1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Archive for the ‘crita’ Category

Hutan Tersohor

Kapan itu sempat ngobrol entengan dengan Ibu dokter senyum-senyum soal kedahsyatan hilangnya hutan Indonesia. Kedahsyatan yang sebetulnya memalukan dan kabarnya akan masuk ke dalam buku Guiness World Records. Lha kok pagi ini baca kembali berita tersebut di sini. Berita lawas sih sebetulnya, kawan satu ini pernah menuliskan akan hal tersebut di sini bulan Maret kemarin.

Continue Reading 10 Comments

Anggrek hi hi hi hi

Anggrek, tanaman berbunga cantik. Karena keelokannya itulah bunga anggrek sering dijadikan sebagai hiasan pemanis banyak hal. Dipajang di atas meja, dijadikan untaian kalung penyambut tamu agung atau disematkan di dada dan keindahan bunga anggrek seolah menular ke sekeliling. Bunga yang cantik memang.

Hanya saja saya sering kali tidak bisa menahan senyum geli manakala sedang memberikan pemaparan (jualan abab) di depan banyak orang sementara mimbar tempat saya ndobos itu dihiasi bunga anggrek, dan di dada tersemat bunga anggrek pula. Jalan keluarnya saya lantas sering meninggalkan mimbar dan ndobos free-style saja, tidak lupa anggrek di dada dilepas.

Continue Reading 15 Comments

Kantor

Sejak meninggalkan Tokyo untuk kembali ke Bogor, jika ada yang bertanya “ngantor di mana sekarang?” saya selalu menjawab “di bawah pohon nangka”. Beberapa menganggap saya guyon. Guyon bagaimana, wong saya itu orang yang serius kok. “Kantor” saya itu ya di bawah pohon nangka. Ada payung besar dan meja serta kursi kayu yang menyatu. Pemandangan lepas ke arah sungai kecil yang jika sedang tidak hujan lumayan bening. Ada kupu-kupu dan burung yang rajin menyambangi kantor saya, juga semut dan nyamuk kebun. Hanya saja jika mengacu pada Kamus Umum Bahasa Indonesia, apa yang saya tempati ini ya ndak memenuhi kaidah sebagai kantor. Lantas saya berkilah, ah, definisi yang sempit.

Pada saat masih di Tokyo dulu, saya juga lebih banyak menghabiskan jam kerja dengan bekerja di taman kota di depan kantor. Saya memang tidak begitu menyukai ruang tertutup, apalagi kalau sempit. Sementara kantor di Tokyo itu nyaris elbow-to-elbow, sesek. Celakanya jika suhu udara sedang dingin. Agak wagu rasanya ke taman sambil bawa selimut dan lantas kerja sambil kemulan.

Continue Reading 22 Comments

Penguin Tidak Hanya Ada di Kutub

Ini sebetulnya tulisan lama soal Beruang kutub dan Penguin. Juga sudah pernah dimuat di tempat lain. Basi? ya biarin. Anggap saja seperti tayang ulang.

Jadi begini, jika kita bicara tentang kawasan kutub yang dinginnya brrrrrrr ya ampun itu dan es ada di mana-mana, lantas banyak orang akan mengasosiasikannya dengan orang Eskimo, Beruang kutub, dan Penguin. Bahkan Penguin, Beruang kutub dan orang Eskimo sering digambarkan hidup berdampingan. Bagi yang pernah menikmati lucunya film kartun Chilly Willy ciptaan Paul J. Smith mestinya ingat bagaimana penguin kecil ini memiliki rumah Iglo khas Kutub Utara . Ooo… tidak demikian, kata beberapa orang lagi. Orang Eskimo dan beruang Kutub tidak pernah hidup berdampingan dengan Penguin. Orang Eskimo dan beruang Kutub hidup di kawasan Kutub Utara, sementara penguin di Kutub Selatan (Antartika). Benar demikian?

Continue Reading 12 Comments

Tiramisu Latah

Jaman saya kecil dulu, Adi Bing Slamet yang masih kecil ada menyanyikan lagu tentang Mak Inem yang latah. Jika kaget, Mak Inem langsung mecotot eh copot eh copot copot … Tingkat kelatahan yang masih ringan menurut saya, karena toh juga ada yang keluarnya kata-kata lain yang bisa bikin orang lain terbelalak.

Latah tidak harus muncul dalam bentuk perkataan yang tidak jelas dari mana asalnya itu. Ada yang latah dengan menirukan dan menyetujui apa-apa yang diucapkan oleh lawan bicaranya. Celakanya, jika lawan bicaranya lebih dari satu dan para lawan bicara tengah beradu argumentasi, sang pelatah mengiyakan semuanya, bahkan pakai acara mengulang ucapan para lawan bicaranya.

Continue Reading 15 Comments

Ndobosan lama | Ndobosan Baru