1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Baju Musiman

Jaman masih di sekolah dasar dahulu, guru ilmu bumi saya berkata “pokoknya nama bulan yang berakhiran -ber, itu mesti musim hujan” …. jembatan keledai. Jika berbicara perkara musim yang berkaitan dengan iklim, maka Indonesia punya dua, musim hujan dan musim kering. Sementara negara-negara yang terletak di antara Tropic of Cancer hingga Kutub Utara dan Tropic of Capricorn hingga ke Kutub Selatan memiliki empat musim. Musim semi, panas, gugur dan dingin.

Lantas saya menemukan pengumuman yang dipasang di sebuah toko di Bogor seperti foto di samping ini, mereka menjual pakaian musim dingin. Terus kenapa? Salah? ya tidak, toh pada saat ini ada saja orang Indonesia yang hendak bepergian ke negara-negara di Utara yang sebentar lagi secara remi memasuki musim dingin. Salah kostum berujung penderitaan. Orang Indonesia yang menderita di luar negeri bisa jadi berita heboh.

Continue Reading 22 Comments

Kereta Kaya Rasa

Naik kereta listrik dimulai lagi, paling tidak dua kali sehari setiap hari kerja. Melanjutkan ritual harian yang sempat terhenti jaman saya masih di Tokyo, hanya saja kali ini rutenya Bogor – Jakarta pergi pulang. Walau berbeda lokasi, gerbong keretanya sendiri mengingatkan saya pada Jepang. Lha ya maklum, wong gerbong bekas sepur Jepang kok. Malah masih ditempeli pernak-pernik dengan tulisan kanji segala dan yang bikin geli, itu pemanas ruang gerbong di bawah kursi ya masih menempel.

Lantas ini nulis perkara kereta listrik ada apa? Apa mau misuh-misuh gara-gara tadi pagi Bogor – Jakarta ditempuh dalam waktu lima jam? Atau karena perkara jadwal yang ndak pernah tepat? Ah, ya tidak juga. Kalau ada yang hendak membandingkan pelayanan angkutan kereta listrik antara Indonesia dengan Jepang, maka saya hanya bisa komentar ….. hayaaaaaah.

Continue Reading 26 Comments

Aksi yang Aksi

Saya girang, bungah, bersuka cita ketika dalam Pesta Blogger 2007 kemarin itu akhirnya saya bisa bertemu dengan Mas Iman, Pakdhe Rovicky dan teman-teman dari Merdeka. Kurang dari sehari sebelumnya, saya sangat girang karena akhirnya saya dapat mengunjungi tempat berkumpulnya teman-teman dari komunitas BHI dalam rangka Muktamar Blogger. Di balik tulisan-tulisan itu, ada pribadi-pribadi ramah yang bisa membuat saya merasa sangat nyaman berada di dekat mereka.

Akan tetapi, jika ada yang membuat semua kegembiraan itu menjadi lengkap berbuncah-buncah adalah kabar gembira dari hasil kegiatan Bloggers for Bangsari, sebuah kegiatan yang bertujuan untuk memberi jalan bagi anak-anak di Desa Bangsari untuk bisa bersekolah. Dalam dua hari, di kegiatan Mukatamar dan Pesta blogger tersebut, ada lebih dari Rp. 7 juta yang berhasil dikumpulkan dari para blogger yang menghadiri acara-acara tersebut.

Lho Rp.7 juta itu banyak to? Buat saya ini bukanlah perkara jumlah. Ini perkara ketulusan hati, karena saya kok yakin sangat, para penyumbang itu, ya para blogger itu, memberikannya dengan hati yang tulus dan niat yang baik.  Kemeriahan pesta, keriangan Muktamar, tidak membuat para blogger lupa bahwa ada hal lain yang memang perlu dilakukan.

Pesta sudah usai, Muktamar sudah bubar, tetapi saya amat sangat berharap kegiatan semacam Bloggers for Bangsari masih terus dilakukan. Ada banyak anak-anak Indonesia yang perlu bantuan untuk terus bersekolah, dan saya yakin blogger Indonesia bisa berbuat sesuatu untuk membantu mereka. Ketulusan dan niat baik toh memang selayaknya jalan terus. Suara baru Indonesia tak hanya bisa bersuara ternyata, para penyuaranya tak hanya bisa cengengesan atau ha ha hi hi di depan komputer, mereka juga bisa melakukan aksi …. weeeeh jan aksi tenan.

Continue Reading 34 Comments

Sombong

Awalnya kesombongan. Pokoknya saya ndak mau kerja di Jakarta. Saya dengan bersemangat mengolok-olok kawan-kawan yang bekerja di Jakarta, itu kesombongan nomer satu. Lantas ada lagi kesombongan lain. Saya mau prei kerja dulu, ya barang setahun lah, mau leyeh-leyeh. Maka kantor di Tokyo itu saya tinggalkan, kembali ke Bogor, ke haribaan keluarga dengan tekad mau leyeh-leyeh itu. Senangnya ndak ketulungan kala itu.

Lantas dimulailah kehidupan “berlibur” tadi. Ada sih pekerjaan kecil-kecil seperti kegiatan ternak teri (anter anak anter istri). Kadang ada juga teman yang meminta bantuan dengan pekerjaannya. Apapun itu, jelasnya saya punya banyak waktu buat leyeh-leyeh. Beberapa ajakan untuk bekerja lagi saya tolak dengan santun dan untuk menghidari ajakan-ajakan berikutnya saya pasang papan pengumuman, “tutup, sudah kaya”.

Tiga bulan pertama saya amat sangat menikmati liburan itu, tapi ya hanya tiga bulan itu saja. Bulan-bulan berikutnya saya merasa ada yang hilang dan ini membuat saya sangat tidak nyaman. Saya rindu dengan rutinitas kerja itu. Maka secara perlahan-lahan itu papan jumawa “tutup sudah kaya” mulai diturunkan. Tawaran bekerja mulai berdatangan lagi. Sebagaimana halnya pekerja kemlinthi, tawaran-tawaran itu lantas dicermati dengan nyinyir. Akhirnya yang terbaik dari semua tawaran itu didapat. Baiklah saya ambil tawaran itu, walaupun harus menelan kesombongan untuk tidak bekerja selama setahun.

Kemarin itu adalah hari pertama saya datang ke tempat kerja saya yang baru. Di Jakarta …..

Continue Reading 32 Comments

Berperang Saban Hari

Lebaran, pesta kemenangan setelah sebulan penuh berperang. Peperangan dengan ganjaran luar biasa berlimpah, pahala menggelontor deras dengan catatan kalau dapat pahala. Tak usahlah berhitung berapa pahala yang terkumpul, ini hari baik, dan pada kenyataannya toh tidak ada juga yang menghitung. Anak saya malah sibuk menghitung berapa uang yang diperolehnya dari “salam tempel”.

Taruh kata saya memperoleh banyak pahala dari ibadah puasa kemarin itu. Bisa jadi pahala tersebut menguap pada hari pertama lebaran. Jika ada yang berkata lalu lintas Jakarta sepi pada saat lebaran, cobalah tengok lalu lintas di sekitar kuburan dan perumahan. Pahala saya tampaknya terbuang banyak di kemacetan itu. Misuh-misuh gak guna.

Lantas tibalah acara kumpul-kumpul kerabat. Entah berapa banyak lagi pahala puasa menguap di sini. Bergunjing, ngrasani itu tidak baik, ngerti saya. Perkara hal tersebut tetap dilakukan, lain masalah itu.

Kalau sudah begini, lantas terpikir, berperang melawan hawa nafsu itu dilakukan mestinya ya saban hari, bukan hanya pas bulan puasa saja. Pertanyaannya, bisakah? saya hanya manusia biasa.

Continue Reading 19 Comments

Ndobosan lama | Ndobosan Baru