1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Istirahat yaaaa …

Salah satu hal yang menurut saya menyedihkan adalah saat sakit dan tidak ada yang menemani. Beberapa kali saya mengalami kejadian begini, pada saat saya hidup sendiri jauh dari siapa-siapa di negara orang lain pula, atau pada saat saya sedang tinggal di hutan. Sakitnya sendiri tidak perlu yang berat-berat seperti korengan, kadas, panu, atau kurap, cukuplah yang biasa-biasa saja seperti demam tinggi disertai batuk atau pilek. Ada yang berkata, kesendirian itu membunuh, tapi ya gak segitunya juga kaleee.

Continue Reading 12 Comments

Rumah Pohon

Pada saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya dan beberapa teman memiliki sebuah rumah pohon. Ya “rumah” yang dibuat di atas pohon, entah pohon apa, mungkin Angsana. Rumah pohon itu sebenarnya tak bisa juga disebut rumah, karena sangat sederhana dan merupakan susunan papan-papan bekas saja yang dibuat sebagai tembok dan ilalang sebagai atapnya. Ruangan rumah itu pun sempit, hanya bisa menampung empat bocah kurus yang duduk sembari melipat badan persis aktor sirkus keliling. Saya tidak ingat apakah rumah itu kami beri nama atau tidak.

Continue Reading 12 Comments

Menyelam Agar Tidak Blingsatan

Enter the Unknown

Ini tulisan untuk sekadar menjawab pertanyaan mengapa saya blingsatan kalau lama tidak menyelam. Jadi begini, tiga tahun belakangan ini, dunia kerja saya praktis berputar di hal-hal yang berkaitan dengan laut dan isinya. Menyelam (scuba diving) menjadi bagian dari pekerjaan itu. Awalnya sulit bagi saya untuk menyelam. Jangankan menyelam yg harus berendam sepenuh badan di dalam air, saya itu disuruh mandi saja susah. Saya orang darat, persis seperti di lagu film Ninja Hattori, “mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama kawan bertualang”.

Continue Reading 11 Comments

Pulang

Hampir selama empat tahun terakhir ini, jika saya menyebut kata “saya akan pulang” itu berarti saya akan ke Bali. Kata “pulang” identik dengan “Bali”, tempat di mana saya bekerja dan tinggal. Lantas kenapa kalau saya pulangnya ke Bali? Soalnya adalah, rumah saya yang sesungguhnya dan keluarga saya ada di Bogor. Saya baru menyadari soal “pulang” ini setelah diberitahu oleh Dewi.

Continue Reading 23 Comments

Punya

otak.jpg

Karena sebab ini itu yang “ya begitu deh”, kepala saya harus dipindai dengan CT Scan dan MRI. Tidak ada yang istimewa mungkin, terutama bagi sang operator alat. Untuk saya, kalaupun ada yang istimewa maka itu adalah, sekarang saya punya bukti amat sangat kuat kalau saya punya otak. Perkara otaknya dipakai atau tidak, itu soal lain. Seperti tergambar pada percakapan dengan kawan berikut ini :

Saya: Sekarang, saya punya bukti sangat kuat kalau saya punya otak. *dengan nada pongah*
Kawan: Punya doang? Dipakai nggak? *dengan nada nyinyir*

Continue Reading 16 Comments

Ndobosan lama | Ndobosan Baru