<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ndobos Pol</title>
	<atom:link href="http://ndobos.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ndobos.com</link>
	<description>Catatan Sir Mbilung MacNdobos</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Mar 2013 05:24:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Trulek Jawa van Redjotangan</title>
		<link>http://ndobos.com/2013/03/27/trulek-jawa-van-redjotangan/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2013/03/27/trulek-jawa-van-redjotangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Mar 2013 05:24:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[apa ini]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu]]></category>
		<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Seribu Intan]]></category>
		<category><![CDATA[de Blot]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Zoologi]]></category>
		<category><![CDATA[Rejotangan]]></category>
		<category><![CDATA[Trulek jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Vanellus macropterus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[Ini hanyalah sebuah tulisan lama yang saya tulis ulang sebagai pengingat bahwa dahulu saya rajin menulis soal burung, dan sekarang jarang menulis soal apapun. Ini cerita tentang satu jenis burung, Trulek jawa (Vanellus macropterus) yang merupakan burung endemik Pulau Jawa (di dunia hanya ada di Pulau Jawa). Nasib burung ini tidak jelas, mungkin masih ada, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2013/03/Trulek.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-741" alt="Trulek" src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2013/03/Trulek.jpg" width="400" height="601" /></a><br />
Ini hanyalah sebuah tulisan lama yang saya tulis ulang sebagai pengingat bahwa dahulu saya rajin menulis soal burung, dan sekarang jarang menulis soal apapun. Ini cerita tentang satu jenis burung, Trulek jawa (<em>Vanellus macropterus</em>) yang merupakan burung endemik Pulau Jawa (di dunia hanya ada di Pulau Jawa). Nasib burung ini tidak jelas, mungkin masih ada, mungkin juga sudah punah. Di kala saya masih sangat aktif di dunia burung memburung, Trulek jawa adalah salah satu jenis burung yang saya &#8220;kejar&#8221; untuk memastikan statusnya di alam, sudah punah atau belum. Pada masa pengejaran itulah ada sebuah cerita menarik yang ingin saya bagi.<br />
<span id="more-740"></span><br />
Adalah sebuah awetan (spesimen) di Museum Zoologi di Cibinong, Bogor, bernomor 16662 yang sungguh-sungguh menarik perhatian saya. Bukan karena bentuknya, melainkan karena tulisan yang tertera pada dua buah label yang terikat di kaki kiri dan kanan spesimen tersebut.<br />
Pada label pertama tertulis bahwa spesimen tersebut adalah <em>Rogibyx tricolor</em> yang diambil/dikoleksi oleh Chauvigny de Blot pada 26 Oktober 1917 di Redjotangan. Di label kedua tertulis <em>Xiphidiopterus tricolor</em> yang dikoleksi oleh Chauvigny de Blot di Redjotangan Oost Java pada 26.X.1917. Di bagian belakang label kedua ini juga tertulis meer van Redjotangan Ost Java. Nama <em>Rogibyx tricolor</em> dan  <em>Xiphidiopterus tricolor</em> adalah nama ilmiah lama yang dipakai untuk Trulek jawa.</p>
<p>Label tersebut menempel pada spesimen Trulek Jawa yang benar-benar unik. Inilah satu-satunya spesimen di dunia yang menjadi bukti bahwa burung ini paling tidak pernah ada di lokasi yang bernama Redjotangan, Jawa Timur (Oost Java). Benarkah Redjotangan yang dimaksud adalah nama sebuah desa yang saat ini bernama Rejotangan yang terletak di Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur?</p>
<p>Itu hanyalah salah satu dari segudang pertanyaan lain yang mengundang rasa ingin tahu saya. Pertanyaan lain adalah, siapa Chauvigny de Blot? Apa yang dilakukannya di Redjotangan pada Oktober 1917? Apa yang dimaksud dengan kata &#8220;meer&#8221;? Apakah kata itu mengacu pada kolam atau danau? Jika Redjotangan yang dimaksud adalah Desa Rejotangan yang jaraknya dari pantai terdekat (jarak lurus) 22 kilometer. Seberapa inland sebenarnya sebaran Trulek jawa itu? Mengapa hanya ada satu spesimen Trulek jawa dari Redjotangan? Seperti apa &#8220;wajah&#8221; Redjotangan itu pada tahun 1917? Apakah Trulek jawa masih ada saat ini di Rejotangan?</p>
<p>Untuk mencari jawaban dari setumpuk pertanyaan itu, saya memulainya dengan mencari tahu siapa Chauvigny de Blot. Internet sangat membantu proses pencarian tersebut. Begini hasilnya. Kunci jawaban dari seabreg pertanyaan tadi ada pada seorang tokoh bernama Paul de Blot (lengkapnya Paul de Chauvigny de Blot). Ia warga negara Indonesia yang lahir di Kutowinangun, Kebumen, Jawa Tengah, yang paling tidak hingga tahun 2005 beliau mengajar bisnis internasional di Nyenrode Business Universiteit, Negeri Belanda.</p>
<p>Paul adalah putra Chauvigny de Blot, orang yang namanya yang tertulis pada label spesimen di Museum Zoologi di Cibinong, Bogor. Nama lengkapnya adalah Gerardus de Chauvigny de Blot. Ia lahir di Tegal pada 1894. Pak Gerardus ini bukanlah seorang ahli biologi, melainkan sinder perkebunan di Kutowinangun. Ia bersahabat dengan seorang ahli biologi berkebangsaan Jerman (namanya belum saya dapatkan) yang mengajarkannya banyak hal, termasuk bagaimana membuat spesimen.</p>
<p>Pada 1933, Pak Gerardus pindah ke Bandung dan seluruh koleksi spesimennya disumbangkannya ke Museum Zoologi di Bogor yang waktu itu masih menempati gedung di dekat pasar Bogor. Antara 1935/1936 ia pindah ke Redjosari, Madiun, dan menetap sampai 1942. Ia sempat ditahan bala tentara Jepang. Setelah Perang Dunia II selesai, ia kembali ke Redjosari dan pada tahun 1957 ia pergi ke Belanda dan meninggal dunia di sana pada tahun 1968.</p>
<p>Apa yang dilakukannya di Redjotangan pada Oktober 1917? Pak Gerardus sering berburu babi hutan di daerah tersebut bersama adiknya, Frits de Chauvigny de Blot, yang tinggal di sebuah pesantren di Kediri. Walaupun masih berusia muda, sebagai sinder perkebunan, posisi Pak Gerardus sudah cukup tinggi saat itu. Bayangkan, ia sudah memiliki mobil &#8212; kendaraan yang cukup langka saat itu &#8212; yang sering kali dipakainya buat plesiran.</p>
<p>Lantas, dari kisah Pak Paul yang menuturkan kisah perburuan Pak Gerardus inilah saya mengetahui apa yang dimaksud dengan kata &#8220;meer&#8221;? Meer yang dimaksud pada tulisan di label spesimen (Meer van Redjotangan) mengacu pada sebuah danau yang terletak di sebelah selatan Desa Rejotangan. Danau ini sekarang telah hilang, berubah menjadi areal persawahan yang luas. Menurut informasi dari penduduk setempat (Pak Dugel), danau itu mulai diubah menjadi sawah seusai Perang Dunia II.</p>
<p>Seberapa inland sebenarnya sebaran Trulek jawa itu? Mengingat jarak lurus Rejotangan dari pantai lebih dari 20 kilometer, dan terhalang perbukitan, penyebaran Trulek jawa mungkin saja lebih luas dari yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini diperkuat oleh satu spesimen Trulek jawa yang dikoleksi oleh G.F.Taylor pada Juli 1918 di Buitenzorg (Bogor) yang jaraknya dari pantai terdekat lebih dari 50 kilometer.</p>
<p>Saat itu tampaknya ada areal lahan basah yang cukup luas di Bogor. Hal ini diperkuat dengan adanya catatan keberadaan Mentok rimba (Cairina scutulata) pada 1839-1844 di Bogor. Mentok rimba sendiri, saat ini sudah punah dari Pulau Jawa, dan di Indonesia hanya ada di Pulau Sumatera.</p>
<p>Dari rangaian cerita tadi, paling tidak saya bisa berkesimpulan bahwa Trulek jawa bukanlah burung pantai sejati; sebaran Trulek jawa bisa jadi lebih luas dari yang diperkirakan sebelumnya; Trulek jawa dahulu hidup di lahan-lahan basah dataran rendah Jawa.<br />
Lantas, apakah Trulek jawa masih ada saat ini di Rejotangan? Sedihnya&#8230;.mungkin sudah tidak ada lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2013/03/27/trulek-jawa-van-redjotangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasar</title>
		<link>http://ndobos.com/2013/03/13/pasar/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2013/03/13/pasar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Mar 2013 07:25:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[crita]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Ngomyang]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/?p=735</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkan suasana di pasar terbuka, tengah hari bolong, panas, dan semua penjualnya berteriak-teriak seperti berebut mempromosikan barang dagangannya sekaligus (secara fisik) menarik lengan orang baik yang memang ingin berbelanja di pasar itu maupun yang disangka ingin berbelanja. Taruhlah saya punya daftar barang yang harus saya beli, lantas daftar tersebut entah bagaimana caranya hilang begitu saja. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Bayangkan suasana di pasar terbuka, tengah hari bolong, panas, dan semua penjualnya berteriak-teriak seperti berebut mempromosikan barang dagangannya sekaligus (secara fisik) menarik lengan orang baik yang memang ingin berbelanja di pasar itu maupun yang disangka ingin berbelanja.</p>
<p>Taruhlah saya punya daftar barang yang harus saya beli, lantas daftar tersebut entah bagaimana caranya hilang begitu saja. Maka yang muncul adalah, semua teriakan tadi menjadi penting untuk didengar sambil mencoba mengingat apakah barang yang diteriakkan namanya itu ada di dalam daftar yang tadi hilang.<br />
<span id="more-735"></span><br />
Daftar barang yang harus dibeli tidak banyak, kurang dari sepuluh. Akan tetapi di tengah-tengah suasana pasar yang riuh, panas dan disesaki orang, sulit sekali mengingat apa saja yang ada di dalam daftar itu. Maka saya pulang dengan tangan kosong, meminta daftar baru. Dengan lebih berhati-hati, daftar belanjaan itu saya pegang. Dengan gagah berani saya kembali ke pasar bising, sesak dan panas tadi. Barang pertama saya dapat, demikian pula yang kedua dan ketiga. Celaka, barang keempat tidak ada demikian pula yang kelima. Suara-suara bising itu kembali mengganggu saya dengan aneka pilihan pengganti barang yang tidak ada tadi.</p>
<p>Mungkin saya harus duduk tenang sambil menikmati cendol dingin dulu. Baiklah, saya mengalah, cendol dingin saat ini lebih penting dibanding pilihan pengganti barang yang tidak ada tadi. Cuaca yang panas membuat bangku-bangku di sekitar gerobak cendol cepat terisi, semua mau duduk. Enggan mengantri duduk. Geser dan pepet saja orang yang sudah terlebih dahulu duduk. Cendol saya belum juga jadi, sementara saya yang tadinya duduk di tengah bangku sudah terdesak ke bagian ujung. Baiklah, lupakan saja soal cendol ini, dan mulai mencari pengganti barang yang tadi tidak ada dan membeli barang yang masih belum terbeli.</p>
<p>Saya kembali ke tengah kerumunan orang. Pasar masih saja bising, panas dan sesak. Saya sudah memutuskan barang apa yang akan saya beli mengganti barang yang tadi tidak ada. Sebentar, mana tadi tiga barang yang sudah saya beli. Sial&#8230;.tertinggal di tukang cendol. Saya harus kembali ke tukang cendol untuk mengambil tiga barang yang tertinggal. Tidak ada&#8230;tiga barang tadi tidak saya temukan. Mungkin sudah hilang. Baik, apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya harus mencoba mencari tiga barang yang mungkin hilang? Membeli pengganti barang yang tadi tidak ada? Membeli barang lain yang masih ada di dalam daftar? Pasarnya masih bising, sesak, dan panas.</p>
<p>Pasar itu, saat ini, ada di dalam kepala saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2013/03/13/pasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hai Kamu &#8230;</title>
		<link>http://ndobos.com/2012/11/29/hai-kamu/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2012/11/29/hai-kamu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2012 02:53:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mbuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/?p=731</guid>
		<description><![CDATA[Hai kamu yang nyasar ke mari karena dihasut oleh Mbakyu Wiwik. &#62;&#62;to be continued&#60;&#60;]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Hai kamu yang nyasar ke mari karena dihasut oleh <a href="http://www.wiwikwae.com/" target="_blank">Mbakyu Wiwik</a>.</p>
<p>&gt;&gt;to be continued&lt;&lt;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2012/11/29/hai-kamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istirahat yaaaa &#8230;</title>
		<link>http://ndobos.com/2012/11/23/istirahat-yaaaa/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2012/11/23/istirahat-yaaaa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Nov 2012 07:50:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Istirahat]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Rawat Inap]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/?p=725</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu hal yang menurut saya menyedihkan adalah saat sakit dan tidak ada yang menemani. Beberapa kali saya mengalami kejadian begini, pada saat saya hidup sendiri jauh dari siapa-siapa di negara orang lain pula, atau pada saat saya sedang tinggal di hutan. Sakitnya sendiri tidak perlu yang berat-berat seperti korengan, kadas, panu, atau kurap, cukuplah [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2012/11/INF.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-726" title="INF" src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2012/11/INF.jpg" alt="" width="450" height="336" /></a></p>
<p>Salah satu hal yang menurut saya menyedihkan adalah saat sakit dan tidak ada yang menemani. Beberapa kali saya mengalami kejadian begini, pada saat saya hidup sendiri jauh dari siapa-siapa di negara orang lain pula, atau pada saat saya sedang tinggal di hutan. Sakitnya sendiri tidak perlu yang berat-berat seperti korengan, kadas, panu, atau kurap, cukuplah yang biasa-biasa saja seperti demam tinggi disertai batuk atau pilek. Ada yang berkata, kesendirian itu membunuh, tapi ya gak segitunya juga kaleee.<br />
<span id="more-725"></span><br />
Beberapa hari yang lalu saya mengalami kecelakaan dahsyat, yang membuat saya harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Bertepatan pula dengan akhir pekan yang panjang itu, dan berantakanlah acara akhir pekan yang sudah disusun secara cermat itu. Tidak mengapa, toh kalau dipikir-pikir badan saya juga perlu istirahat, dan itu pula yang saya dengar dari dokter dan perawat &#8230; Istirahat dulu ya Pak.</p>
<p>Baiklah, saya terima bahwa saya harus istirahat. Kalau itu harus dilakukan di rumah sakit, bukan di panti pijat jemari lentik, ya sudahlah, tiada mengapa. Maka dengan gagah berani sayapun memasuki ruang rawat inap. Kamar rawat inap itu, hanya untuk saya sendiri, boleh membawa seorang teman (mau menulis penunggu kok rasanya gimana gitu) untuk menginap juga. Paling tidak tempatnya tenang, begitu pikir saya.</p>
<p>Ketukan pertama di pintu kamar, dokter jaga menanyakan bagaimana kondisi saya. Basa-basi banget to ya, mbok baca saja itu catatan medisnya, semua yang dokter tanyakan ada di situ jawabannya. Kalau istilah bocah-bocah IT, RTFM (Read the F*cking Manual). Di akhir kunjungan singkatnya itu, pak dokter berpesan, &#8220;istirahat ya&#8221;. Siap!!!</p>
<p>Tak lama kemudian, serombongan perawat masuk, memperkenalkan diri. Hadoooh mbaaaak, orang sehat saja males disuruh menghafal nama mentri, ini orang sakit kok ya diminta mengingat nama para perawat. Tak mengapa, mulai sekarang, mbak-mbak sekalian akan saya panggil suster. Rombongan pergi, setelah sebelumnya mengucapkan &#8220;istirahat ya paaaak&#8221;. Baiklah.</p>
<p>Selesai acara perkenalan, saya belum boleh veristirahat tampaknya, karena datang mengetuk pintu seorang perawat yang membawa tensimeter dan thermometer untuk mengukir tekanan  darah dan suhu tubuh saya (&#8230;kalau alat pengukur suasana hati apa namanya ya? &#8230;). Mbakyu perawat ramah lantas memberitahu hasil pengukuran. Tak lupa dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih yang dilanjutkan dengan ucapan &#8220;istirahat ya pak&#8221;.</p>
<p>Baru selesai saya merapikan lengan baju, pintu kembali diketuk, kali ini mbakyu perawat yang berugas mengantarkan obat (ada 7 macam), sembari menerangkan obat apa saja itu dan dia juga berpesan, nanti obatnya dimalan setelah makan. Baik. Siap. Mbakyu perawat pamit tanpa mengucapkan kata &#8220;istirajat ya pak&#8221;&#8230;ini kemajuan.</p>
<p>Tak lama kemudian pengantar makan tiba, sembari bertanya makanan mau ditaruh di mana? (di rumah makan padang di sebelah rumah sakit bisa?). Makanan tampak menggairahkan untuk dinikmati. Tetapi jika saya harus memilih makanan yang tidak layak santap buat saya adalah makanan di rumah sakit dan makanan di pesawat terbang.</p>
<p>Baru saja selesai bersantap pintu diketuk lagi, kali ini yang akan memberikan obat melalui injeksi (suntik). &#8220;Waaah makanannya kok belum habis Pak?&#8221; (Ha mbok saya disuapi). &#8220;Gak enak ya Pak? (Mbak mau tukeran makanan saya sama makanan di rumah Mbak?). &#8220;Usahakan dihabiskan Pak, agak tubuhnya punya tenaga (Mbak, ntuk menghabiskan makanan ini, saya perlu tenaga besar sekali).</p>
<p>Demikianlah pintu itu diketuk berkali-kali, oleh yang mengambil sisa makanan, pembersih ruangan, rombongan perawat jaga, dokter, pengantar kudapan, pengganti infus, dan lain-lain gitu deh. Perlu dicatat, hampir semua mengatakan, &#8220;istirahat ya Pak&#8221;. Dan in i juga terjadi di tengah malam (untuk mengukur tekanan darah dan suhu).</p>
<p>Pada hari berikutnya saya mulai menghitung berapa sebenarnya yang masuk selama 12 jam, tidak termasuk malam hari dan di luar pengunjung. Ada 26, yang diawali dengan pengganti alas tidur yang sekaligus menawarkan apakah saya ingin dimandikan (jam 5:15) dan diakhiri dengan pengantar makan malam (17:10). Seperti yang saya katakan tadi, hampir semua berucap &#8220;istirahat ya Pak&#8221;.<br />
Setelah akhirnya saya diijinkan keluar dari rumah sakit apakah keadaan saya bertamah baik? Entahlah. Yang pasti tekanan darah saya melonjak &#8230; macam pompa air jet pump.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2012/11/23/istirahat-yaaaa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah Pohon</title>
		<link>http://ndobos.com/2012/09/07/rumah-pohon/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2012/09/07/rumah-pohon/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Sep 2012 07:58:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[crita]]></category>
		<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[gelembung]]></category>
		<category><![CDATA[kerinduan]]></category>
		<category><![CDATA[masa kecil]]></category>
		<category><![CDATA[rumah pohon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Pada saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya dan beberapa teman memiliki sebuah rumah pohon. Ya &#8220;rumah&#8221; yang dibuat di atas pohon, entah pohon apa, mungkin Angsana. Rumah pohon itu sebenarnya tak bisa juga disebut rumah, karena sangat sederhana dan merupakan susunan papan-papan bekas saja yang dibuat sebagai tembok dan ilalang sebagai atapnya. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Pada saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya dan beberapa teman memiliki sebuah rumah pohon. Ya &#8220;rumah&#8221; yang dibuat di atas pohon, entah pohon apa, mungkin Angsana. Rumah pohon itu sebenarnya tak bisa juga disebut rumah, karena sangat sederhana dan merupakan susunan papan-papan bekas saja yang dibuat sebagai tembok dan ilalang sebagai atapnya. Ruangan rumah itu pun sempit, hanya bisa menampung empat bocah kurus yang duduk sembari melipat badan persis aktor sirkus keliling. Saya tidak ingat apakah rumah itu kami beri nama atau tidak.</p>
<p><span id="more-720"></span><br />
Walaupun tampak mengenaskan, bagi kami para pemilik rumah pohon, itulah istana kami, benteng kami yang bebas dari campur tangan orang-orang besar, dan di dalamnya kamilah para anak mudanya (anak muda = jagoan). Di dalam benteng itu pula kami punya kemerdekaan bebas dari gangguan anak-anak perempuan yang selalu memaksa kami memetik kembang bougenville untuk mereka main masak-masakan. Walaupun begitu, rumah pohon kami itu belum cukup kuat meredam suara jeritan panggilan ibu-ibu kami yang menyuruh kami untuk keluar dari rumah pohon untuk mandi, mengaji, atau menyelesaikan PR sekolah.</p>
<p>Saya ingat, sewaktu kecil saya tidak memiliki banyak hal yang bisa membuat saya takut. Dari sedikit hal yang bisa membuat saya takut itu, salah satunya adalah larangan untuk bermain di rumah pohon itu. Larangan itu bisa saja menempati urutan pertama sebagai hal yang saya takutkan, jika saja tidak ada yang namanya jeritan ibu. Bisa dimengerti, karena di rumah pohon itulah saya bisa menjadi apa yang saya mau. Di dalam rumah itu saya bisa menjadi superhero, menjadi orang yang lebih kuat dari guru-guru saya (yang rajin nyetrap saya), menjadi Gundala, Godam, Maza, atau siapapun yang saya mau. Rumah itu seolah menjadi gelembung di mana saya dan dunia saya berada.</p>
<p>Akhirnya saya harus meninggalkan rumah pohon itu. Bukan karena badan saya sudah tak lagi muat di dalamnya, tetapi karena Bapak saya harus pindah bekerja di kota lain. Itu merupakan rumah pohon saya yang pertama dan hingga saat ini, yang terakhir. Walaupun sudah berpuluh tahun saya tidak memiliki rumah pohon, tetapi saya selalu merindukan perasaan berada di dalamnya. Saya dan dunia saya, di mana saya bisa jadi apa dan siapa saja. Bermain atau bersenang-senang di dalamnya, bebas dari apapun dan siapapun &#8230; hingga ada suara teriakan yang menyuruh saya pulang dan mandi <img src='http://ndobos.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2012/09/07/rumah-pohon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyelam Agar Tidak Blingsatan</title>
		<link>http://ndobos.com/2012/09/05/menyelam-agar-tidak-blingsatan/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2012/09/05/menyelam-agar-tidak-blingsatan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Sep 2012 11:11:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[crita]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[diving]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[menyelam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/?p=713</guid>
		<description><![CDATA[Ini tulisan untuk sekadar menjawab pertanyaan mengapa saya blingsatan kalau lama tidak menyelam. Jadi begini, tiga tahun belakangan ini, dunia kerja saya praktis berputar di hal-hal yang berkaitan dengan laut dan isinya. Menyelam (scuba diving) menjadi bagian dari pekerjaan itu. Awalnya sulit bagi saya untuk menyelam. Jangankan menyelam yg harus berendam sepenuh badan di dalam [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2012/09/dive-113a.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-714" title="Enter the Unknown" src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2012/09/dive-113a.jpg" alt="Enter the Unknown" width="450" height="600" /></a></p>
<p>Ini tulisan untuk sekadar menjawab pertanyaan mengapa saya blingsatan kalau lama tidak menyelam. Jadi begini, tiga tahun belakangan ini, dunia kerja saya praktis berputar di hal-hal yang berkaitan dengan laut dan isinya. Menyelam (scuba diving) menjadi bagian dari pekerjaan itu. Awalnya sulit bagi saya untuk menyelam. Jangankan menyelam yg harus berendam sepenuh badan di dalam air, saya itu disuruh mandi saja susah. Saya orang darat, persis seperti di lagu film Ninja Hattori, &#8220;mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama kawan bertualang&#8221;.<br />
<span id="more-713"></span><br />
Begitulah, lantas saya belajar untuk tidak takut pada air, warna biru pekat yang identik dengan kedalaman, dan ketakutan-ketakutan logis semacam bagaimana jika alat untuk saya bernapas macet, bagaimana jika udara habis, bagaimana jika instrumen penunjuk kedalaman atau sisa udara di tabung bertingkah ganjil, dan sebagainya dan sebagainya. Ketakutan-ketakutan itu pada akhirnya tidak saya lawan, tapi saya terima sebagai sesuatu yang harus dipersiapkan jika hal tersebut terjadi. Begitulah, Sayapun lantas belajar menyelam dari rekan kerja di Taman Nasional Laut Wakatobi.</p>
<p>Petualangan baru telah dimulai, dan sejak itu saya nyaris tak terpisahkan dari laut. Selain karena pekerjaan menharuskan saya melakukan itu, ada dorongan lain yang menyebabkan saya sulit berpisah dari laut. Lantas menyelam bukan lagi urusan kerja semata, tetapi juga sudah merupakan kebutuhan jiwa. Terlalu lama di darat tanpa menyentuh air laut, saya bisa blingsatan.</p>
<p>Saya sering menganalogikan menyelam seperti sedang pacaran. Suasana pacaran yang menurut saya ideal. Begini, ada debaran kencang dan keinginan untuk segera bertemu. Kemudian saya harus &#8220;berdandan&#8221; agar saya bisa diterima oleh pacar sembari tersenyum. Ada sedikit keraguan pada saat akan memasuki rumahnya, dan tidak berharap pintu dibuka oleh bapaknya (apalagi jika bapaknya masih harus ikut kursus senyum).</p>
<p>Ketika sudah bertemu dengan sang pacar, kata-kata menjadi tidak perlu. Semua percakapan bisa dilakukan dalam diam, saya bisa mengambang seolah terbang tanpa beban. Berat badan saya yang bisa membuat kuda nil cemburu, seolah lenyap, seringan bulu. Sepi sekali, yang terdengar hanya helaan nafas. Saya bisa bercerita, mengadu, atau berbagi kelucuan, sementara dia mendengarkan dengan sabar sambil tersenyum. Semua tanpa suara dan di sini saya seperti sedang membuang semua beban saya tanpa rasa takut akan dihakimi. Hanya ada kami berdua saja, saya dan laut serta semua keindahannya itu.</p>
<p>Ada perasaan gundah yang sangat ketika hendak berpamitan dengannya. Saya tidak semerta-merta pergi begitu saja, tetapi semua dilakukan dalam sebuah ritual perlahan yang menggambarkan keengganan untuk berpisah hingga sisa udara terakhir yang ada di dalam tabung. Ketika kunjungan berakhir, ada kenangan yang menggelayut nakal di benak. Lantas ada janji pada diri sendiri, saya akan datang lagi. Lantas saya bisa pulang dengan pikiran yang lebih tenang.</p>
<p>Jadi sekarang sudah jelas bukan, kenapa saya bisa blingsatan kalau lama tidak menyelam?</p>
<p><em>Foto oleh Rizya Ardiwijaya</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2012/09/05/menyelam-agar-tidak-blingsatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pulang</title>
		<link>http://ndobos.com/2011/11/14/pulang-2/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2011/11/14/pulang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 03:08:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[crita]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[Adaptasi]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/2011/11/14/pulang-2/</guid>
		<description><![CDATA[Hampir selama empat tahun terakhir ini, jika saya menyebut kata &#8220;saya akan pulang&#8221; itu berarti saya akan ke Bali. Kata &#8220;pulang&#8221; identik dengan &#8220;Bali&#8221;, tempat di mana saya bekerja dan tinggal. Lantas kenapa kalau saya pulangnya ke Bali? Soalnya adalah, rumah saya yang sesungguhnya dan keluarga saya ada di Bogor. Saya baru menyadari soal &#8220;pulang&#8221; [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir selama empat tahun terakhir ini, jika saya menyebut kata &#8220;saya akan pulang&#8221; itu berarti saya akan ke Bali. Kata &#8220;pulang&#8221; identik dengan &#8220;Bali&#8221;, tempat di mana saya bekerja dan tinggal. Lantas kenapa kalau saya pulangnya ke Bali? Soalnya adalah, rumah saya yang sesungguhnya dan keluarga saya ada di Bogor. Saya baru menyadari soal &#8220;pulang&#8221; ini setelah diberitahu oleh <a href="http://catatanlepas.tumblr.com/" target="_blank">Dewi</a>.<br />
<span id="more-711"></span><br />
Sekitar sebulan yang lalu saya memutuskan untuk berhenti bekerja di Bali dan kembali ke Bogor. Lantas ada banyak yang mengucapkan selamat atas &#8220;pulangnya&#8221; saya ke Bogor.   &#8220;Akhirnya, pulang juga&#8221; dan mereka turut gembira, demikian katanya, walaupun pada saat saya di Bali tidak ada yang bilang ke saya kalau mereka sedih.</p>
<p>Sejujurnya, perasaan saya campur aduk pada saat harus kembali ke Bogor. Praktis sejak tahun 1997 saya seringkali bepergian meninggalkan keluarga. Puncaknya terjadi di tahun 2001 hingga sekarang. Ini bukan soal senang atau tidak. Saat ini saya lebih berpikir bagaimana caranya beradaptasi kembali ke kehidupan keluarga yang &#8220;normal&#8221;, dimana semua berkumpul di bawah satu atap.</p>
<p>Pada saat saya sedang &#8220;menengok&#8221; keluarga di Bogor, saya sadar bahwa saya tidak bisa berlama-lama di rumah. Jika saya terlalu lama berada di Bogor, anak saya yang paling kecil akan bilang &#8220;Bapak kapan sih balik lagi ke Bali?! Sudah kelamaan di Bogor.&#8221; Kalau sudah begini, saya juga merasa tidak nyaman, karena kedamaian anak saya itu sudah terusik oleh kehadiran sang pria tampan nan baik hati tetapi berkelakuan ganjil.</p>
<p>Sementara ketika saya sedang menjadi bujangan geografis di Inggris, Jepang dan kemudian di Bali, aturan yang ada adalah aturan saya, mau-maunya saya, kalau situ ada masalah itu masalah situ bukan masalah saya. Ini sangat menguntungkan buat saya, karena saya sangat impulsif. Bisa saja saya bangun pagi tiba-tiba hendak pergi birdwatching di Titchwell, atau di Teluk Tokyo, atau menyelam di Tulamben, atau ingin nongkrong dengan teman-teman di Jogja, dan saya langsung saja pergi. Tidak perlu rencana, tidak perlu memikirkan orang lain. Hal-hal begini tentunya tidak lagi mudah saya lakukan.</p>
<p>Hal lain adalah, ketika saya pergi meninggalkan rumah, anak-anak saya masih lucu-lucunya. Sekarang mereka sudah dewasa dan mereka juga mempunyai dunia mereka sendiri. Sayangnya, yang tertancap diingatan saya itu, mereka masih anak kecil. Lagipula yang tinggal di Bogor saat ini praktis hanya si bungsu karena kakaknya tinggal dan kuliah di Jakarta.</p>
<p>Belakangan saya sering terkaget-kaget dengan tingkah mereka, yang sebenarnya wajar-wajar saja untuk anak seumuran mereka. Ada kisah pendek soal ini. Pada saat saya memutuskan tanggal kepulangan saya ke Bogor, salah satu faktor penentu adalah tanggal ulang tahun anak sulung saya. Dia berulang tahun tanggal 11 November, dan saya memutuskan untuk kembali ke Bogor tanggal 10 November. Lantas saya menyampaikan &#8220;berita bahagia&#8221; ini: &#8220;Setelah sekian lama, akhirnya Bapak bisa juga besama kamu pas ulang tahunmu nanti&#8221;. Jawaban yang saya terima &#8220;Tanggal itu aku gak bisa pulang Pak, ada kerjaan!.&#8221; Hingga tulisan ini selesai saya buat, saya belum bertemu dia.</p>
<p>Intinya, kami harus saling menyesuaikan diri (lagi). Saya harus mampu menekan dorongan impulsif saya, sementara mereka harus mampu bersabar menghadapi keganjilan saya dan banyak maunya pula.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2011/11/14/pulang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Punya</title>
		<link>http://ndobos.com/2011/08/10/punya/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2011/08/10/punya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 18:18:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[personal]]></category>
		<category><![CDATA[punya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/2011/08/10/punya/</guid>
		<description><![CDATA[Karena sebab ini itu yang &#8220;ya begitu deh&#8221;, kepala saya harus dipindai dengan CT Scan dan MRI. Tidak ada yang istimewa mungkin, terutama bagi sang operator alat. Untuk saya, kalaupun ada yang istimewa maka itu adalah, sekarang saya punya bukti amat sangat kuat kalau saya punya otak. Perkara otaknya dipakai atau tidak, itu soal lain. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/08/otak.jpg" alt="otak.jpg" /></p>
<p>Karena sebab ini itu yang &#8220;ya begitu deh&#8221;, kepala saya harus dipindai dengan CT Scan dan MRI. Tidak ada yang istimewa mungkin, terutama bagi sang operator alat. Untuk saya, kalaupun ada yang istimewa maka itu adalah, sekarang saya punya bukti amat sangat kuat kalau saya punya otak. Perkara otaknya dipakai atau tidak, itu soal lain. Seperti tergambar pada percakapan dengan kawan berikut ini :</p>
<p>Saya: Sekarang, saya punya bukti sangat kuat kalau saya punya otak. *dengan nada pongah*<br />
Kawan: Punya doang? Dipakai nggak? *dengan nada nyinyir*</p>
<p><span id="more-710"></span><br />
Akibatnya saya hanya bisa menjawab dengan kalimat norak ultra defensif &#8220;Mau dipakai atau nggak itu urusan saya, yang penting saya punya. Ngerti!!!&#8221; Tidak ada yang salah sebenarnya dengan pertanyaan kawan itu. Toh kalaupun arah pertanyaannya adalah saya sering sekali ndak pakai otak mungkin dia benar. Saya hanya sekadar punya, yang rasanya kok gimana gitu ya.</p>
<p>Sekadar punya apa yang bikin repot? Sekadar punya uang, tapi ndak pernah dipakai. Ini mengingatkan saya pada Paman Gober (Scrooge McDuck), bebek kaya raya super kikir ciptaan Carl Barks, yang hobinya berenang di uang logam itu. Dia harus membangun gudang uang maha besar dan menjaga uang-uangnya dari para bandit. Praktis uangnya hanya dipakai untuk menjaga uangnya (mumet?).</p>
<p>Lantas apa lagi yang saya sekarang sekadar punya? Blog. Iya, blog ini. Jarang sekali saya tengok, apalagi saya update. Kadang terlantar beberapa minggu kalau tidak malah lebih. Pernah saya sampai lupa apa kata sandi untuk mengunggah tulisan.Urusan ini memang agak menjengkelkan, terutama kalau ada kawan yang bolak-balik tanya, walaupun sebenarnya saya pernah bilang bahwa blog ini akan saya update secara berkala &#8230; kala sempat.</p>
<p>Apakah ini artinya semangat berbagi saya lewat text menurun? Sebentar, ini ada dua hal. Pertama, semangat berbagi saya rasanya tidak menurun, mungkin malah bertambah. Ini kegiatan yang paling saya nikmati. Dahulu seorang kawan ada berkata, &#8220;Berbagi tak pernah rugi.&#8221; Karena saya semprul dan sontoloyo, kalimat bagus itu saya tambahi &#8220;Berbagi tak pernah rugi, apalagi tidak berbagi.&#8221; Pada kenyataannya, kalau saya tidak berbagi saya yang rugi. Paling tidak, saya tidak bisa mengeluarkan uneg-uneg saya.</p>
<p>Kedua soal berbagai lewat text. Saya akui kemampuan saya dalam menghasilkan tulisan sudah jauh menurun jika dibandingkan dahulu yg pernah sampai satu tulisan per hari bahkan lebih.Banyak hal bisa saya tuding sebagai penyebab, dan saya tahu persis, hanya dengan menuding tidak akan menyelesaikan masalah (lho, masalahnya apa ya?).</p>
<p>Dengan nada menuduh saya yakin sampeyan juga mestinya punya sesuatu yang sekadar punya. Bisa cerita soal itu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2011/08/10/punya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak yang aneh</title>
		<link>http://ndobos.com/2011/07/26/anak-yang-aneh/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2011/07/26/anak-yang-aneh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 18:02:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[crita]]></category>
		<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Adek]]></category>
		<category><![CDATA[berlibur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/2011/07/26/anak-yang-aneh/</guid>
		<description><![CDATA[Saya pergi bekerja. Anak saya ikut ke tempat saya bekerja itu, dan baginya ini adalah liburan. Anak yang aneh. Biar sajalah, yang penting dia bahagia. Pulang dari &#8220;liburan&#8221; ini, selain kelelahan badannya juga gosong, anehnya dia kok ya ndak kapok. Anak yang aneh. Biar sajalah, yang penting dia bahagia.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Saya pergi bekerja. Anak saya ikut ke tempat saya bekerja itu, dan baginya ini adalah liburan. Anak yang aneh. Biar sajalah, yang penting dia bahagia.</p>
<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/07/adek-libur1.jpg" alt="adek-libur1.jpg" /></p>
<p><span id="more-708"></span></p>
<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/07/adek-libur2.jpg" alt="adek-libur2.jpg" /></p>
<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/07/adek-libur3.jpg" alt="adek-libur3.jpg" /></p>
<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/07/adek-libur4.jpg" alt="adek-libur4.jpg" /><br />
Pulang dari &#8220;liburan&#8221; ini, selain kelelahan badannya juga gosong, anehnya dia kok ya ndak kapok. Anak yang aneh. Biar sajalah, yang penting dia bahagia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2011/07/26/anak-yang-aneh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>World Oceans Day</title>
		<link>http://ndobos.com/2011/06/08/world-oceans-day/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2011/06/08/world-oceans-day/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 09:28:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[apa ini]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu]]></category>
		<category><![CDATA[crita]]></category>
		<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[World Oceans Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/2011/06/08/world-oceans-day/</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, tanggal 8 Juni, diperingati sebagai World Oceans Day. Peringatan begini ya wajar-wajar saja, karena Bumi sebagai sebuah planet, 70% permukaannya berupa laut. Saya sendiri termasuk &#8220;orang baru&#8221; dalam hal laut. Pekerjaan saya beberapa tahun belakangan ini membawa saya lebih dekat pada laut. Buat saya, agak mencengangkan awalnya betapa sedikitnya pengetahuan kita akan laut. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/06/wod_logo_small.jpg" alt="wod_logo_small.jpg" /></p>
<p>Hari ini, tanggal 8 Juni, diperingati sebagai World Oceans Day. Peringatan begini ya wajar-wajar saja, karena Bumi sebagai sebuah planet, 70% permukaannya berupa laut. Saya sendiri termasuk &#8220;orang baru&#8221; dalam hal laut. Pekerjaan saya beberapa tahun belakangan ini membawa saya lebih dekat pada laut. Buat saya, agak mencengangkan awalnya betapa sedikitnya pengetahuan kita akan laut. Bahkan ada yang berkata, kita lebih banyak tahu tentang luar angkasa dibandingkan dengan laut.</p>
<p><span id="more-703"></span><br />
Tengok saja, ada berapa orangkah yang sudah pernah pergi ke luar angkasa? Tidak sulit menemukan angkanya. Konon kabarnya lebih dari 500 orang pernah bepergian ke luar angkasa, bahkan 12 diantaranya pernah jalan-jalan di bulan dan kembali lagi ke bumi (mungkin karena ndak betah). Wah wah wah, masih sedikit sekali ya. Benar? Tidak juga. Coba bandingkan dengan jumlah orang yang pernah mendatangi laut paling dalam di Bumi, Challenger Deep yang ada di Palung Mariana. Hanya 2 orang, Jacques Piccard dan Don Walsh dengan menggunakan kapal selam Trieste pada tahun 1960.</p>
<p>Ah, tapi ini kan jaman maju, tidak perlulah mengirim orang ke dasar laut sana untuk mencari tahu ada apa di dalamnya. Baiklah jika demikian, ada berapa mesin/benda buatan manusia yang dilontarkan ke ruang angkasa sana, termasuk yang dibuat untuk ditabrakan ke komet, untuk meneliti ada apa di luar angkasa? Ratusan? Ribuan? Lantas ada berapa mesin yang dicemplungkan ke Palung Mariana? Hanya 3.</p>
<p>Apa pasal sehingga jadi demikian? Ada banyak alasan yang dilontarkan. Salah satunya adalah tekanan sangat besar yang dialami benda jika dicemplungkan ke laut. Contoh ekstrim, konon kabarnya jika kita dicemplungkan ke Challenger Deep yang dalamnya nyaris 11 km itu tanpa pelindung apa-apa, tekanan yang diterima tubuh kita seperti sedang ditindih 48 pesawat Boeing 747. Saya tidak tahu, apakah yang dimaksud itu pesawat kosong atau pesawat penuh berisi rombongan wisatawan Indonesia yang baru pulang belanja dari Hong Kong.</p>
<p>Baiklah, tidak usahlah dulu menyelam ke tempat-tempat yang dalam itu. Mari kita lihat isi laut di tempat yang relatif dangkal-dangkal saja. Inipun tidak banyak yang kita tahu, buktinya masih saja ada penemuan jenis mahluk hidup (spesies) baru dalam jumlah lumayan banyak setiap kali diadakan ekspedisi penelitian bawah laut. Di wilayah Bentang Laut Kepala Burung di Papua ditemukan 50 spesies baru mahluk laut, termasuk hiu. Jika ini dianggap wajar, karena Papua relatif &#8220;sulit&#8221; dan &#8220;mahal&#8221; untuk didatangi, mari kita tengok Bali. Ada banyak orang pergi menyelam di sini. Di tempat yang selalu ramai dikunjungi oleh banyak penyelam ini saja, baru-baru ini ditemukan sembilan spesies baru ikan.</p>
<p>Saya bukanlah seorang ahli biologi laut, sekadar penikmat saja. Setiap kali saya menyelam, ada saja hal-hal baru (paling tidak buat saya) yang saya lihat. Hal-hal begini selalu membuat saya takjub, walaupun tidak sampai terperangah hingga mulut menganga lebar (nanti saya kelelep). Seorang kawan berkata, ada ratusan juta orang yang hidupnya bergantung akan kelestarian laut, jika lingkungan laut rusak, bisa selesai itu hidup mereka. Saya tambahkan, tidak hanya mereka, kita juga selesai.</p>
<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/06/wod.jpg" alt="wod.jpg" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2011/06/08/world-oceans-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
