lain lagi. Saya ada menemukan catatan tentang jenis burung yang “tidak pada tempatnya.” Ini burung gunung, kenapa ada catatannya di daerah pesisir? Usut punya usut, ternyata pada saat itu sang peneliti mengirimkan pemburu-pemburunya ke gunung untuk berburu burung, sementara sang peneliti tergeletak tak berdaya di sebuah desa di tepi pantai sambil menggigil dahsyat karena malarianya kambuh. Pada saat para pemburu pulang dengan hasil buruannya, sang peneliti melabeli hasil buruan tersebut dengan nama desa tempat di mana dia tergeletak tadi.

Apakah lantas kekusutan itu semua berujung bencana? Tidak juga ternyata. Kekusutan beginilah yang lantas membawa saya berkelana mengelilingi separuh belahan bumi. Banyak dari informasi yang saya butuhkan itu tersimpan rapih di dalam catatan-catatan perjalanan para peneliti itu, beberapa bahkan di dalam buku harian mereka, yang tersimpan rapih di museum. Karena catatan-catatan itu adalah barang langka, museum sering kali enggan membuat salinannya (photocopy) dan mengirimkannya ke saya. Saya yang harus datang ke sana. Demikian pula dengan peta-peta tua.

Selain itu, semua kekusutan tadi seperti menjadi wahana bagi saya untuk melakukan perjalanan kembali ke masa silam sembari membayangkan betapa sibuk dan berwarnanya pelabuhan-pelabuhan seperti Calicut, Goa, Malaka dan Banten. Membaca catatan harian Alfred Russel Wallace pada saat ia pertama kali datang ke Bali (pertengahan 1856) atau Palembang (akhir 1861) misalnya, membawa saya ke gambaran negeri ini ratusan tahun yang lampau. Atau sekadar membayangkan keadaan masa lalu sembari jari telunjuk saya menyusuri peta rute dagang dari Eropa ke Asia yang juga menjadi rute para pemburu masa itu untuk mengumpulkan hewan dan tumbuhan untuk museum-museum dan para kolektor kaya di Eropa.

Lantas, apa yang saya dapat dari ini semua? Sesuatu yang tampaknya mudah di awal, tenyata dapat berujung pada kekusutan. Akan tetapi, di sisi lain, selalu ada kesenangan yang muncul secara tak terduga dari segala bentuk kekusutan yang terjadi. Pekerjaan tadi juga menyadarkan saya betapa banyak informasi tentang kekayaan alam negara ini yang justru ada di negara lain (ya ya ya … basi, bukan barang aneh, tetapi toh tetap saja saya ingin menuliskannya).

Lantas tentang pekerjaan besar itu bagaimana? Selesai akhirnya pada tahun 2001 dan di dokumentasikan dalam sebuah publikasi yang terdiri dari 3000 lebih halaman yang dibagi menjadi 2 volume (2 buku) dengan berat total 5 kilogram. Cocok untuk mengganjal pintu. Ada kelegaan besar di akhir pekerjaan itu. Bisa dilihat dari betapa cerianya wajah anggota team yang terlibat (foto di bawah), apalagi saat menemukan publikasi tentang pekerjaan tersebut di “halaman strategis” sebuah majalah bulanan khusus untuk pria dewasa.

rdb.jpg

Catatan: saya masih menyimpan 2 buku itu, tetapi saya tidak menyimpan majalahnya.

13 orang ikut ndobos

1

09 December 2010 17:17:43

sapiterbang

kalo gitu kasih sini majalahnya

2

09 December 2010 20:50:25

hedi

tapi aslinya tim peneliti & sampeyan beli majalah itu bukan untuk mencari hasil penelitian kan? *ngekek*

3

10 December 2010 03:45:08

sandalian

Iklan buku burung di majalah yang berkaitan dengan burung.
Mantab tenan :D

4

10 December 2010 09:22:12

didi

kan urusan majalah itu ya urusan burung juga. hahahahaha…..

5

10 December 2010 09:49:25

goop

keteraturan dalam kekacauan
saya temukan di the lost symbol
semua baru ngeh setelahnya ya, Dhe?
ngess ngess

6

10 December 2010 11:29:20

Chic

majalahnya terbitan mana itu Dhe? sapa tau masih bisa di cari..
*ihik*

7

12 December 2010 01:40:02

tetangga sebelah

“saya masih menyimpan 2 buku itu, tetapi saya tidak menyimpan majalahnya”

Yakin, gak terbalik tuh barang yang disimpan Pakdhe? kikikiksss…

8

12 December 2010 08:27:57

kurniasepta

Salah tunjuk tu bapake, yang halaman satunya kali :)

9

14 December 2010 20:17:06

Foto Biodiversitas Indonesia

Hmm.. jadi ngerti kisah dibalik layar Kang Ijo di masa lalu. Bisa membayangkan betapa rumitnya namun puas saat terlampaui…

Kami sekarang meneruskan jejak langkah itu, tapi untuk Indonesia saja..

10

14 December 2010 22:36:30

rime

yang penting kita ga menyesali apa yang kita pilih.. karena apapun pilihannya, pasti ada hikmahnya *sok tua banget gini saya*

kangen deh… udah lama ga main ke sini. btw saya udah 3 tahun ga ngeblog dengen bener :p

11

25 December 2010 10:20:16

Parmin

Hatur nuhun ah ceritana, bikin semangat.. Btw, judul majalah dan tanggal terbitnya masih hapal kan? hehehe

12

21 January 2011 16:43:43

detizz

*ngekek bacanya.. =)) *

‘saya masih menyimpan 2 buku itu,…’
ya ya ya.. percaya, aku liat bukunya di rak besar itu

‘.. tetapi saya tidak menyimpan majalahnya.’ .. yg ini aku gak percaya.. *periksa jamban*

13

04 March 2011 14:52:06

renggo darsono

nyimak gan…

Ikutan Ndobos

|