Beritanya bensin, atau persisnya bensin premium, hilang dari pasar di Bali. Bah, berlebihan itu, hilang sih tidak, cuma susahnya setengah mati untuk mendapatkannya. Kalaupun ada di warung-warung bensin eceran pinggir jalan, harganya sudah tujuh ribuan per liter. Dari mulai supir taxi sampai supir ojek mengeluh. Lantas, apa berpengaruh? Ah, yang begini toh sudah sering terjadi.
Continue Reading
37 Comments

Cari makan di Sanur itu gampang, tempat makan pating telecek, ada di mana-mana. Mau makanan jenis apa? Dari mulai makanan mentah sampai makanan gosong ya ada. Dari mulai nasi campur sampai makanan yang namanya saya ndak bisa melafalkannya ya ada. Suasana tempat bersantapnya juga beragam. Mau yang terang benderang , formal, atau yang terbuka di bawah pohon kelapa yang buahnya rajin dipetiki, ada.
Senang mestinya. Tetapi tunggu dulu. Ada rupa ada harga, walaupun sering juga harga dan rasa tak berkorelasi postif. Di sebuah rumah makan yang padat orang asing itu, begitu daftar menu dibuka, pisuhan bisa langsung mencolot (paling tidak dalam hati), “Madam Drembo!!!! lha kok ini gado-gado segini harganya?”
Continue Reading
31 Comments

Nana berulang tahun, sebuah alasan bagus untuk bercengkerama. Maka sore itu, saya, Nana, Anima dan Dewi asik berbincang hingga lebih dari 5 jam di sebuah tempat duduk-duduk sembari ngemil di Sanur. Sayangnya Dental sedang sangat sibuk sehingga batal datang.
Continue Reading
28 Comments