1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Archive for the ‘crita’ Category

Absurd

absurd.jpg

Ada banyak hal yang layak disimpan dalam ingatan dari kunjungan ke Yogja kemarin itu. Soal acara syukuran Cerpenista tidak usahlah lagi dibahas, jika sampeyan tertarik lihat saja di sini, sana dan situ … ah di sana juga ada. Mengapa suasana menyenangkan yang dilaporkan oleh tulisan-tulisan itu terjadi dan mengapa pula banyak orang dari tempat yang jauh lantas meluangkan waktunya untuk berkumpul, itulah soalnya.

Continue Reading 37 Comments

Ruang yang Membebaskan

kantor.jpg

Namanya ruang kerja menurut saya ya harus bisa membuat pekerja penghuni ruang itu paling tidak betah berada di situ. Beberapa orang beruntung dapat menata ruang seenak seleranya. Saya ingat di kantor lama dulu ada salah seorang petinggi yang mengecat ruangnya dengan bendera negara asalnya … seluruh tembok. Ada yang membawa tanaman, memajang foto-foto orang terdekat atau terkenal walaupun pemilik ruangan tidak dekat dengan orang terkenal itu. Yang tidak beruntung, silahkan berpuas diri dengan kotak kecil ruang kerjanya yang hanya dibatasi partisi rendah dengan kotak sebelah.

Continue Reading 63 Comments

Terabaikan dan Tahan Banting

burung-gereja.jpg

Yah, akhirnya menulis soal burung lagi. Lebih baik begitu, daripada dicaci maki Pitik terus-terusan. Saya tidak akan cerita burung yang susah lihatnya, yang gampang saja, ada di sekitar rumah dan sampeyan bisa melihatnya dengan mudah. Burung gereja. Umum, banyak di mana-mana dan sering diabaikan. Cari saja penelitian tentang burung ini di Indonesia, susahnya minta ampun. Beberapa tulisan di milis para pengamat burung juga hanya menyebut Burung gereja sambil lalu saja. Tidak mengundang diskusi yang hangat seperti ketika membicarakan Jalak bali atau Elang jawa.

Continue Reading 48 Comments

Nikmati Selagi Bisa

keluarga.jpg

Anak. Betapa berharganya mereka. Paling tidak buat saya. Setiap detik bersama mereka, adalah saat yang membahagiakan (well … almost). Anak selayak suar, yang menjadi penuntun arah tujuan. Menjadi jangkar, sehingga hati selalu tertambat pada keluarga. Juga menjadi pagar sehingga saya tidak menjadi kambing liar. Ada masa di mana saya tidak melihat mereka tumbuh, sehingga terkaget-kaget melihat sosok mereka manakala saya kembali ke rumah. Untung mereka tidak memanggil saya Om. Atau lebih parah dari itu, untung tidak ada teriakan begini di rumah ketika saya pulang, “Sebentar ya Om. Paaaaa, Papaaaaa, ini ada temannyaaaaa!!!”

Continue Reading 51 Comments

Kopat Kapit

nene-aldrin.JPG

Sampeyan percaya kalau sampeyan itu punya kembaran di tempat lain, walaupun sampeyan secara biologis bukan anak kembar? Banyak teman yang mengatakan kalau saya punya kembaran paling tidak satu orang. Istri saya ya bilang begitu, dan saya berharap mudah-mudahan dia bisa membedakan kami saja, ndak tertukar.

Continue Reading 42 Comments

Ndobosan lama | Ndobosan Baru