Tak Bising?

Ada pesawat mengalami kecelakaan lagi, pesawat MD82 yang diterbangkan oleh maskapai penerbangan Thailand, One-Two-GO berkode registrasi HS-OMG itu bablas keluar landasan pada saat mendarat ditengah cuaca buruk di Phuket. Penyebab kecelakaan pastinya apa, masih diselidiki.

Lantas saya ada membaca berita di sini soal pesawat MD82. “Tak Bising dan Efisien” begitu judul beritanya, dan ada tertulis “Sama seperti seri MD lainnya, MD-82 merupakan pesawat paling hemat bahan bakar di antara semua jenis pesawat komersial yang ada di dunia ini.” Reaksi pertama saya membaca berita itu adalah ucapan “ngawur!!! ndobos itu jatahnya saya” Perkeliruan macam apalagi ini.

Berdasarkan tingkat kebisingan, semua pesawat dikelompokkan dalam sebelas kelompok yang lantas diistilahi sebagai “Chapter”. Kata Chapter ini mengacu pada Chapter dalam dokumen “Environmental Protection – Volume I. Aircraft Noise” yang dikeluarkan oleh International Civil Organization (ICAO). Perkara kebisingan yang ditimbulkan oleh pesawat bermesin jet berkecepatan di bawah kecepatan suara diatur dalam Chapter 2, 3 dan 4.

Aturan yang tercantum pada Chapter 2 lumayan longgar, sehingga jika diterapkan pada pesawat yang masih terbang sekarang, kita bisa dapat daftar pesawat yang amat sangat berisik. Pesawat DC9 dan 737-200 misalnya, masuk dalam kategori ini. Lantas ada Chapter 3 yang lebih ramah telinga dan MD82 berada di ambang batas untuk masuk kategori ini.

Ada banyak bandar udara, terutama di Eropa, yang tidak memberikan ijin mendarat untuk pesawat yang hanya memenuhi persyaratan Chapter 2. Bisa dibilang “pesawat Chapter 2” sudah tamat. Indonesia adalah perkecualian, Boeing 737-200 masih menjadi raja udara di sini.

Kembali ke MD82, dalam waktu dekat banyak negara di dunia akan mulai menerapkan aturan kebisingan yang dimuat dalam Chapter 4. Pesawat yang tidak memenuhi persyaratan yang tercantum dalam Chapter 4 mulai dipensiunkan dan MD82 adalah salah satunya. Pesawat ini sudah dirasa terlalu bising.

Perkara paling hemat bahan bakar. Sudahlah, mesin yang dipakai oleh MD82, JT8D-217 buatan Pratt and Whitney, adalah mesin turbofan dengan bypass ratio kecil yang relatif rakus bahan bakar. Untuk ukuran saat ini MD82 dianggap sebagai pesawat tua, brisik dan rakus. Berita di sini ada menulis begini : “They are cheap to buy, but have proved very expensive to operate in recent years as oil prices have rocketed, because older aircraft are far less fuel efficient.” Tidak heran banyak perusahaan penerbangan saat ini melepas pesawat MD82-nya. Tetapi karena masih ada sedikit umurnya, pesawat ini masih bisa mendatangkan uang. Sewakan ke perusahaan perbangan berbiaya murah di Asia Tenggara, mumpung perkara bising belum menjadi persoalan.

Foto oleh Jakkrit Prasertwit diambil dari sini.

Join the Conversation

12 Comments

  1. lha itu si kompas mengambil dari AFP, reuters dan lain2 yang merupakan media terkenal kok ya infonya bisa ngawur to?wah…

    Sepertinya yang diambil Kompas dari kantor-kantor berita itu ya berita kecelakaannya, bukan soal MD82-nya. Walaupun, dalam berita di sini (dalam box gambar), informasi AFP soal pesawat MD82 HS-OMG One-Two-GO yang mengalami kecelakaan tersebut ya tidak akurat juga. Disebutkan pesawat tersebut in service 12 tahun. Ngawur juga itu. (-Mbilung-)

  2. Pro Pitik: Reuters/AFP/AP juga bisa salah. Jangankan soal pesawat, soal sepakbola juga kadang keliru.

    Btw, sampeyan ini juga ngurus burung besi juga tho…weleh disikat kabeh 😀

  3. mungkin itu yang bikin maskapai cap singa itu ganti ke boeing 737-900er, eh mbah cn-235 masuk chapter berapa ya?

    cn-235 memenuhi persyaratan yang tercantum dalam chapter 3, kalau chapter 4 diberlakukan cn-235 juga masih lolos. (-Mbilung-)

  4. pengetahuan Anda oh Tuan
    mengagumkan 🙂

    -jadi inget seorang temen yang kena apes, gara-gara nulis soal pesawat Boeing mengandalkan analisa kantor berita, lain kali tak kon konsultasi sek karo njenengan mawon nggeh ;)-

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *