1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Pulang

Hampir selama empat tahun terakhir ini, jika saya menyebut kata “saya akan pulang” itu berarti saya akan ke Bali. Kata “pulang” identik dengan “Bali”, tempat di mana saya bekerja dan tinggal. Lantas kenapa kalau saya pulangnya ke Bali? Soalnya adalah, rumah saya yang sesungguhnya dan keluarga saya ada di Bogor. Saya baru menyadari soal “pulang” ini setelah diberitahu oleh Dewi.

Continue Reading 23 Comments

Punya

otak.jpg

Karena sebab ini itu yang “ya begitu deh”, kepala saya harus dipindai dengan CT Scan dan MRI. Tidak ada yang istimewa mungkin, terutama bagi sang operator alat. Untuk saya, kalaupun ada yang istimewa maka itu adalah, sekarang saya punya bukti amat sangat kuat kalau saya punya otak. Perkara otaknya dipakai atau tidak, itu soal lain. Seperti tergambar pada percakapan dengan kawan berikut ini :

Saya: Sekarang, saya punya bukti sangat kuat kalau saya punya otak. *dengan nada pongah*
Kawan: Punya doang? Dipakai nggak? *dengan nada nyinyir*

Continue Reading 16 Comments

Anak yang aneh

Saya pergi bekerja. Anak saya ikut ke tempat saya bekerja itu, dan baginya ini adalah liburan. Anak yang aneh. Biar sajalah, yang penting dia bahagia.

adek-libur1.jpg

Continue Reading 17 Comments

World Oceans Day

wod_logo_small.jpg

Hari ini, tanggal 8 Juni, diperingati sebagai World Oceans Day. Peringatan begini ya wajar-wajar saja, karena Bumi sebagai sebuah planet, 70% permukaannya berupa laut. Saya sendiri termasuk “orang baru” dalam hal laut. Pekerjaan saya beberapa tahun belakangan ini membawa saya lebih dekat pada laut. Buat saya, agak mencengangkan awalnya betapa sedikitnya pengetahuan kita akan laut. Bahkan ada yang berkata, kita lebih banyak tahu tentang luar angkasa dibandingkan dengan laut.

Continue Reading 23 Comments

Obrolan Jamban

toilet2.jpg

Bagi saya, yang namanya toilet, jamban, peturasan, tandas, kamar kecil, bilik air, apapun namanya itu, adalah soal penting. Manakala saya harus menginap di sebuah penginapan misalnya, maka tempat yang pertama saya longok adalah jamban. Bukan untuk langsung melepas hajat, tetapi untuk melihat apakah hajat saya bisa dibuang di tempat itu, atau malah hajat enggan keluar dan tetap bersemayam di dalam tubuh hingga saya menemukan jamban yang layak tongkrong.

Continue Reading 14 Comments

Ndobosan lama | Ndobosan Baru