Bola-Bola di Ujung Sana

Bayangkan bibir sampeyan dipasangi piring, lantas jalan-jalan dengan piring di mulut. Sekedar cari perhatian? tanyakan saja pada suku Indian Kayapo dari Brazil yang memasang piringan dari kayu balsa di bibir bawahnya, atau tanyakan pada suku Makololo dari Malawi di Afrika yang memasang piring di bibir atasnya, mereka menyebutnya Pelele. Bagi suku Kayapo urusan masang memasang piring di bibir adalah urusan serius. Itulah tanda keberanian dan tujuannya untuk menakut-nakuti musuhnya.

Saya menulis ini karena membaca tulisannya Ibu satu ini soal piercing. Sebuah kegiatan lawas yang hingga kini masih dilakukan. Tidak hanya oleh orang-orang tua, tetapi juga oleh anak-anak muda, bahkan anak kecil. Body piercing adalah bagian dari kegiatan body modification. Modifikasi tubuh yang juga meliputi menggambari diri itu, tattoo. Hanya saja, pada body piercing setelah anggota tubuh dilukai ada yang diselempitkan di luka itu. Memasang anting-anting pada cuping telinga misalnya.

Entah kapan body piercing persisnya dilakukan manusia, tetapi yang pasti sudah sejak lama sekali. Sebuah mayat yang terawetkan yang berasal dari sekitar 5.000 tahun yang lalu yang ditemukan di Pegunungan Alpen di perbatasan negara Italia dan Austria pada tahun 1991, Ötzi the Iceman, cuping telinganya dibolongi.

Kegiatan body piercing ada banyak peruntukannya. Ritual keagamaan, estetika, pengobatan hingga peruntukan sexual. Di India banyak perempuan memasang phul (yang seperti pentolan itu) atau Nath (cincin) di cuping hidung sebelah kiri. Titik tersebut dalam Ayurveda diyakini berhubungan dengan organ reproduksi perempuan dan melakukan piercing di titik tersebut diyakini mampu melancarkan proses kelahiran dan mengurangi rasa sakitnya.

Piercing untuk keperluan sexual lebih luas lagi dipraktekan di dunia, walaupun lokasi piercingnya ya sempit-sempit saja. Lelaki suku Dayak Kayan, Kenyah, Kelabit dan Iban kabarnya memasang piranti mirip barbel pada bagian ujung penis, mereka menyebutnya palang. Para bangsawan dari Pulau Jawa pada jaman dahulu tampaknya juga melakukan hal yang sama. Pada candi-candi seperti Candi Ceto misalnya, ada lingga (sebagai representasi dari penis) yang dilengkapi dengan dua bola pada bagian ujungnya. Sebuah kalung emas kuno yang berasal dari Gegerbitung di Sukabumi salah satu yang menggandul di kalung itu ada yang berbentuk penis dengan enam bola pada bagian ujungnya. Apakah bola-bola tersebut adalah bagian dari palang atau sesuatu yang dimasukan ke bawah kulit (sub-cutaneous), entahlah.

Piercing untuk keperluan sexual begini dahulu hanya untuk laki-laki saja, dan kedudukan laki-laki tersebut dalam tatanan sosial juga tinggi. Pada perempuan, hal ini tampaknya baru dilakukan pada jaman sekarang saja.

Cuping dan daun telinga, hidung, pembatas lubang hidung (septum), pipi, alis, bibir merupakan tempat piercing yang banyak terlihat. Wajah tampaknya merupakan lokasi favorit untuk dilukai dan dipasangi hiasan. Itu yang dipertontonkan, yang tidak kabarnya banyak juga entah itu di puting payudara, udel (walaupun kadang bagian ini juga dipertontonkan) atau di bawah udel yang tersembunyi itu. Sampeyan apa pernah liat piercing di bola mata?

Gambar diambil dari sini.

Join the Conversation

19 Comments

  1. hwehehehe…ternayta budaya kuno to…walah2 aku baru tahu org india pasang di hidung untuk memperlancar kelahiran…lh ngerti ngono disa di coab tuh dr pada sexio… Wah mas, maturnuwun ya, tulisannya melengkapi… eh lebih lengkap malah…hihihi aku nulis cuman gara2 pasen yg infeksi… ga mbaca sejarah2…itu bagian njenengan…btw tak kiro arep pasang gambar piercing di P****s jeee…wakakakak nggilani…

  2. liat gambarnya yang mecungul aja bikin kaget! kok yo isa kaya ngono. kalo dinamai piringnya pasti “piring anti nge-cesss”. salut sama kebudayaan indian kayapo. jangan-jangan ini yang jadi sumber inspirasi tukulllll

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *