
Kemarin itu ada libur agak panjang, bertepatan pula dengan waktu saya sedang pulang ke rumah. Tidak sebagaimana pakem berlibur ke rumah nenek yang diajarkan pada saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kami memilih cara berbeda (juga karena saya sudah tidak punya nenek lagi). Anak-anak juga meminta “jalan-jalan” ke luar. Kalau sudah begini, yang langsung muncul di pikiran saya hanya dua tempat, villanya Ndorokakung atau berkemah di Tanakita. Kali ini, pilihannya pada berkemah dan jadilah acara berkemah di musim hujan itu dilaksanakan. Acara kali ini juga punya nilai lebih karena kami ditemani the dynamic duo Dinda dan Papin.
Continue Reading
37 Comments
Ada banyak hal-hal ganjil yang dapat membuat saya tergelak-gelak dalam setiap perjalanan yang saya lakukan. Sebenarnya kebanyakan keganjilan itu datangnya dari diri saya sendiri, mulai dari sok tahu yang akhirnya nyasar dan pulang diantar polisi sampai diuber-uber pelayan toko karena saya mengudap potongan kueh lantas lenggang kangkung meninggalkan toko. Lha saya kira itu kueh untuk icip-icip. Tetapi kali ini saya ingin berkisah tentang keganjilan yang bukan berasal dari diri saya. Sesekali bolehlah saya menjadi manusia genap.
Continue Reading
36 Comments

Pulau Moromaho itu pulau yang relatif kecil saja ukurannya, saya menduga-duga hanya 100-an hektar. Tetapi jika waktu surut, ukuran pulau ini bisa bengkak beberapa kali karena karang yang tadinya ada di bawah air seolah muncul ke permukaan. Ada sebuah mercusuar di sini, tetapi penjaganya entah di mana. Sebagian pulau ini ditanami kelapa, entah sejak kapan. Seorang petani kopra yang saya temui bercerita, dia pertama kali ke pulau ini untuk menemani kakeknya membuat kopra tahun 1974. Sebagian lain lahan pulau ini ditumbuhi bakau yang menjadi tempat bersarang Angsa-batu kaki-merah (Sula sula) (foto di atas). Saya tidak menemukan sarang Cikalang besar (Fregata minor) di sini, tetapi mungkin saja ini bukan musim burung ini untuk bertelur.
Continue Reading
27 Comments

Setelah dua jam mengarungi samudera, memecah ombak di malam yang diterangi bintang dan bulan bulat (cuiiih sekali), kami tiba di Pulau Tomia. Kami akhirnya menginap di Waha di Pulau Tomia karena saya ngeri dijadikan jangkar kapal oleh Pak Kapten speed boat, dan lantas harus berganti nama menjadi Mbilung Jangkarkapal. Sebelum berangkat tidur, Pak Kapten berpesan, “kita berangkat besok jam 3 pagi ya” dan lagi-lagi saya mengangguk setuju. Saat itu saya benar-benar menikmati langit malam yang dipenuhi bintang dan sesekali bisa melihat seleret bintang jatuh (meteor). Di kota besar, kadang saya bisa juga menikmati yang begini pada saat langit sedang bersih dan PLN sedang melakukan pemadaman listrik.
Continue Reading
15 Comments

Bagi saya, ini adalah sebuah perjalanan tanpa persiapan yang benar. Semua dilakukan dengan terburu-buru, tetapi toh saya memutuskan untuk tetap berangkat. Bagaimana tidak, iming-imingnya terlalu menarik untuk diabaikan. Pergi ke sebuah pulau yang di peta juga amat sangat susah dicari. Maka begitulah, saya pergi ke pulau tanpa penghuni tetap itu. Pulau Moromaho (ada pula yang menulisnya Moromahu), yang merupakan pulau paling selatan di Kepulauan Wakatobi (atau dulu lebih dikenal dengan nama Kepulauan Tukang Besi) di Sulawesi Tenggara. Wakatobi sendiri sebenarnya adalah singkatan dari nama pulau-pulau utama di kepulauan ini (Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko).
Continue Reading
16 Comments