1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar

Posts Tagged ‘cerita’

Selepas Petang

Cakalang

Inilah waktunya untuk menyusun ulang hasil dari kerja sepanjang siang tadi, tiga jam di bawah air berarus kuat.

Kali ini saya ditemani bintang-bintang saja, karena ini saat bulan mati. Ada deram suara generator dari ujung kampung yang memberi nyawa bagi lampu-lampu ber-watt rendah yang berwarna kekuningan, serta televisi berlayar kecil. Iya, televisi, barang yang mampu mengurung orang-orang kampung untuk diam di dalam rumahnya, mereka seperti tersihir oleh apa yang mereka lihat. Kadang saya bertanya, mengapa mereka tak lantas menikmati bintang? Ah, mungkin mereka juga kadang bertanya, mengapa saya tak menonton televisi dan malah tersihir dengan bintang-bintang?

Sesekali saya melirik ke api unggun di sebelah, di atasnya ada cakalang dari Alim, nelayan hitam kekar dari kampung, yang bermurah hati memberikan hasil tangkapannya. Alim, yang kerap bertanya soal kota, berulang-ulang, soal kendaraan yang menyesaki jalanan, atau soal gedung-gedung tinggi. “Apa kaki mereka tidak sakit menaiki bangunan setinggi itu?” tanyanya suatu kali sambil menghembuskan asap keretek murah dari mulutnya.

Buat saya, orang-orang di kampung ini memang ramah, ada senyum di mana-mana, bahkan hansip kampung yang beroman bengis itu sering tersenyum memamerkan gigi-giginya yang kecoklatan. Hanya saja kadang mereka terlalu banyak bertanya soal kota. Tempat yang sayapun enggan ada di sana. Toh orang-orang ini tetap saja memanggilku si orang kota.

Iya, saya memang orang kota penikmat bintang, laut biru toska, cakalang bakar dan kesunyian di tempat jauh, pada saat bulan mati.

Catatan: ini adalah hasil mengikuti kelas menulis dengan tema yang sama dengan judul di atas dari writing table-nya Windy dan Hanny di Yogyakarta, 24 November lalu

Continue Reading No Comments

Punya

otak.jpg

Karena sebab ini itu yang “ya begitu deh”, kepala saya harus dipindai dengan CT Scan dan MRI. Tidak ada yang istimewa mungkin, terutama bagi sang operator alat. Untuk saya, kalaupun ada yang istimewa maka itu adalah, sekarang saya punya bukti amat sangat kuat kalau saya punya otak. Perkara otaknya dipakai atau tidak, itu soal lain. Seperti tergambar pada percakapan dengan kawan berikut ini :

Saya: Sekarang, saya punya bukti sangat kuat kalau saya punya otak. *dengan nada pongah*
Kawan: Punya doang? Dipakai nggak? *dengan nada nyinyir*

Continue Reading 16 Comments

Kesenangan Dalam Kekusutan

Pada suatu masa dulu saya ada diberi pekerjaan yang pada saat pertama kali dijelaskan tampak mudah. Begini … gampangnya, saya diminta untuk mencari letak lokasi suatu tempat dan manaruhnya di atas peta. Untuk menaruh lokasi tersebut di atas peta, yang saya perlukan adalah angka-angka koordinat lintang dan bujur tempat tersebut. Misal, Kota Bandung di Jawa Barat memiliki angka-angka koordinat 6° 54′ 53.08″ Lintang Selatan 107° 36′ 35.32″ Bujur Timur. Pada waktu itu, Internet masih merupakan kemewahan dan GPS masih merupakan barang langka. Tetapi pada waktu itu saya masih beranggapan bahwa ini adalah pekerjaan mudah yang dengan hati girang saya terima. Lantas, sayapun “terjebak” di pekerjaan itu selama hampir 7 tahun (tentu saja ditambah dengan pekerjaan lain). Apa pasal?

Continue Reading 13 Comments

Ampuh

id.jpg

Setiap mengikuti perhelatan macam pertemuan kemarin itu di Manado, barang bawaan saya selalu bertambah berat. Ada setumpuk dokumen yang harus dipilah-pilah dan ditindak lanjuti (merajang di mesin perajang dokumen termasuk salah satu tindak lanjut juga), pernak-pernik perhelatan, kartu-kartu nama dari kenalan baru (dan kenalan lama yang sudah ganti juragan/kumpeni) serta segepok tanda pengenal (id-card). Oleh-oleh juga? Ah…saya terlalu kikir dan malas untuk membeli oleh-oleh, bahkan berceritapun kadang malas.

Continue Reading 36 Comments

Cerita? … Nanti Saja

koala1.jpg

Hiyaaaa, bisa update blog ini. Jadi begini, sebulan ini saya praktis hidup bersama koper saya itu. Ada Dili, Kupang, Jogyakarta, Brisbane, Townsville, Great Barrier Reef, Singapura dan tentu saja Bali. Ada banyak cerita sebenarnya yang menurut seorang kawan semestinya ditulis. Tetapi toh pada akhirnya tidak ada yang ditulis. Tidak tentang cerita orang-orang Lamalera dan Boti, tidak tentang cerita pemandangan bawah laut The Great Barrier Reef yang masih kalah indah dibandingkan dengan Taman Nasional Wakatobi, juga tidak tentang mengayuh sepeda dari pasar Cebongan ke Warak. Semua cerita tadi akhirnya hanya diceritakan secara lisan saja kepada orang-orang yang tertimpa kemalangan karena duduk di depan saya dan harus mendengarkan saya ngoceh.

Mungkin karena saya lelah (kok ndak pernah lelah ngoceh ya?), atau memang sedang malas saja menulis. Semua itu akhirnya hanya tersimpan di ingatan saya yang sudah dari dulu memang lemah dan terserak di ingatan beberapa orang saja. Karena saya berkeyakinan selalu ada hal baik dari semua kejadian, perkara sepele dan ndak penting semacam jarang update blog begini juga ada berkahnya. Saya jadi punya bahan obrolan jika bertemu dengan kawan. “Ada cerita apa, blogmu sepi cerita”. Lantas, mengapa ini perlu?

Dua hari lagi akan ada kumpul-kumpul besar para blogger di Jakarta. Konon katanya laris manis, ada banyak yang akan datang nanti. Saya berencana untuk datang walaupun tampaknya akan terlambat. Kepada sang manusia kursi hajatan ini saya sudah berkabar, “dengan sangat menyesal, tampaknya saya tidak akan bisa mengikuti acara pidato-pidato”. Dia tidak berkeberatan, karena toh saya bukan salah satu orang yang akan memberikan pidato. Saya hanya ingin bertemu dengan banyak kawan yang sudah lama tidak saya jumpai, dan lantas bertukar cerita. Jika waktu yang tersedia di perhelatan besar itu belum cukup, masih ada warung seorang kawan yang ingin saya sambangi. Betapa sedapnya bertukar cerita sembari menyeruput wedang yang kata sang juragan warung akan diberikan gratis untuk saya. Sampeyan mau ikut? Saya ada banyak cerita.

Lantas itu foto koala di atas apa hubungannya dengan tulisan ini? … Ndak ada hubungannya.

Continue Reading 52 Comments

Ndobosan lama |