
Pada saat saya baru mulai mengamati burung, ada beberapa jenis burung yang karena seringnya dijumpai lantas dijuluki “burung sampah”. Salah satunya adalah Perenjak sayap-garis (Prinia familiaris) atau dikenal juga dengan nama Ciblek. Bagi saya, “burung sampah” satu ini punya nilai lebih … dia adalah burung yang gembira dan sekaligus berisik. Bagi saya sekarang, burung ini tidak lagi menjadi “burung sampah”, karena burung ini sudah mulai susah dijumpai di sekitar tempat tinggal saya sehingga keberisikannya menjadi pelepas rindu akan masa lalu. Konon kabarnya, jika ada perenjak berkicau riang di depan rumah, ada tamu yang berkunjung ke rumah. Siapa tamunya? Ya si perenjak itu.
Continue Reading
35 Comments

Pada hari itu saya memutuskan untuk putus dengan pacar saya dan pacar saya itu tersenyum-senyum girang karenanya. Saya memutuskan untuk mengajaknya menikah. Karena saya adalah macam orang yang pelupa, maka agar saya selalu ingat, tanggal pernikahan kemudian ditetapkan pada tanggal kelahiran saya. Begitulah, 18 tahun yang lalu berjuta-juta gadis kehilangan harapan untuk disunting seorang jejaka pujaan hati mereka dan berjuta-juta jejaka putus harapan untuk mempersunting seorang gadis dambaan mereka. Bagi saya, hari itu adalah hari saya mendapat hadiah ulang tahun terbaik hingga saat ini. Bagi dirinya, tentunya hari itu adalah hari dia menjadi yang paling bahagia karena dijadikan hadiah buat saya. Suka sama suka, senang sama senang.
Neng … terima kasih dirimu telah mendampingi saya selama 18 tahun ini. Ketabahanmu amat sangat patut dipuji. On the romantic side of this special occasion, I would like to say thank you … and I love you.
Foto : Personale
Continue Reading
30 Comments
Seorang kawan di bagian kepegawaian dahulu pernah mengeluhkan betapa sulitnya mendapatkan calon tenaga kerja dengan kemampuan seperti yang diharapkan. Saya lantas bertanya, apakah karena lagi-lagi soal upah? Maklum saja, kantor tempat saya bekerja itu tidak sekuat perusahaan raksasa yang mampu menawarkan upah yang dapat membuat orang terlanda “mak cleguk” (baca: menggiurkan) secara tiba-tiba. Maka keluhan yang lantas kerap dilontarkan adalah, “…bagaimana kita mau bersaing untuk mendapatkan tenaga terbaik jika upah yang ditawarkan menyedihkan begini?” Saya sendiri menolak jika upah dijadikan satu-satunya alasan ketidakmampuan untuk mendapatkan yang terbaik. Untungnya, kawan itu berkata, “belum sampai perundingan upah kok, ini yang melamar jumlahnya sangat sedikit dan nyaris tidak ada yang memenuhi syarat minimum.” Ah…minat awal ternyata.
Saya bukanlah seorang yang ahli dalam bidang periklanan dan perekrutan pegawai. Hanya saja, saya pribadi berpendapat iklan lowongan kerja itu sering isi persyaratan yang ditulis lebih mengerikan dari kenyataan pekerjaannya itu sendiri. Apa lagi jika iklan tersebut ditulis dalam bahasa asing (Bahasa Inggris) … aih, ngeri kali kesannya. Selain itu, iklan lowongan kerja juga tidak menyertakan gambar atau foto sebagai pelengkap tentang pekerjaan yang harus dilakoni nantinya. Lantas bagaimana? Saya ya lantas lancang memberi usulan, bagaimana kalau ilklannya dibuat begini? (sambil menunjukan 3 foto berikut keterangannya). Apa reaksi yang saya dapat? Hanya kerutan di wajah mereka dan seruan “BAH !!!”. Apa yang salah dengan penyajian iklan lowongan kerjaan yang saya buat di bawah ini?
Continue Reading
39 Comments

Sejak pindah dan berkantor di Bali, berat badan saya bertambah dengan pesat. Untuk hal ini, saya lantas menimpakan kesalahan pada juru masak kantor yang masakannya memang enak sangat (buat saya apa sih yang ndak enak?). Akibatnya, badan saya yang semula kecil, mungil, kiyut, imut serta menggemaskan menjadi lebih besar walaupun tetap kiyut, imut dan menggemaskan. Dahulu seorang teman berujar tentang saya begini “… dia sih kalau masuk penjara, itu jeruji penjara harus diganti dengan kawat nyamuk biar dia ndak bisa kabur.” Dampak perubahan morfologi anatomi, atau tepatnya penambahan volume, ini lantas melebar ke mana-mana.
Continue Reading
26 Comments

Selalu saja ada yang membuat saya betah di negeri kering bebatuan ini. Kunjungan kemarin yang lumayan panjang itu, ya masih sama saja rasanya malah bisa dikatakan penuh keriangan. Di sela-sela “kesibukan” kerja masih ada keriangan dari bermain kelereng – dan kalah – dengan anak-anak di Lore, mengejar kambing di bawah pohon asam di Com atau sekadar bermain air laut di Valu Sere, Tutuala sembari senyum-senyum kecut mendengar anak-anak yang menertawakan perut saya yang ikal dan bergelombang sementara mereka dengan bangga memamerkan perutnya yang rata seperti papan cucian – masamu akan tiba nak! -.
Continue Reading
39 Comments