Oct 25 2007 - 12:56
Awalnya kesombongan. Pokoknya saya ndak mau kerja di Jakarta. Saya dengan bersemangat mengolok-olok kawan-kawan yang bekerja di Jakarta, itu kesombongan nomer satu. Lantas ada lagi kesombongan lain. Saya mau prei kerja dulu, ya barang setahun lah, mau leyeh-leyeh. Maka kantor di Tokyo itu saya tinggalkan, kembali ke Bogor, ke haribaan keluarga dengan tekad mau leyeh-leyeh itu. Senangnya ndak ketulungan kala itu.
Lantas dimulailah kehidupan “berlibur” tadi. Ada sih pekerjaan kecil-kecil seperti kegiatan ternak teri (anter anak anter istri). Kadang ada juga teman yang meminta bantuan dengan pekerjaannya. Apapun itu, jelasnya saya punya banyak waktu buat leyeh-leyeh. Beberapa ajakan untuk bekerja lagi saya tolak dengan santun dan untuk menghidari ajakan-ajakan berikutnya saya pasang papan pengumuman, “tutup, sudah kaya”.
Tiga bulan pertama saya amat sangat menikmati liburan itu, tapi ya hanya tiga bulan itu saja. Bulan-bulan berikutnya saya merasa ada yang hilang dan ini membuat saya sangat tidak nyaman. Saya rindu dengan rutinitas kerja itu. Maka secara perlahan-lahan itu papan jumawa “tutup sudah kaya” mulai diturunkan. Tawaran bekerja mulai berdatangan lagi. Sebagaimana halnya pekerja kemlinthi, tawaran-tawaran itu lantas dicermati dengan nyinyir. Akhirnya yang terbaik dari semua tawaran itu didapat. Baiklah saya ambil tawaran itu, walaupun harus menelan kesombongan untuk tidak bekerja selama setahun.
Kemarin itu adalah hari pertama saya datang ke tempat kerja saya yang baru. Di Jakarta …..
Continue Reading
32 Comments
Oct 22 2007 - 13:06
Lebaran, pesta kemenangan setelah sebulan penuh berperang. Peperangan dengan ganjaran luar biasa berlimpah, pahala menggelontor deras dengan catatan kalau dapat pahala. Tak usahlah berhitung berapa pahala yang terkumpul, ini hari baik, dan pada kenyataannya toh tidak ada juga yang menghitung. Anak saya malah sibuk menghitung berapa uang yang diperolehnya dari “salam tempel”.
Taruh kata saya memperoleh banyak pahala dari ibadah puasa kemarin itu. Bisa jadi pahala tersebut menguap pada hari pertama lebaran. Jika ada yang berkata lalu lintas Jakarta sepi pada saat lebaran, cobalah tengok lalu lintas di sekitar kuburan dan perumahan. Pahala saya tampaknya terbuang banyak di kemacetan itu. Misuh-misuh gak guna.
Lantas tibalah acara kumpul-kumpul kerabat. Entah berapa banyak lagi pahala puasa menguap di sini. Bergunjing, ngrasani itu tidak baik, ngerti saya. Perkara hal tersebut tetap dilakukan, lain masalah itu.
Kalau sudah begini, lantas terpikir, berperang melawan hawa nafsu itu dilakukan mestinya ya saban hari, bukan hanya pas bulan puasa saja. Pertanyaannya, bisakah? saya hanya manusia biasa.
Continue Reading
19 Comments
Oct 20 2007 - 22:56
Bretttttt, blog ini sempat semaput kemaren itu. Katanya domainnya expired. Salah saya karena saya lalai. Ya maaf, mumpung masih dalam suasana lebaran. Tetapi berkat manusia-manusia baik hati, semua sudah normal kembali. Berterima kasihlah saya pada Iyay, Nana dan Gage.
Selagi blog ini tak bisa diakses ada hal positif juga yang saya alami. Saya bisa istirahat ngeblog dahulu. Ada lebih banyak waktu luang untuk menengok-nengok blog lain daripada bernarsis ria mantengin blog sendiri. Lantas ada yang berkomentar “salahnya, ngisi blog kok serius, mbok ndak usah maksa untuk nulis”. Tetapi bagi saya masalahnya ada terlalu banyak suara di dalam kepala yang harus dikeluarkan dan bagi saya blog menjadi salah satu tempat untuk menyalurkannya.
Jadi, mulai menulis lagilah saya, tanpa harus hirau pada pendapat kawan yang berkata “blogmu itu cuma cocok buat para masochist dan anthropologist (uuppss)”.
Continue Reading
12 Comments
Oct 15 2007 - 09:19
Blog action day tahun ini bertema lingkungan hidup. Para blogger di seluruh dunia yang berpartisipasi hari ini menulis sesuatu yang bertemakan lingkungan. Perkara lingkungan memang sudah banyak ditulis, mulai dari digundulinya hutan, dikeringkannya rawa, dikotorinya udara dan air. Banyak tulisan begitu yang bikin saya miris bacanya. Lha kok sudah babak belur begini dunia ini, apa ya masih ada harapan?
Tadi malam saya melihat ada kunang-kunang di depan rumah orang tua saya di Bandung. Sudah lama saya tidak melihat binatang ini di kota besar macam Bandung. Ada kunang-kunang berarti masih ada air bersih di sekitar rumah. Ini pertanda bagus. Pertanda kalau harapan masih ada.
Sekarang waktunya berbuat sesuatu, saya ini sudah terlalu lama nyangkem yang hebat-hebat, tapi ya itu, ngomong doang. Ada banyak sampah sisa acara lebaran kemarin yang harus dibuang dengan benar dan ada lampu yang harus dimatikan. Aksi begini, mestinya ya saban hari.
Continue Reading
10 Comments
Oct 10 2007 - 09:37
Kawan saya itu memang beruntung sangat perkara jodohnya, begitu opini saya. Agak-agak mesin diesel memang, lambat di awal (lama jadi jomblo) tetapi lantas sulit dihentikan. Dia adalah kawan yang pintar, lulus dari sebuah perguruan tinggi terkemuka di Inggris dengan predikat distinction. Hanya saja kelakukannya, seperti juga teman-temannya dalam kelompok kami, bisa dikatakan ganjil. Mungkin keganjilannya itu berperan besar dalam hal kejombloannya.
Sang jomblo itu akhirnya berkirim kabar kalau dia menikah. Lengkap dengan foto pernikahannya. Keduanya tak sempat berlama-lama di Indonesia karena keduanya harus kembali ke negara seberang tempat mereka tengah menyelesaikan studi S3 mereka. Ada pula sedikit cerita perkara istrinya itu. Singkat kata, istrinya itu huayu pol, kaya dan pintar. Keayuannya itu dijamin bisa membuat Michelle Pfeiffer looks like a dog (apa salahnya anjing?)
Continue Reading
30 Comments