Peneliti Ndobos

zosterops-somadikartai.jpg

Burung adalah satwa yang relatif mudah dilihat. Maka, jika ada jenis burung baru yang ditemukan, adalah sebuah berita besar. Begitulah yang terjadi. Akan tetapi, tanpa mengecilkan arti penemuan dan merendahkan penemunya, jika peristiwa ini terjadi di negara seperti Indonesia, maka berita tersebut bukanlah sesuatu yang mengherankan. Benar sekali, ada rasa bangga di peristiwa seperti itu, apalagi yang menemukan adalah orang Indonesia. Hanya saja, merenung sedikit, maka ada keprihatinan yang muncul.

Indonesia yang disanjung-sanjung sebagai tempat dengan keanekaragaman hayati yang melimpah ternyata masih sedikit sekali dieksplorasi. Keadaan geografis, jumlah peneliti, dana yang tersedia untuk penelitian, birokrasi, semua menjadi faktor penghambat. Sebuah penyangkalan basbang? Tidak. Itu kenyataan yang ada.

Maka, ketika membaca sebuah tulisan di halaman 1 hingga 9 di jurnal burung yang ternama, Wilson Journal of Ornithology, hati saya berbunga-bunga. Girang melihat dua sahabat itu, Mochamad Indrawan (Didi) dan Sunarto bersama dengan Pamela C. Rasmussen, akhirnya menerbitkan hasil kerja mereka yang sudah lama berselang dengan artikel berjudul A New White-Eye (Zosterops) from the Togian Islands, Sulawesi, Indonesia.

Satu lagi spesies burung behasil dideskripsi sebagai spesies baru. Kacamata togian (Zosterops somadikartai) itu nama yang diberikan, sebagai penghargaan bagi Pak Somadikarta yang menjadi guru bagi Didi dan Sunarto. Temuan itu sebenarnya temuan lama. Berawal dari tahun 1996 ketika Sunarto melihat burung yang tidak bisa diidentifikasi olehnya. Bersama kakak kelasnya, Didi, mereka terus memburu spesies asing tersebut. Akhirnya, pada tahun 2003, spesimen burung asing tersebut bisa didapat dan diperiksa oleh Pamela Rasmussen dari Michigan State University, Amerika Serikat, untuk dideskripsi. Hasilnya, semua sudah tahu, itu spesies baru.

Saya menghubungi Didi, mengucapkan selamat. Kami bergembira barang sesaat. Lantas keprihatinan itu muncul, betapa sedikitnya pengetahuan akan isi alam Indonesia. Lebih prihatin lagi, betapa sedikitnya orang Indonesia tahu akan isi alam Indonesia. Lantas akan menjadi cerita sedih jika kemudian ingat bahwa kita (termasuk saya) kadang mencak-mencak seperti cakil karena kekayaan alam Indonesia dipatenkan oleh orang dari luar Indonesia, sembari dengan semangat berkobar meneriakkan kata-kata “maling”, “bedebah”, “laknat”, “dasar peneliti hollywood”. Mestinya kata-kata itu saya lontarkan ke diri sendiri, hanya saja kata “maling” diganti dengan “penelantar” dan “peneliti hollywood” diganti saja dengan “peneliti ndobos”. Nggaya tok, ra ono hasile.

Gambar oleh Agus Prijono.
Berita terkait ada di sini. Terima kasih kepada Paman Tyo yang sudah mengingatkan.

Join the Conversation

40 Comments

  1. usul!

    Mungkin ada baiknya sampeyan juga nulis keuntungannya jadi peneliti itu apa? orang indonesia kan mikirnya gitu, kalo ndak dapet apa-apa mending nganggur.

    gimana sir?

  2. setuju dengan ide bangsari, bagaimana mungkin seseorang tertarik jadi peneliti kalo sampean sudah membocorkan sulitnya birokrasi dan keterbatasan dana (dengan kata lain biaya sangat tinggi)

    kalau menguntungkan, saya boleh lah gabung sama pakdhe 😆

  3. oh…ini yang kemaren di kompas. kirain udah masuk ke salah satu seribu intan kemaren2 itu…
    mas, emang kalo udah pindah kerjaan, ga boleh lagi ada SERIBU INTAN di blog? atau burung yg mo dibahas udah abis?

  4. Sekolahnya dimana Ndoro? Kog saya jarang denger ya ahli per-burung-an di indonesia. Kalo belajar-nya di luar negeri, lah bukannya referensi per-burung-an banyak nya di indonesia? Mbolak-mbalik dong ndoro..?
    Salam kenal

  5. Saya pernah ke Togian Island,..menempuh perjalanan 3 jam lewat darat dari Gorontalo ke Marisa, lalu another 7 jam lewat laut dari marisa ke pulau Kadiri..
    Kami menyelam mencari titik titik penyelaman dan reruntuhan pesawat B 24 eks WW II..Herannya guide yang mengantar kami adalah orang Jerman..
    * sedih orang asing yang tahu area penyelaman di Indonesia

  6. om kulo nderek kenal rumiyin nggih…
    bdw, tulisanipun sae… insya allah
    mangke dalu kulo mampir malih.

    *dereng maos ngantos tuntas soalipun 🙂

  7. meneliti sambil ‘laper’ susah juga mas, banyak teman-teman peneliti yang frustasi juga … kerja di institusi di ln itu salah alternatif yg kadang diambil…

  8. apa mgk karena kurang nya sdm pakar burung di Indonesia ??
    saatnya paman dkk pecinta burung menggalakkan program cinta lingkungan cintai burung…

  9. diingatkan paman . . . ?
    bukannya runtang-runtung ma tikabanget itu karena sama2 sadar burung , , 😛
    dari cerah warnanya, itu burung jantan ya sir . . ?
    kok mirip ‘great tit’, masih kerabat?

  10. kalu buku MacKingkong harus dirubah total boss. kebanyakan nama2 lokal yang dipake berdasarkan nama2 inggris yang di-Indonesia-kan. padahal kita punya nama daerah sendiri2 untuk burung2 itu. piye boss? atau diganti aja title bukunya jadi “burung-burung nDobos Republik Ngapusi”.

  11. Kang Ijo….kapan ndobos manuk di jogja….nongkronmg bareng bloggers trus birdwatching bareng kang…..he..he..he….pesertanya pasti banyak….

Leave a comment

Leave a Reply to nonadita Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *