Saya Senang

1

 

Tadinya saya kira ini hanya akan jadi perjalanan biasa saja. Ini hanya perjalanan rutin untuk keperluan kerja dengan teman saya yang selalu ngomel setiap kali melihat tanyangan di stasiun-stasiun televisi nasional. Kadang saya harus menjejali dia dengan makanan sambil bilang “mending ngunyah daripada ngomel”. Begitulah, kami hari itu dari Kendari hendak ke Raha di Pulau Muna dan kami menggunakan kapal cepat dengan rute Kendari – Raha – Bau-Bau (di Pulau Buton).

Seperti diduga, tidak ada kejadian menarik. Di kabin berisi 60-an orang itu, orang-orang hanya mengobrol kecil dengan temannya. Beberapa bersenandung mengikuti lagu yang ditampilkan di layar lebar, beberapa lainnya mencoba untuk tidur. Semua biasa saja, hingga tiba-tiba ada seorang perempuan menrobos masuk ke kabin setengah panik mencari bantuan. Ada perempuan yang sakit di kelas ekonomi katanya, dan dia mencari ruang yang tertutup. Tak lama perempuan yang sakit itu masuk ke kabin dengan muka kepayahan sambil terus memegangi perutnya yang besar. Dia akan melahirkan.

Di kabin (kebetulan) ada seorang bidan dan perawat yang dengan sigap memimpin para penumpang lain untuk menolong perempuan yang hendak melahirkan itu. Para perempuan membuat tirai dengan selimut. “Sudah bukaan lengkap” begitu teriak sang bidan, “tolong carikan kotak P3K”. Celaka…di kapal sebesar ini tidak ada kotak P3K. Maka para penumpang mencari benda apapun yang diteriakan sang bidan. Jarum…benang…gunting…silet…korek api…kain…sarung…baju…

Proses persalinan berlangsung cepat. Sangat cepat.

9:20 pagi Waktu Indonesia Bagian Tengah, bayi itu lahir dengan selamat. Laki-laki. Anak dan ibunya dalam keadaan sehat. Penumpang bersorak dan bertepuk tangan sambil menyebut nama Tuhannya masing-masing. Seorang bapak lantas mengadzani sang bayi, sementara sang bidan dan perawat mengurusi sang ibu.

Belakangan baru diketahui kalau sang ibu sedang dalam perjalanan ke Pasar Wajo (di Pulau Buton. Masih paling tidak 2 jam jalan darat dari Bau-Bau) untuk melahirkan di sana. Suaminya sedang bekerja di Kolaka. Dia menempuh perjalanan itu sendiri saja. Karena semua serba darurat, sang bidan menyarankan agar sang ibu dan bayinya diturunkan saja di Raha untuk mendapat perawatan segera. Sang bidan lantas memimpin penggalangan dana dari sekitar 60an orang yang ada di dalam kabin itu. Dalam waktu singkat ada lebih dari Rp. 3 juta yang terkumpul.

Semua berakhir baik. Buat saya, perjalanan itu menjadi amat sangat berarti. Orang-orang tidak saling kenal, berbeda suku dan agama, semua ikut membantu kelahiran sang bayi. Buat saya, bayi itu seperti pertanda bahwa negeri ini masih punya harapan. Masih ada orang yang tidak berkelahi tetapi saling membantu, tidak berebut bicara tetapi sibuk bekerja, melakukan apa yang bisa mereka lakukan tanpa berkata seharusnya orang lain berbuat apa. Saya senang.

Saya senang, terharu juga, dan teman saya sepanjang perjalanan nyaris tidak mengomel dan tidak mengunyah. Dia tersenyum.

Join the Conversation

15 Comments

Leave a comment

Leave a Reply to Rere @atemalem Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *