Gender Ganteng

Gender, waaa ini sedap betul. Kalau sudah ndobos soal gender agak semangat saya, soalnya gender sama gendeng cuma beda  r dan ng saja. Gender sendiri suka disalahartikan, paling tidak begitu menurut saya. Gender sering dilihat hanya sebagai perbedaan jenis kelamin saja.  Laki-laki – Perempuan, XY – XX, itu biologis. Lha gender bicara lebih luas dari itu, ada kaitannya dengan sosial budayanya segala …. katanya lho ya. Lantas gender juga tidak hanya memiliki kelompok perempuan atau laki-laki, tetapi juga yang di antara itu.

Saya jadi ingat pada suatu kejadian, seorang dosen -perempuan- yang mengajar soal gender dan pembangunan yang teramat kecewa karena dari 36 orang yang mendaftar untuk mengikuti kuliahnya, hanya ada satu yang laki-laki. Entah karena laki-lakinya itu gatel atau memang dia benar-benar tertarik dengan mata kuliah itu.

Ketimpangan gender yang dibahas tidak hanya masalah bagaimana perempuan lantas terpinggirkan dalam banyak hal. Akan tetapi ada juga kejadian di mana laki-laki justru yang tersingkir. Pada ujungnya, ada debat panjang mengapa terjadi peminggiran, sebuah debat yang tak seimbang juga, lha wong lakinya cuma satu yang cuma bisa mesam-mesem kesengsem pasrah dikeroyok perempuan.

Debat panjang itu akhirnya diakhiri dengan acara mingkem bersama setelah Ibu dosen bertanya … “lantas bagaimana solusinya?” Tak hanya dalam masalah gender saja saya kira, dalam banyak hal kita sangat fasih untuk melihat kekurangan pihak lawan. Prasangka yang sudah ada sejak awal sering menulikan, hilang sudah kemampuan untuk mendengar. Energi untuk mendengar dicurahkan untuk berbicara, sekeras mungkin.

Masalah gender buat saya kok rasanya jadi masalah bagaimana belajar untuk mendengarkan. Soal diujungnya ada sepakat, itu ideal. Kalau belum, tak ada salahnya juga keluar ruang diskusi sambil bibir masih menyunggingkan senyum.

Sebuah pembelajaran yang menarik. Ndak rugi saya mengikuti kuliah itu, apalagi sebagai satu-satunya laki-laki di kelas. Lantas saya bisa menobatkan diri sebagai yang terganteng di kelas.

Join the Conversation

15 Comments

  1. mwihihihihi….. baru saya mau bilang saya kenal laki-laki yang mbeludhus ke ruang kuliah penuh cewe itu dasar narsis malah ngaku yang paling ngganteng. hihi jadi inget pas kelas six sigma, saya ya paling huayuuuu tuennnaaaaan ranono saingan 😀

    betul sekali. ngomong keraspun belum tentu ada *isi*nya.

  2. ooo aku kira gender yang biasa dimakan sama pecel itu, ga tahunya jender…

    Trus, boleh tahu ga kenapa Sir Ndobos bersedia ikut kuliah itu, padahal lanang dewe, ga takut apa? :p

  3. “……dengan ini kami mengundang perangkat desa untuk seminar gender….”

    eh yang dateng ibu-ibu karawitan..dikira mau seminar gamelan

    (gender=jenis alat musik dalem gamelan jawa)

  4. ehhh..pinjem gender nya dong, mau buat ngambil buah mangga yg sudah besar2 itu lho….ehh itu genter ding ya.
    horrreeeee…aku tawon, miber sik arep ngentup…..

  5. Bicara soal gender, saya kira ini bukan hanya perkara belajar mendengar, tapi juga belajar untuk memperbaiki cara pandang. Saya khawatir pembicaraan ttg gender dan emansipasi tu banyak diwarnai oleh cara pandang yg timpang. Issuenya adl menempatkan diri dlm peran yg tepat, dan berkiprah optimal di sana. Bukan lantas berebut peran.

  6. waduh gender kuwi campuran congyang ples bir dhe.. coba njenengan mampir ke warung mimik’an di semarang..

    kalo masalah ganteng saya percaya dan mendukung..

    kodene saiki pakanan?? aku entuk rawon..

  7. aduh pakdhe, masalah gender ini aku wes puas jaman kuliah dulu 4,5 tahun dikoloki masalah gender, nek menurutku sing sok keminter iki sih soal sudut pandang ae kok pakdhe, mbuh bener mbuh ora

  8. iyo mas, juru bengok emang luweh akeh daripada juru solusi, dan ternyata mendengarkan itu butuh belajar… tur ora gampang…hehhehe… (sambil manggut2 sok serius…)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *