<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ndobos Pol</title>
	<atom:link href="http://ndobos.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ndobos.com</link>
	<description>Catatan Sir Mbilung MacNdobos</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Nov 2011 03:08:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Pulang</title>
		<link>http://ndobos.com/2011/11/14/pulang-2/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2011/11/14/pulang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 03:08:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[crita]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[Adaptasi]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/2011/11/14/pulang-2/</guid>
		<description><![CDATA[Hampir selama empat tahun terakhir ini, jika saya menyebut kata &#8220;saya akan pulang&#8221; itu berarti saya akan ke Bali. Kata &#8220;pulang&#8221; identik dengan &#8220;Bali&#8221;, tempat di mana saya bekerja dan tinggal. Lantas kenapa kalau saya pulangnya ke Bali? Soalnya adalah, rumah saya yang sesungguhnya dan keluarga saya ada di Bogor. Saya baru menyadari soal &#8220;pulang&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir selama empat tahun terakhir ini, jika saya menyebut kata &#8220;saya akan pulang&#8221; itu berarti saya akan ke Bali. Kata &#8220;pulang&#8221; identik dengan &#8220;Bali&#8221;, tempat di mana saya bekerja dan tinggal. Lantas kenapa kalau saya pulangnya ke Bali? Soalnya adalah, rumah saya yang sesungguhnya dan keluarga saya ada di Bogor. Saya baru menyadari soal &#8220;pulang&#8221; ini setelah diberitahu oleh <a href="http://catatanlepas.tumblr.com/" target="_blank">Dewi</a>.<br />
<span id="more-711"></span><br />
Sekitar sebulan yang lalu saya memutuskan untuk berhenti bekerja di Bali dan kembali ke Bogor. Lantas ada banyak yang mengucapkan selamat atas &#8220;pulangnya&#8221; saya ke Bogor.   &#8220;Akhirnya, pulang juga&#8221; dan mereka turut gembira, demikian katanya, walaupun pada saat saya di Bali tidak ada yang bilang ke saya kalau mereka sedih.</p>
<p>Sejujurnya, perasaan saya campur aduk pada saat harus kembali ke Bogor. Praktis sejak tahun 1997 saya seringkali bepergian meninggalkan keluarga. Puncaknya terjadi di tahun 2001 hingga sekarang. Ini bukan soal senang atau tidak. Saat ini saya lebih berpikir bagaimana caranya beradaptasi kembali ke kehidupan keluarga yang &#8220;normal&#8221;, dimana semua berkumpul di bawah satu atap.</p>
<p>Pada saat saya sedang &#8220;menengok&#8221; keluarga di Bogor, saya sadar bahwa saya tidak bisa berlama-lama di rumah. Jika saya terlalu lama berada di Bogor, anak saya yang paling kecil akan bilang &#8220;Bapak kapan sih balik lagi ke Bali?! Sudah kelamaan di Bogor.&#8221; Kalau sudah begini, saya juga merasa tidak nyaman, karena kedamaian anak saya itu sudah terusik oleh kehadiran sang pria tampan nan baik hati tetapi berkelakuan ganjil.</p>
<p>Sementara ketika saya sedang menjadi bujangan geografis di Inggris, Jepang dan kemudian di Bali, aturan yang ada adalah aturan saya, mau-maunya saya, kalau situ ada masalah itu masalah situ bukan masalah saya. Ini sangat menguntungkan buat saya, karena saya sangat impulsif. Bisa saja saya bangun pagi tiba-tiba hendak pergi birdwatching di Titchwell, atau di Teluk Tokyo, atau menyelam di Tulamben, atau ingin nongkrong dengan teman-teman di Jogja, dan saya langsung saja pergi. Tidak perlu rencana, tidak perlu memikirkan orang lain. Hal-hal begini tentunya tidak lagi mudah saya lakukan.</p>
<p>Hal lain adalah, ketika saya pergi meninggalkan rumah, anak-anak saya masih lucu-lucunya. Sekarang mereka sudah dewasa dan mereka juga mempunyai dunia mereka sendiri. Sayangnya, yang tertancap diingatan saya itu, mereka masih anak kecil. Lagipula yang tinggal di Bogor saat ini praktis hanya si bungsu karena kakaknya tinggal dan kuliah di Jakarta.</p>
<p>Belakangan saya sering terkaget-kaget dengan tingkah mereka, yang sebenarnya wajar-wajar saja untuk anak seumuran mereka. Ada kisah pendek soal ini. Pada saat saya memutuskan tanggal kepulangan saya ke Bogor, salah satu faktor penentu adalah tanggal ulang tahun anak sulung saya. Dia berulang tahun tanggal 11 November, dan saya memutuskan untuk kembali ke Bogor tanggal 10 November. Lantas saya menyampaikan &#8220;berita bahagia&#8221; ini: &#8220;Setelah sekian lama, akhirnya Bapak bisa juga besama kamu pas ulang tahunmu nanti&#8221;. Jawaban yang saya terima &#8220;Tanggal itu aku gak bisa pulang Pak, ada kerjaan!.&#8221; Hingga tulisan ini selesai saya buat, saya belum bertemu dia.</p>
<p>Intinya, kami harus saling menyesuaikan diri (lagi). Saya harus mampu menekan dorongan impulsif saya, sementara mereka harus mampu bersabar menghadapi keganjilan saya dan banyak maunya pula.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2011/11/14/pulang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Punya</title>
		<link>http://ndobos.com/2011/08/10/punya/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2011/08/10/punya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 18:18:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[personal]]></category>
		<category><![CDATA[punya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/2011/08/10/punya/</guid>
		<description><![CDATA[Karena sebab ini itu yang &#8220;ya begitu deh&#8221;, kepala saya harus dipindai dengan CT Scan dan MRI. Tidak ada yang istimewa mungkin, terutama bagi sang operator alat. Untuk saya, kalaupun ada yang istimewa maka itu adalah, sekarang saya punya bukti amat sangat kuat kalau saya punya otak. Perkara otaknya dipakai atau tidak, itu soal lain. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/08/otak.jpg" alt="otak.jpg" /></p>
<p>Karena sebab ini itu yang &#8220;ya begitu deh&#8221;, kepala saya harus dipindai dengan CT Scan dan MRI. Tidak ada yang istimewa mungkin, terutama bagi sang operator alat. Untuk saya, kalaupun ada yang istimewa maka itu adalah, sekarang saya punya bukti amat sangat kuat kalau saya punya otak. Perkara otaknya dipakai atau tidak, itu soal lain. Seperti tergambar pada percakapan dengan kawan berikut ini :</p>
<p>Saya: Sekarang, saya punya bukti sangat kuat kalau saya punya otak. *dengan nada pongah*<br />
Kawan: Punya doang? Dipakai nggak? *dengan nada nyinyir*</p>
<p><span id="more-710"></span><br />
Akibatnya saya hanya bisa menjawab dengan kalimat norak ultra defensif &#8220;Mau dipakai atau nggak itu urusan saya, yang penting saya punya. Ngerti!!!&#8221; Tidak ada yang salah sebenarnya dengan pertanyaan kawan itu. Toh kalaupun arah pertanyaannya adalah saya sering sekali ndak pakai otak mungkin dia benar. Saya hanya sekadar punya, yang rasanya kok gimana gitu ya.</p>
<p>Sekadar punya apa yang bikin repot? Sekadar punya uang, tapi ndak pernah dipakai. Ini mengingatkan saya pada Paman Gober (Scrooge McDuck), bebek kaya raya super kikir ciptaan Carl Barks, yang hobinya berenang di uang logam itu. Dia harus membangun gudang uang maha besar dan menjaga uang-uangnya dari para bandit. Praktis uangnya hanya dipakai untuk menjaga uangnya (mumet?).</p>
<p>Lantas apa lagi yang saya sekarang sekadar punya? Blog. Iya, blog ini. Jarang sekali saya tengok, apalagi saya update. Kadang terlantar beberapa minggu kalau tidak malah lebih. Pernah saya sampai lupa apa kata sandi untuk mengunggah tulisan.Urusan ini memang agak menjengkelkan, terutama kalau ada kawan yang bolak-balik tanya, walaupun sebenarnya saya pernah bilang bahwa blog ini akan saya update secara berkala &#8230; kala sempat.</p>
<p>Apakah ini artinya semangat berbagi saya lewat text menurun? Sebentar, ini ada dua hal. Pertama, semangat berbagi saya rasanya tidak menurun, mungkin malah bertambah. Ini kegiatan yang paling saya nikmati. Dahulu seorang kawan ada berkata, &#8220;Berbagi tak pernah rugi.&#8221; Karena saya semprul dan sontoloyo, kalimat bagus itu saya tambahi &#8220;Berbagi tak pernah rugi, apalagi tidak berbagi.&#8221; Pada kenyataannya, kalau saya tidak berbagi saya yang rugi. Paling tidak, saya tidak bisa mengeluarkan uneg-uneg saya.</p>
<p>Kedua soal berbagai lewat text. Saya akui kemampuan saya dalam menghasilkan tulisan sudah jauh menurun jika dibandingkan dahulu yg pernah sampai satu tulisan per hari bahkan lebih.Banyak hal bisa saya tuding sebagai penyebab, dan saya tahu persis, hanya dengan menuding tidak akan menyelesaikan masalah (lho, masalahnya apa ya?).</p>
<p>Dengan nada menuduh saya yakin sampeyan juga mestinya punya sesuatu yang sekadar punya. Bisa cerita soal itu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2011/08/10/punya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak yang aneh</title>
		<link>http://ndobos.com/2011/07/26/anak-yang-aneh/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2011/07/26/anak-yang-aneh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 18:02:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[crita]]></category>
		<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Adek]]></category>
		<category><![CDATA[berlibur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/2011/07/26/anak-yang-aneh/</guid>
		<description><![CDATA[Saya pergi bekerja. Anak saya ikut ke tempat saya bekerja itu, dan baginya ini adalah liburan. Anak yang aneh. Biar sajalah, yang penting dia bahagia. Pulang dari &#8220;liburan&#8221; ini, selain kelelahan badannya juga gosong, anehnya dia kok ya ndak kapok. Anak yang aneh. Biar sajalah, yang penting dia bahagia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya pergi bekerja. Anak saya ikut ke tempat saya bekerja itu, dan baginya ini adalah liburan. Anak yang aneh. Biar sajalah, yang penting dia bahagia.</p>
<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/07/adek-libur1.jpg" alt="adek-libur1.jpg" /></p>
<p><span id="more-708"></span></p>
<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/07/adek-libur2.jpg" alt="adek-libur2.jpg" /></p>
<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/07/adek-libur3.jpg" alt="adek-libur3.jpg" /></p>
<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/07/adek-libur4.jpg" alt="adek-libur4.jpg" /><br />
Pulang dari &#8220;liburan&#8221; ini, selain kelelahan badannya juga gosong, anehnya dia kok ya ndak kapok. Anak yang aneh. Biar sajalah, yang penting dia bahagia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2011/07/26/anak-yang-aneh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>World Oceans Day</title>
		<link>http://ndobos.com/2011/06/08/world-oceans-day/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2011/06/08/world-oceans-day/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jun 2011 09:28:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[apa ini]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu]]></category>
		<category><![CDATA[crita]]></category>
		<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[World Oceans Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/2011/06/08/world-oceans-day/</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, tanggal 8 Juni, diperingati sebagai World Oceans Day. Peringatan begini ya wajar-wajar saja, karena Bumi sebagai sebuah planet, 70% permukaannya berupa laut. Saya sendiri termasuk &#8220;orang baru&#8221; dalam hal laut. Pekerjaan saya beberapa tahun belakangan ini membawa saya lebih dekat pada laut. Buat saya, agak mencengangkan awalnya betapa sedikitnya pengetahuan kita akan laut. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/06/wod_logo_small.jpg" alt="wod_logo_small.jpg" /></p>
<p>Hari ini, tanggal 8 Juni, diperingati sebagai World Oceans Day. Peringatan begini ya wajar-wajar saja, karena Bumi sebagai sebuah planet, 70% permukaannya berupa laut. Saya sendiri termasuk &#8220;orang baru&#8221; dalam hal laut. Pekerjaan saya beberapa tahun belakangan ini membawa saya lebih dekat pada laut. Buat saya, agak mencengangkan awalnya betapa sedikitnya pengetahuan kita akan laut. Bahkan ada yang berkata, kita lebih banyak tahu tentang luar angkasa dibandingkan dengan laut.</p>
<p><span id="more-703"></span><br />
Tengok saja, ada berapa orangkah yang sudah pernah pergi ke luar angkasa? Tidak sulit menemukan angkanya. Konon kabarnya lebih dari 500 orang pernah bepergian ke luar angkasa, bahkan 12 diantaranya pernah jalan-jalan di bulan dan kembali lagi ke bumi (mungkin karena ndak betah). Wah wah wah, masih sedikit sekali ya. Benar? Tidak juga. Coba bandingkan dengan jumlah orang yang pernah mendatangi laut paling dalam di Bumi, Challenger Deep yang ada di Palung Mariana. Hanya 2 orang, Jacques Piccard dan Don Walsh dengan menggunakan kapal selam Trieste pada tahun 1960.</p>
<p>Ah, tapi ini kan jaman maju, tidak perlulah mengirim orang ke dasar laut sana untuk mencari tahu ada apa di dalamnya. Baiklah jika demikian, ada berapa mesin/benda buatan manusia yang dilontarkan ke ruang angkasa sana, termasuk yang dibuat untuk ditabrakan ke komet, untuk meneliti ada apa di luar angkasa? Ratusan? Ribuan? Lantas ada berapa mesin yang dicemplungkan ke Palung Mariana? Hanya 3.</p>
<p>Apa pasal sehingga jadi demikian? Ada banyak alasan yang dilontarkan. Salah satunya adalah tekanan sangat besar yang dialami benda jika dicemplungkan ke laut. Contoh ekstrim, konon kabarnya jika kita dicemplungkan ke Challenger Deep yang dalamnya nyaris 11 km itu tanpa pelindung apa-apa, tekanan yang diterima tubuh kita seperti sedang ditindih 48 pesawat Boeing 747. Saya tidak tahu, apakah yang dimaksud itu pesawat kosong atau pesawat penuh berisi rombongan wisatawan Indonesia yang baru pulang belanja dari Hong Kong.</p>
<p>Baiklah, tidak usahlah dulu menyelam ke tempat-tempat yang dalam itu. Mari kita lihat isi laut di tempat yang relatif dangkal-dangkal saja. Inipun tidak banyak yang kita tahu, buktinya masih saja ada penemuan jenis mahluk hidup (spesies) baru dalam jumlah lumayan banyak setiap kali diadakan ekspedisi penelitian bawah laut. Di wilayah Bentang Laut Kepala Burung di Papua ditemukan 50 spesies baru mahluk laut, termasuk hiu. Jika ini dianggap wajar, karena Papua relatif &#8220;sulit&#8221; dan &#8220;mahal&#8221; untuk didatangi, mari kita tengok Bali. Ada banyak orang pergi menyelam di sini. Di tempat yang selalu ramai dikunjungi oleh banyak penyelam ini saja, baru-baru ini ditemukan sembilan spesies baru ikan.</p>
<p>Saya bukanlah seorang ahli biologi laut, sekadar penikmat saja. Setiap kali saya menyelam, ada saja hal-hal baru (paling tidak buat saya) yang saya lihat. Hal-hal begini selalu membuat saya takjub, walaupun tidak sampai terperangah hingga mulut menganga lebar (nanti saya kelelep). Seorang kawan berkata, ada ratusan juta orang yang hidupnya bergantung akan kelestarian laut, jika lingkungan laut rusak, bisa selesai itu hidup mereka. Saya tambahkan, tidak hanya mereka, kita juga selesai.</p>
<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/06/wod.jpg" alt="wod.jpg" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2011/06/08/world-oceans-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obrolan Jamban</title>
		<link>http://ndobos.com/2011/05/27/obrolan-jamban/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2011/05/27/obrolan-jamban/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 06:48:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[crita]]></category>
		<category><![CDATA[bilik air]]></category>
		<category><![CDATA[jamban]]></category>
		<category><![CDATA[kamar kecil]]></category>
		<category><![CDATA[mbuh wis ah]]></category>
		<category><![CDATA[peturasan]]></category>
		<category><![CDATA[tandas]]></category>
		<category><![CDATA[toilet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/2011/05/27/obrolan-jamban/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi saya, yang namanya toilet, jamban, peturasan, tandas, kamar kecil, bilik air, apapun namanya itu, adalah soal penting. Manakala saya harus menginap di sebuah penginapan misalnya, maka tempat yang pertama saya longok adalah jamban. Bukan untuk langsung melepas hajat, tetapi untuk melihat apakah hajat saya bisa dibuang di tempat itu, atau malah hajat enggan keluar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/05/toilet2.jpg" alt="toilet2.jpg" /></p>
<p>Bagi saya, yang namanya toilet, jamban, peturasan, tandas, kamar kecil, bilik air, apapun namanya itu, adalah soal penting. Manakala saya harus menginap di sebuah penginapan misalnya, maka tempat yang pertama saya longok adalah jamban. Bukan untuk langsung melepas hajat, tetapi untuk melihat apakah hajat saya bisa dibuang di tempat itu, atau malah hajat enggan keluar dan tetap bersemayam di dalam tubuh hingga saya menemukan jamban yang layak tongkrong.<br />
<span id="more-700"></span><br />
Bersih, tak berbau yang gimana gitu, dan kering itu salah tiga syarat utama. Lokasi dan cara pemakaian tidaklah begitu penting buat saya. Western (mengacu pada jamban duduk) atau Eastern (mengacu pada jamban jongkok) tidak pula menjadi soal. Dahulu saya pernah menemukan jamban apung umum di sungai yang ditempatkan di atas ponton. Tiga syarat tadi dipenuhinya dan masih ditambah goyangan karena ombak akibat kapal yang lewat, yang mampu menambah sensasi nikmat.</p>
<p>Sayangnya, di banyak tempat umum, yang namanya urusan peturasan seringkali terabaikan (saya mencoba berbaik sangka dengan menggunakan &#8220;ter&#8221;). Mungkin pengelolanya berpikir, toh kalau sudah kebelet seluruh pancaindra (dan akal sehat) akan tertutup, buktinya pohon dan semak ya masih laku.</p>
<p>Bagi sebagian orang, termasuk saya, kadang ruang kecil itu juga berfungsi sebagai tempat untuk mencari inspirasi dan lahirnya sebuah ide dikala ruang kerja sudah terasa begitu sesak. Dalam urusan ini, tentunya saya tidak ingin pancaindra saya dipenuhi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan untuk dilihat atau diendus. kenapa di jamban mencari idenya? Begini, jika sang peminta ide berkata dengan mimik kecewa &#8220;<em>Your idea is sh*t!!</em>&#8221; saya dengan gagah bisa berkata balik &#8220;<em>Exactly!!</em>&#8221;</p>
<p>Dalam urusan satu ini, saya ingat sekali apa kata Bapak saya. Begini ujarnya, &#8220;<em>tas yang paling enteng dan bar yang paling menyenangkan adalah tas/bar nguyuh atau tas/bar ngising</em>&#8221; *maaf</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2011/05/27/obrolan-jamban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadiah Ulang Tahun</title>
		<link>http://ndobos.com/2011/02/07/hadiah-ulang-tahun/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2011/02/07/hadiah-ulang-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Feb 2011 17:14:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[crita]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>
		<category><![CDATA[upaya melawan lupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/2011/02/07/hadiah-ulang-tahun/</guid>
		<description><![CDATA[Jadi awalnya begini. Pada jaman dahulu kala, selagi kalian masih belum ada, setiap kali ulang tahun, Bapakmu selalu minta hadiah sama calon mertuanya. Iya, setiap tahun, dengan alasan hadiah tahun lalu sudah habis. Mungkin karena jengkel atau iba, akhirnya mereka memberikan ibumu itu sebagai hadiahnya. Jadi, begitulah asal muasal kenapa ulang tahun Bapakmu ini sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/02/img_3494.jpg" alt="img_3494.jpg" /></p>
<blockquote><p><em>Jadi awalnya begini. Pada jaman dahulu kala, selagi kalian masih belum ada, setiap kali ulang tahun, Bapakmu selalu minta hadiah sama calon mertuanya. Iya, setiap tahun, dengan alasan hadiah tahun lalu sudah habis. Mungkin karena jengkel atau iba, akhirnya mereka memberikan ibumu itu sebagai hadiahnya. Jadi, begitulah asal muasal kenapa ulang tahun Bapakmu ini sama dengan ulang tahun perkawinan Bapak dan Ibumu itu.</em></p></blockquote>
<p>Itulah versi cerita yang dulu saya sampaikan kepada anak-anak saya setiap kali mereka bertanya bagaimana ceritanya tanggal ulang tahun Bapaknya sama dengan tanggal perkawinan Bapak dan Ibunya. Tapi itu dulu. Mereka cerdas, dan cepat belajar, sehingga cerita itu tidak lama umurnya. Ajaibnya, mereka langsung bisa menebak, apa cerita sebenarnya.<br />
<span id="more-698"></span></p>
<p>Saya pelupa, apalagi dengan tanggal. Maka guyonan garing nan tak berkualitas seperti Perang Diponegoro berlangsung dari tahun 1825 sampai selesai, bisa benar-benar terjadi sebagai jawaban dari pertanyaan di ulangan sejarah. Ya, saya mengajak Ibunya anak-anak saya itu menikah tepat di hari ulang tahun saya karena jika tidak, saya kemungkinan besar akan lupa kapan tanggal pernikahan kami. Ini sebuah upaya melawan lupa. Apakah lantas saya selama ini bebas dari masalah? Tidak juga. Beberapa kali saya lupa kalau hari itu adalah hari ulang tahun saya.</p>
<p>Beruntungnya saya, seiring dengan makin melemahnya daya ingat, ada banyak telepon genggam yang menyertakan fungsi pengingat tanggal-tanggal penting. Dengan catatan, saya tidak lupa membawa telepon genggam itu (dan ini beberapa kali terjadi).</p>
<p>Apapun, tahun ini saya tidak lupa hari ulang tahun pernikahan kami. Bagaimana bisa lupa jika sejak sehari sebelum hari ulang tahun pernikahan, orang tua, mertua, anak, keponakan, dan cucu (ya &#8230; CUCU!), berkumpul di rumah, selain ada beberapa kawan yang datang berkunjung cari makan dengan dalih ada yang berulang tahun.</p>
<p>Lantas, kenapa pula ulang tahun begini jadi penting buat saya? Lha, bagaimana ndak penting, ini adalah hari saat saya menerima hadiah ulang tahun terbaik dan sampai sekarang belum habis juga.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2011/02/07/hadiah-ulang-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karang Bukan Batu</title>
		<link>http://ndobos.com/2011/01/17/karang-bukan-batu/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2011/01/17/karang-bukan-batu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2011 09:53:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[apa ini]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu]]></category>
		<category><![CDATA[crita]]></category>
		<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Bleaching]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[Pemutihan]]></category>
		<category><![CDATA[Terumbu Karang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/2011/01/17/karang-bukan-batu/</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum saya mulai berkisah, ada satu hal yang saya rasa perlu diperjelas. Karang (Coral) yang ada di laut itu bukan batu, bukan tumbuhan, tetapi hewan yang individunya (polyp) membentuk koloni besar. Dalam dunia Biologi, Karang dikelompokan dalam kelas Anthozoa. Jika manusia mempunyai rangka/tulang yang dibungkus daging, pada Karang keadaannya terbalik. Rangka hewan ini membungkus bagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2011/01/20100322_mu_kofiau.jpg" alt="20100322_mu_kofiau.jpg" /></p>
<p>Sebelum saya mulai berkisah, ada satu hal yang saya rasa perlu diperjelas. Karang (Coral) yang ada di laut itu bukan batu, bukan tumbuhan, tetapi hewan yang individunya (polyp) membentuk koloni besar. Dalam dunia Biologi, Karang dikelompokan dalam kelas Anthozoa. Jika manusia mempunyai rangka/tulang yang dibungkus daging, pada Karang keadaannya terbalik. Rangka hewan ini membungkus bagian lunaknya. Karena bagian kerasnya ada di luar inilah, maka Karang sering dianggap sebagai batu.<br />
<span id="more-696"></span></p>
<p>Baiklah, ada apa dengan Karang? Jadi begini, sebagai mahluk hidup Karang tidak hidup sendiri. Hewan ini hidup bersama-sama (bersimbiose) dengan hewan renik lain yang disebut Zooxanthella. Dalam istilah Biologi, Zooxanthella ini dikenal sebagai endosymbiont dari Karang, karena Zooxanthella hidup dalam jaringan tubuh Karang. Zooxanthella ini pulalah yang menjadikan Karang berwarna-warni. Tanpa Zooxanthella, Karang akan berwana putih, semaput dan lantas mati.</p>
<p>Dalam kehidupan bersimbiose ini Karang memberikan perlindungan, tempat hidup, bahan &#8220;makanan&#8221; (nitrogen dan fosfor), dan pasokan Karbondioksida yang memungkinkan Zooxanthella untuk hidup. Lantas, dari Zooxanthella, Karang mendapatkan energi dalam bentuk glukosa, gliserol dan asam amino. Zooxanthella mampu memberikan pasokan 90% kebutuhan energi karang. Aih&#8230;serasi nian. Karang hidup sehat, dan kumpulan Karang yang membentuk terumbu menjadi rumah ideal bagi banyak mahluk laut. Pada ekosistem Karang yang sehat ini ikan dan mahluk laut lainnya yang enak-enak itu akan hidup sejahtera, gemah ripah loh jinawi, seperti di film animasi Finding Nemo atau Shark Tale.</p>
<p>Hidup bersama secara serasi antara Karang dan Zooxanthella ini bisa saja buyar berantakan karena faktor luar. Pada kondisi tertentu yang menyebabkan Karang stress misalnya karena perubahan suhu air laut, pencemaran yang mengakibatkan berubahnya komposisi kimia air laut, penyakit, perusakan fisik Karang, atau karena Karang kelaparan, Karang akan &#8220;mengusir&#8221; Zooxanthella dari jaringan tubuhnya dan Karang akan menjadi putih. Peristiwa memutihnya Karang ini disebut dengan Coral Bleaching. Jika kondisi ini terus berlangsung, ujungnya adalah kematian Karang. Jika Karang mati, bubarlah ekosistem gemah ripah loh jinawi tadi. Untungnya, banyak Karang yang bisa bertahan (walaupun sebentar) setelah mengalami bleaching. Pada kasus naiknya suhu air laut, arus air dingin dari dasar laut (upwelling) dapat membantu pulihnya Karang. Karang dikatakan pulih jika tubuh Karang kembali dihuni oleh Zooxanthella.</p>
<p>Perubahan iklim yang sedang kita rasakan bersama pada masa-masa ini, perusakan Karang secara fisik dengan menggunakan bom yang tidak hanya membuat karang memucat tapi hancur berantakan, menangkap ikan di Karang dengan menggunakan racun akan membuat Karang stress, atau perubahan komposisi kimia yg menjadikan air laut menjadi lebih asam, semuanya juga berujung pada hancurnya ekosistem terumbu karang. Akibatnya apa? Ada banyak ikan laut yang kita konsumsi hidupnya sangat bergantung akan keberadaan terumbu karang. Tanpa terumbu karang, stok ikan konsumsi ini bisa habis. Jadi, begitulah, tanpa Karang &#8230; tidak akan ada hidangan laut nan lezat itu di meja makan sampeyan.</p>
<p>Foto: &#8220;Ondo&#8221; Muhajir</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2011/01/17/karang-bukan-batu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya dan Laut</title>
		<link>http://ndobos.com/2010/12/16/saya-dan-laut/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2010/12/16/saya-dan-laut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2010 04:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[apa ini]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu]]></category>
		<category><![CDATA[crita]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Coral Triangle]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[Terumbu Karang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/2010/12/16/saya-dan-laut/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bidang kerja, saya sungguh merasa diberi anugrah luar biasa. Bagaimana tidak, saya yang hobinya kluyuran diberi jalan untuk bersekolah di tempat yang banyak kluyurannya (Jurusan Biologi), tempat di mana jalan-jalan itu wajib. Serampung kuliah, saya lantas diwajibkan untuk jalan-jalan oleh tempat di mana saya bekerja, dan jika saya menolak pesiar, saya tidak dibayar. Baiklah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2010/12/blog5.jpg" alt="blog5.jpg" /></p>
<p>Dalam bidang kerja, saya sungguh merasa diberi anugrah luar biasa. Bagaimana tidak, saya yang hobinya kluyuran diberi jalan untuk bersekolah di tempat yang banyak kluyurannya (Jurusan Biologi), tempat di mana jalan-jalan itu wajib. Serampung kuliah, saya lantas diwajibkan untuk jalan-jalan oleh tempat di mana saya bekerja, dan jika saya menolak pesiar, saya tidak dibayar. Baiklah, demi keberlanjutan isi periuk nasi, saya lantas terpaksa rela melakukan hobi saya itu. Pilihan saya waktu itu adalah kluyuran di darat, dan ini membawa saya menjelajahi lebih dari separuh bumi. Lantas, sebuah tikungan kehidupan nan ajaib membawa saya untuk menjelajahi laut dalam 3 tahun terakhir ini. Tadinya saya sempat ragu untuk nyemplung ke laut, tetapi pada akhirnya saya benar-benar dibuat kagum oleh isinya. Sekali lagi, saya diwajibkan untuk kluyuran, kalau saya menolak saya tidak dibayar.</p>
<p><span id="more-694"></span><br />
<img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2010/12/blog1.jpg" alt="blog1.jpg" /></p>
<p>Jika sampeyan sudah sering dengar kisah tentang burung dari saya, maka kali ini saya akan cerita sedikit tentang laut. Sama halnya dengan bekerja di darat, bekerja di laut saya juga diberi keberuntungan. Saya bekerja di tempat di mana keragaman kehidupan isi lautnya adalah yang paling kaya di muka bumi ini, dan tempat itu bernama Indonesia.</p>
<p>Adalah sebuah kawasan yang dikenal dengan nama Coral Triangle, atau Segitika Karang, yang luasnya hanya 1,5% dari luas lautan dunia tetapi menjadi tempat hidup bagi 30% terumbu karang di dunia. Oh iya, sebelum saya lupa, karang warna-warni yang ada di laut itu bukan batu, itu hewan. Kang Mas Charles Veron dan Kang Mas Gerald Allen yang ahli karang dan ahli ikan itu bilang, Coral triangle adalah rumah bagi 76% spesies karang dunia dan hampir 40% spesies ikan karang dunia, bahkan beberapa di antaranya tidak dapat dijumpai di tempat lain di dunia ini kecuali di Coral Triangle.</p>
<p>Lantas apa hubungannya Coral Triangle dengan Indonesia. Begini, kawasan Coral Triangle itu mencakup 6 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Timor Leste, Philippina, Papua New Guinea, dan Solomon Islands. Di dalam Coral Triangle, wilayah laut Indonesia adalah yang paling luas dan yang paling kaya isinya. Sebutlah nama-nama seperti Derawan, Wakatobi, Komodo, dan Raja Ampat pada para penggemar selam menyelam, maka dijamin penggemar selam menyelam yang pendiam sekalipun akan jadi cerewet menceritakan betapa indah dan kayanya tempat-tempat tadi. Lepas dari kenyataan bahwa saya orang Indonesia, jika saya membandingkan isi tempat-tempat tadi dengan Great Barrier Reef yang tersohor itu, ya kasihan Great Barrier Reef-nya.</p>
<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2010/12/sotong.jpg" alt="sotong.jpg" /></p>
<p>Itu baru soal kekayaan dan keindahan. Bagaimana soal orang yang bergantung hidupnya dengan terumbu karang? Ada yang mengatakan, di Coral Triangle tidak kurang dari 126 juta jiwa yang bergantung padanya. Lha kok banyak? Begini, walaupun ekosistem terumbu karang hanya menempati sekitar 1% dari ruang bumi ini, tetapi tidak kurang dari $375 milyar per tahunnya didapat dari ekosistem ini. Perikanan laut di Asia Tenggara 90% dilakukan di laut dangkal dan terumbu karang, dan hasilnya menyumbang 65% kebutuhan protein hewani di Asia Tenggara, begitu menurut sebuah tulisan International Conflicts Over Marine Resources In Southeast Asia; Trends In Politization And Militarization. Intinya, ekosistem terumbu karang itu kaya dan penting bagi banyak jiwa.</p>
<p>Saya tidak punya angka berapa jumlah uang yang didapat dari kegiatan pariwisata yang terkait dengan terumbu karang. Sampeyan cari sendirilah. Tetapi saya tidak kaget kalau angka uangnya besar dan bisa mengalahkan jumlah gosip uang di rekening bank saya.</p>
<p>Lantas, ujungnya adalah bicara soal bagaimana semua manfaat itu bisa terus dinikmati dan inilah rumitnya. Sampeyan pernah dengar cerita angsa bertelur emas? Pemiliknya yang nggragas dan tidak sabar, karena hanya dapat 1 telur emas saban hari, lantas membunuh sang angsa agar bisa mengeluarkan telur emas dari dalam tubuh sang angsa. Begitu pula dengan terumbu karang, sifat rakus dan tidak sabar dapat membuat ekosistem kaya raya ini berhenti memberi manfaat, dan banyak orang yang akhirnya akan sengsara.</p>
<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2010/12/sangalaki.jpg" alt="sangalaki.jpg" /></p>
<p>Lalu pekerjaan saya bagaimana? Di tempat seperti itulah saya bekerja, sembari berusaha keras agar manfaat dari alam laut tetap bisa dinikmati banyak orang. Seringkali, sehabis menyelam sembari rebah-rebah manis di pasir putih dan menikmati ikan bakar (ini kerja!), saya berpikir bagaimana caranya agar itu semua bisa terwujud &#8230; kasian ya saya. Seorang kawan berkata &#8220;Oh, kamu tidak perlu dikasihani &#8230; yang perlu dikasihani itu yang mbayar kamu.&#8221;</p>
<p>Tambahan: Saya, Dik Wi a.k.a <a href="http://ndorokakung.com" target="_blank">Ndorokakung</a> dan Mbakyu <a href="http://nilatanzil.blogspot.com/" target="_blank">Nila Tanzil</a> akan manggung bareng tanggal 21 Desember di Pacific Place Mall, Level 3 Unit 325, Jakarta, pukul 15.30 &#8211; 17.00, untuk ngobrol soal Blog dan Konservasi Laut. Monggo datang jika berkenan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2010/12/16/saya-dan-laut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesenangan Dalam Kekusutan</title>
		<link>http://ndobos.com/2010/12/09/kesenangan-dalam-kekusutan/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2010/12/09/kesenangan-dalam-kekusutan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2010 08:37:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[crita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Kusut]]></category>
		<category><![CDATA[Senang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/2010/12/09/kesenangan-dalam-kekusutan/</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu masa dulu saya ada diberi pekerjaan yang pada saat pertama kali dijelaskan tampak mudah. Begini &#8230; gampangnya, saya diminta untuk mencari letak lokasi suatu tempat dan manaruhnya di atas peta. Untuk menaruh lokasi tersebut di atas peta, yang saya perlukan adalah angka-angka koordinat lintang dan bujur tempat tersebut. Misal, Kota Bandung di Jawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu masa dulu saya ada diberi pekerjaan yang pada saat pertama kali dijelaskan tampak mudah. Begini &#8230; gampangnya, saya diminta untuk mencari letak lokasi suatu tempat dan manaruhnya di atas peta. Untuk menaruh lokasi tersebut di atas peta, yang saya perlukan adalah angka-angka koordinat lintang dan bujur tempat tersebut. Misal, Kota Bandung di Jawa Barat memiliki angka-angka koordinat 6° 54&#8242; 53.08&#8243; Lintang Selatan 107° 36&#8242; 35.32&#8243; Bujur Timur. Pada waktu itu, Internet masih merupakan kemewahan dan GPS masih merupakan barang langka. Tetapi pada waktu itu saya masih beranggapan bahwa ini adalah pekerjaan mudah yang dengan hati girang saya terima. Lantas, sayapun &#8220;terjebak&#8221; di pekerjaan itu selama hampir 7 tahun (tentu saja ditambah dengan pekerjaan lain). Apa pasal?</p>
<p><span id="more-687"></span><br />
Pada saat itu saya terlibat dalam sebuah pekerjaan yang hendak mengumpulkan semua informasi tentang burung yang ada di Asia, termasuk informasi di mana saja burung tersebut pernah dicatat keberadaannya. Misal, burung Gelatik Jawa pernah tercatat ada di Depok pada bulan Juli 1909. Haha&#8230;Depok, gampang. Oh, ternyata tidak. Di Pulau Jawa, ada dua tempat yang bernama Depok, satu di dekat Jakarta sedang yang satu lagi di dekat Yogyakarta. Masalahnya ini Depok yang dimaksud dalam catatan tahun 1909 tentang Gelatik Jawa itu Depok yang mana?</p>
<p>Soal lain. Ada kebiasaan masyarakat di Asia yang gemar berpindah-pindah dengan berbagai macam sebab. Ada bencana alam, pindah, ada wabah penyakit. Repotnya (bagi saya), pada saat mereka pindah mereka membawa nama asli kampungnya. Sehingga bisa saja sebuah lokasi A pada tahun 1800-an berbeda letaknya dengan lokasi A pada tahun 1990-an. Kadang para penggemar bedol desa ini berbaik hati dengan menambahkan kata &#8220;Baru&#8221; pada nama desa di tempat barunya. Untuk menambah kadar kepeningan, saya tidak hanya harus berurusan dengan budaya dan Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia yang relatif saya pahami. Ada begitu banyak budaya dan bahasa di Asia.</p>
<p>Soal lain lagi. Saya ada menemukan catatan tentang jenis burung yang &#8220;tidak pada tempatnya.&#8221; Ini burung gunung, kenapa ada catatannya di daerah pesisir? Usut punya usut, ternyata pada saat itu sang peneliti mengirimkan pemburu-pemburunya ke gunung untuk berburu burung, sementara sang peneliti tergeletak tak berdaya di sebuah desa di tepi pantai sambil menggigil dahsyat karena malarianya kambuh. Pada saat para pemburu pulang dengan hasil buruannya, sang peneliti melabeli hasil buruan tersebut dengan nama desa tempat di mana dia tergeletak tadi.</p>
<p>Apakah lantas kekusutan itu semua berujung bencana? Tidak juga ternyata. Kekusutan beginilah yang lantas membawa saya berkelana mengelilingi separuh belahan bumi. Banyak dari informasi yang saya butuhkan itu tersimpan rapih di dalam catatan-catatan perjalanan para peneliti itu, beberapa bahkan di dalam buku harian mereka, yang tersimpan rapih di museum. Karena catatan-catatan itu adalah barang langka, museum sering kali enggan membuat salinannya (photocopy) dan mengirimkannya ke saya. Saya yang harus datang ke sana. Demikian pula dengan peta-peta tua.</p>
<p>Selain itu, semua kekusutan tadi seperti menjadi wahana bagi saya untuk melakukan perjalanan kembali ke masa silam sembari membayangkan betapa sibuk dan berwarnanya pelabuhan-pelabuhan seperti Calicut, Goa, Malaka dan Banten. Membaca catatan harian Alfred Russel Wallace pada saat ia pertama kali datang ke Bali (pertengahan 1856) atau Palembang (akhir 1861) misalnya, membawa saya ke gambaran negeri ini ratusan tahun yang lampau. Atau sekadar membayangkan keadaan masa lalu sembari jari telunjuk saya menyusuri peta rute dagang dari Eropa ke Asia yang juga menjadi rute para pemburu masa itu untuk mengumpulkan hewan dan tumbuhan untuk museum-museum dan para kolektor kaya di Eropa.</p>
<p>Lantas, apa yang saya dapat dari ini semua? Sesuatu yang tampaknya mudah di awal, tenyata dapat berujung pada kekusutan. Akan tetapi, di sisi lain, selalu ada kesenangan yang muncul secara tak terduga dari segala bentuk kekusutan yang terjadi. Pekerjaan tadi juga menyadarkan saya betapa banyak informasi tentang kekayaan alam negara ini yang justru ada di negara lain (ya ya ya &#8230; basi, bukan barang aneh, tetapi toh tetap saja saya ingin menuliskannya).</p>
<p>Lantas tentang pekerjaan besar itu bagaimana? Selesai akhirnya pada tahun 2001 dan di dokumentasikan dalam sebuah publikasi yang terdiri dari 3000 lebih halaman yang dibagi menjadi 2 volume (2 buku) dengan berat total 5 kilogram. Cocok untuk mengganjal pintu. Ada kelegaan besar di akhir pekerjaan itu. Bisa dilihat dari betapa cerianya wajah anggota team yang terlibat (foto di bawah), apalagi saat menemukan publikasi tentang pekerjaan tersebut di &#8220;halaman strategis&#8221; sebuah majalah bulanan khusus untuk pria dewasa.</p>
<p><img src="http://ndobos.com/wp-content/uploads/2010/12/rdb.jpg" alt="rdb.jpg" /></p>
<p>Catatan: saya masih menyimpan 2 buku itu, tetapi saya tidak menyimpan majalahnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2010/12/09/kesenangan-dalam-kekusutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peliharaanku Sayang</title>
		<link>http://ndobos.com/2010/12/01/peliharaanku-sayang/</link>
		<comments>http://ndobos.com/2010/12/01/peliharaanku-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 2010 17:46:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sir Mbilung MacNdobos</dc:creator>
				<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[hewan]]></category>
		<category><![CDATA[peliharaan]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndobos.com/2010/12/01/peliharaanku-sayang/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah buku berjudul Guns, Germs and Steel karya Jared Diamond, yang sudah saya baca berulang-ulang, ada satu bagian yang menceritakan tentang hubungan antara manusia dan hewan peliharaannya, entah itu sebagai pet maupun sebagai hewan ternak. Hubungan yang diceritakan adalah tentang penyakit yang berasal dari hewan dan lantas menyerang manusia dan menjadi penyakit menular antar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah buku berjudul Guns, Germs and Steel karya Jared Diamond, yang sudah saya baca berulang-ulang, ada satu bagian yang menceritakan tentang hubungan antara manusia dan hewan peliharaannya, entah itu sebagai pet maupun sebagai hewan ternak. Hubungan yang diceritakan adalah tentang penyakit yang berasal dari hewan dan lantas menyerang manusia dan menjadi penyakit menular antar manusia. Jumlahnya banyak ternyata (banyak mengacu pada lebih dari lima, tanpa angka, karena saya tidak hafal), antara lain AIDS, flu burung, TBC, cacar air, pes, kolera (seperti saya katakan, banyak &#8230; lebih dari lima). Dalam buku tersebut, penulisnya ada bercerita seperti sebuah kejadian nyata.</p>
<p><span id="more-685"></span><br />
Pada suatu hari seorang dokter didatangi oleh pasangan suami istri. Sang suami menderita penyakit seperti pneumonia yang disebabkan oleh mikroba tidak dikenal. Masalahnya jadi agak rumit karena sang suami dan sang dokter sulit saling mengerti karena keduanya berbicara dengan bahasa yang berbeda. Sang istrilah yang lantas menjadi penerjemah pecakapan antara sang suami dengan sang dokter.</p>
<p>Dalam kebingungan mencari tahu penyebab penyakit itu, sang dokter menanyakan kepada sang suami apakah ia memiliki pengalaman sexual yang &#8220;tidak biasa&#8221; yang mungkin saja menjadi sumber penyakitnya. Dengan muka merah menyala dan dengan suara lirih sang suami kemudian bercerita. Cerita tersebut berakibat luar biasa. Alih-alih menerjemahkan ocehan sang suami, sang istri justru mengamuk dahsyat dan meninggalkan ruang periksa setelah sebelumnya menghantam kepala sang suami dengan termos logam.</p>
<p>Tinggalah sang suami yang pingsan dan sang dokter yang kebingungan. Setelah sang suami siuman, dengan terpatah-patah, akhirnya didapatlah gambaran jelas tentang cerita sang suami yang mengakibatkan amuk sang istri. Sang suami mengakui bahwa ia memang telah beberapa kali melakukan (maaf) hubungan sexual dengan kambing.</p>
<p>Kasus di atas memang sebuah contoh yang ekstrem, sekalipun dengan menggunakan alasan ada unsur kasih sayang plus birahi sang pemelihara terhadap peliharaannya. Tanpa adanya unsur birahipun, memelihara binatang tetap memiliki resiko tertular penyakit. Saya bukanlah penganjur memelihara binatang, tetapi jika sampeyan memutuskan untuk memiliki hewan peliharaan, maka rawat dan perlakukanlah peliharaan sampeyan tersebut dengan baik agar tidak penyakitan. Ini baik untuk peliharaan sampeyan dan mengurangi resiko sampeyan tertular penyakit. Memeriksakan hewan peliharaan ke dokter hewan secara berkala (bukan kala sempat), bukan hanya demi kesehatan peliharaan, tetapi juga demi kesehatan pemeliharanya.</p>
<p>Lantas, apa saja yang perlu dilakukan selain memeriksakan hewan peliharaan? Bertanyalah pada dokter hewan, mereka lebih paham dan juga karena ini bukan bidang saya. Saya pribadi, jauh lebih menikmati keindahan bentuk dan perilaku hewan-hewan di habitat aslinya, saat mereka hidup bebas di alam, dengan segala bahaya yang mungkin saja terjadi pada saat saya mengamati mereka. Sebagai informasi tambahan, saya tidak pernah dikepruk termos logam oleh istri saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ndobos.com/2010/12/01/peliharaanku-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

