1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Search Result

Nyolot

Saya dan Paklik Baba berteman sudah lama, cocok sejak awal dan masih berkawan hingga kini. Lha ngobrol di dekat api unggun kemarin itu dengan Paklik Baba artinya begadangan, maklum saja Paklik itu kalau sudah cerita ya segala macam diceritakan, lantas nyolot. Nyolotnya bisa lebih panjang daripada ceritanya dan celakanya nyolotnya Paklik Baba itu menular. Lantas, jadi ada banyak orang yang menyolot di dekat api unggun, termasuk kawan satu ini.

Maka mengalirlah cerita (pendek) yang lantas dikomentari (panjang lebar tinggi) dari mulai soal pendidikan, bencana, sejarah, hiburan hingga demit. Kata-kata yang paling sering diucapkan ya “nggak bener tuh” atau “kan mestinya”.

Paklik Baba sebagai penyolot pertama lantas berkata, “kita ini kalo udah nyolot berasa yang paling bener aja ya sedunia, orang laen salah semua, kagak ada benernya, dasar payah elo-elo pade” begitu katanya sambil nyolot.

Apa iya to?

Continue Reading 17 Comments

Cowok Bensin

Beritanya bensin, atau persisnya bensin premium, hilang dari pasar di Bali. Bah, berlebihan itu, hilang sih tidak, cuma susahnya setengah mati untuk mendapatkannya. Kalaupun ada di warung-warung bensin eceran pinggir jalan, harganya sudah tujuh ribuan per liter. Dari mulai supir taxi sampai supir ojek mengeluh. Lantas, apa berpengaruh? Ah, yang begini toh sudah sering terjadi.

Continue Reading 37 Comments

Ngalor Ngidul

Membaca, betapa menyenangkan. Maka setumpuk buku dan surat kabar hari ini teronggok manis menunggu giliran untuk dijamah. Lha, kok soal pemanasan global lagi, es di kutub mencair lebih laju dari yang diduga, musim sudah nyempal dari kalender, ada peningkatan dahsyat gas-gas rumah kaca. Asap dan gas buangan industri dan buangan kendaraan bermotor punya kontribusi lumayan besar dalam hal ini, begitu katanya. Mau nyolot soal ini? Mbok ya ngaca dulu, wong saya itu masih lebih sering klayaban pakai kendaraan pribadi kok.

Continue Reading 12 Comments

Dua Puluh Tahun (6)

Dua puluh tahun sudah lewat. Kegiatan beberapa bulan di hutan dan pantai Pulau Seram telah mewarnai secara meriah kehidupan para venturer Indonesia selepas ekspedisi. Kontak masih terjalin lumayan baik, walaupun kami sudah tidak lagi bertemu sesering dahulu. Lantas kami bertemu kembali, sudah banyak pula yang berubah pada masing-masing individu. Hanya saja, paling tidak pada beberapa orang, ada satu hal yang tidak berubah …. kelakuan.

Continue Reading 17 Comments

Dua Puluh Tahun (2)

Ada beberapa kejadian menyenangkan (bagi pelaku) tetapi ngeselin (bagi korban kelakuan pelaku) pada dua puluh tahun yang lalu itu. Pada waktu itu peserta ekspedisi dibagi dalam tiga kelompok, para panitia (mereka menamakan dirinya staff … entah kenapa), para peneliti dan kelompok yang paling besar dinamai oleh panitia sebagai venturer. Para venturer sendiri ada yang menamai kelompok besar ini gerombolan biang panu, belatung nangka dan beberapa nama “kurang sedap” lainnya. Saya ada di kelompok kurang sedap itu.

Para panitia tentunya menampilkan citra garang dan berwibawa, maunya begitu. Paling tidak sikap begitu dipertontonkan selama dua belas hari kami di Cibubur. Untuk menggembleng mental dan fisik, begitu kata mereka. Sementara kelompok biang panu, yang dianggap mental dan fisiknya perlu dibenahi itu cengengesan, banci foto dan biang keonaran. Begitulah hampir saban hari, bahkan saban saat, acara yang mestinya berlangsung tertib malah jadi ajang ngakak. Kalu sudah begini, entah siapa yang mentalnya perlu diperkuat.

Continue Reading 12 Comments

|