1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Suatu Siang

Pada suatu siang, duduk di samping supir angkot yang sedang bekerja, Jalanan macet lumayan panjang, ada angkot lain berhenti di perempatan yang ramai. Itu suara klakson bertalu-talu. Pak supir nggerundel kesal, lantas teriak, “heeeee goblog….ereun sangeunahna wae, ooooi macet yeuuuuh” (berhenti seenaknya saja, macet ini).

Akhirnya angkot “penyebab macet” pergi juga. Antrian bergerak lagi…..sampai di perempatan sibuk itu penumpang ada yang teriak, “kiriiiiiiii“. Angkot berhenti mendadak, lebih cepat dari bayangannya. Penumpang turun, membayar dua ribu rupiah, angkot belum beranjak. Pak supir malah sibuk memanggil-manggil “calon penumpang” …. “neng raja neng … raja“. Suara klakson dari mobil-mobil di belakang kembali bertalu-talu, bikin kesal Pak supir saja.

Kepala Pak supir ditongolkan ke luar, lantas menoleh ke belakang sambil teriak “sabar woi, sabaaaaar ….

Continue Reading 13 Comments

Hubungan-Hubungan

Ada banyak kejadian di akhir pekan kemarin sebetulnya yang bisa ditulis. Salahnya saya (jika hendak dibilang salah), saya tidak langsung menuliskannya, ah … nanti saja. Pada akhirnya, semua menumpuk di ruang kepala, memaksa untuk keluar.

Continue Reading 10 Comments

Bubut jawa

Seribu Intan nomer 32

Ada cerita yang konon-konon begitu tetapi sadis. Carilah anak burung bubut yang baru menetas, patahkan kakinya, tinggalkan barang beberapa hari, datangi lagi, itu kakinya sudah sembuh, patahkan lagi. Ulangi beberapa kali, lantas bunuh burungnya, lalu rendam dalam ramuan. Manjur untuk obat patah tulang. Apa betul begitu, ya ndak tahu juga saya. Saya ndak tega untuk mencobanya.

Cerita kali ini adalah mengenai burung bubut yang hanya diketahui ada di Pulau Jawa, Bubut jawa namanya, Centropus nigrorufus. Ukurannya lumayan besar, 46 cm. Berwarna gelap, kepala, punggung, paruh, kaki serta ekornya berwarna hitam mengkilat, sayapnya coklat dan matanya merah menyala. Baunya juga khas, ndak enak gimana-gimana gitu.

Continue Reading 22 Comments

Gaudeamus

Anak saya menyelesaikan sekolah SMP-nya, dan pagi hingga siang tadi saya menemaninya mengikuti acara “wisuda”. Banyak juga para orang tua yang (menyempatkan diri) datang. Acara dimulai dengan masuknya barisan murid-murid yang akan diwisuda bersama para guru-gurunya. Lantas ada, paduan suara menyanyikan lagu mengiringi langkah mereka memasuki ruangan upacara. Lagu yang membuat saya tertawa agak keras. Akibatnya saya harus menerima tatapan mendelik beberapa orang tua murid. Ndeso, katro, dasar udik, wong acara serius dan khidmat begini kok tertawa. Begitu rasanya ucapan diam yang terlontar dari pelototan itu. Saya tertawa karena lagu itu kok, bukan bermaksud mentertawakan siapa-siapa. Lagu Gaudeamus itu …..

Continue Reading 17 Comments

Musim Bingung

Si Mas sudah lulus SMP sedangkan si Adik sudah lulus SD, lantas datanglah kebingungan musiman itu, saat masa liburan panjang sekolah. Mau dibawa atau “dibuang” ke mana ini anak-anak. Dikurung di rumah saja? saya kok masih punya belas kasihan. Maka mulailah sang Ibu sibuk menyusun acara liburan untuk mereka, sang Ayah terima jadi seperti biasa.

Akhir pekan kemarin itu, setelah menculik anaknya simbok, kami menghabiskan waktu di tempatnya Paklik Baba (foto di atas). Lantas ada pula rencana untuk menyambangi tempatnya Bude Impu. Terpikirkan juga untuk menyambangi tempatnya Pakde Lody atau tempatnya Ndoro Bedhes biasa tertirah. Hanya saja kok semua itu temanya sama ya? pentalitan di alam terbuka. Mungkin belajar membatik di museum batik patut dicoba. Atau, pergi saja ke Bali, sekalian mengunjungi Buliknya anak-anak itu. Banyak pilihan sebetulnya, lantas masalahnya apa?

Mungkin masalah terbesar justru ada di orang tua. Sedang tidak libur kerja, sibuk pula. Atau mungkin juga pilihan-pilihan yang ada tidak berkenan di hati dan/atau di saku orang tua, walaupun sangat berkenan di hati sang anak. Melepas sang anak untuk menikmati liburannya sendiri saja tanpa orang tua? Mungkin anaknya ya senang-senang saja, atau malah makin senang. Tetapi apakah orang tuanya siap ditinggal pergi oleh anak? Coba tanyakan pada Paman Kemplu.

Continue Reading 10 Comments

Ndobosan lama | Ndobosan Baru