Km 0
Bagi kawan yang belum pernah ke Bandung dan lantas saya antarkan ke Bandung maka saya akan membawanya ke penanda Km 0 yang ada di Jalan Asia Afrika. Bagi saya, itulah penanda Bandung dan dari situlah Bandung yang kita kenal sekarang itu dimulai, lebih dari 197 tahun yang lalu.
“Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd” (ntar kalo saya balik ke sini lagi, udah ada kota di sini ya), begitu ujar Daendels pada saat ia menancapkan tongkat kayu di bantaran Sungai Cikapundung yang kemudian menjadi titik Km 0 Bandung.
Sejak tahun 2004, di belakang penanda Km 0 tersebut, berdiri MONUMEN KM BDG 0+00, di halaman kantor Bina Marga. Apakah kemudian penanda Km 0 penuh sejarah tersebut ramai dikunjungi orang? Ya tidak juga. Tempat itu hanya ramai dilalui orang saja.
Catatan: Belajar dari kesalahan masa lalu, saya ganti foto model. Terima kasih Tik.
Edan euy …. metal

Ini soal selera makan. Tempe melenyap, padahal saya suka tempe. Tetapi tulisan di spanduk yang terpampang di sebuah tempat makan di Jl. Terusan ABC, Bandung itu dapat membuat selera makan saya benar-benar hilang. Perihal nasi dan sop iga, saya itu sukanya nasi pulen dan sop iga empuk.
Ngantor

+ : Kok jarang banget kelihatan ada di kantor?
- : Orang itu, makin gede gajinya, makin jarang ada di kantor

