Customer Service

Customer service (CS) itu identik dengan perempuan muda kinyis-kinyis, pake blazer, senyum-senyum terus dan tampak memiliki pengetahuan yang menyeluruh akan produk yang ditawarkan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Pelanggan yang bingung diharapkan bisa mak nyes senang karena dapat sesuatu yang layak tatap dan mak nyes tenang karena masalahnya bisa diatasi oleh sang CS.

Tetapi tetap saja ada CS yang irit senyum dan kemampuannya juga CS (cekak sekali). Alih-alih pelanggan menjadi terbantu, yang terjadi malah pelanggan yang lantas memberikan kursus singkat soal produk yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut kepada CS. Mbakyu CS ayu berblazer senyumnya ndak muncul juga malah sekarang hanya bisa berbunyi “ooooo … ooooo … ooooo”.

Beberapa teman mengatakan saya punya kemampuan luar biasa untuk mendengarkan tanpa memotong pembicaraan orang yang menerangkan walaupun yang diterangkan itu mbundetnya ndak karu-karuan. Terkadang yang menerangkan malah bingung sendiri dengan keterangan yang diberikannya. Lantas ujung-ujungnya berkata “pokoknya begitu deh”.

Saya sendiri ndak tahu seberapa jauh sebuah perusahaan jasa yang menyediakan CS menaruh perhatian terhadap kualitas CS-nya. Bukan hanya kualitas penampilan tapi yang lebih penting adalah kualitas pengetahuan akan produk yang ditawarkan. Jika pengetahuannya hanya sebatas apa-apa yang ada dalam brosur ya saya kan bisa baca sendiri. Akhirnya saya itu tadi diminta untuk menghubungi call center saja.
Oh ya … kenapa saya jarang lihat ada CS laki-laki ya? Lantas kenapa pula para pegawai call center selalu digambarkan berpakaian necis dan berdandan kumplit? Kan mereka tidak langsung bertatap muka dengan pelanggan? Apa ini ndak mirip dengan acara tari bali di radio? Bayangan saya malah di call center orang-orangnya sedang njawab telpon sambil jegangan, sarungan dan lagi ngunyah rujak.

Join the Conversation

12 Comments

  1. kalo di call center tentu gak bisa rujakan mas, mosok njawab telpon disambi kepedesen, hehehe.
    btw, CS sering dipandang sebelah mata, paahal CS adalah garda depan perusahaan loh, mereka jadi sasaran pertama dari program internal branding

    maksudnya sebelah mata itu sering dikedip-kedipi genit?

  2. CS juga manusia, kadang kalo dah siang ato pas laper bisa cemberut ato lupa senyum. kalo lg jatuh cinta, seharian mah bisa senyuummm mulu… kalo belom gajian sedangkan utang menumpuk juga bisa bikin bilangnya “oooo…” mulu sama orang. mungkin itulah analisa psikologi pekerja… susah emang profesional 100%, tapi kita sebagai konsumen ya bisanya bilang “meneketehe… pokoke elu musti senyum ma gue… hehe…”

    senyum tapi giginya rapet ya sepet juga mas

  3. saya sih curiganya karena laki-laki jarang bisa multitasking semisal ngomong menjelaskan ke klien, ketak ketik di kibor nyari info, tetep dengerin pelanggan sambil senyum supaya pas reply suara masih renyah, sekalian ya pak ya bu sambil dalam hati misuh, plus kadi kode ke rekan sebelah bahwa pelanggan ini resek tauuu.. kikikiki

    anak buah saya yang cowo dikantor kalo udah nelepon ditanya sesuatu pasti ga konsen, either teleponnya jadi belepotan atau bengong ga ngejawab. kikikik

    ah bu guru benar adanya

  4. ga tau apa Astra sekarang masih nerapin CS untuk semua orang, termasuk internal client….
    Astra dulu sampe kirim orang kursus kepuasan konsumen, mulai dari OB sampe direktur…

    anda puas, kami lemas.

  5. ada gitu yah aturann tertulis klo CS musti perempuan muda kinyis2…dan berusia tdk lbh dr 25 tahun?

    ndak tau saya bu guru, saya ndak lihat yang tertulis, saya cuma lihat yang ternyata 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *