Absurd

absurd.jpg

Ada banyak hal yang layak disimpan dalam ingatan dari kunjungan ke Yogja kemarin itu. Soal acara syukuran Cerpenista tidak usahlah lagi dibahas, jika sampeyan tertarik lihat saja di sini, sana dan situ … ah di sana juga ada. Mengapa suasana menyenangkan yang dilaporkan oleh tulisan-tulisan itu terjadi dan mengapa pula banyak orang dari tempat yang jauh lantas meluangkan waktunya untuk berkumpul, itulah soalnya.

Selain lagu pengiring joged dahsyat sang Ketua Kelas Cah Andong, ada satu hal dari kunjungan kemarin yang terus terngiang di kepala sampai sekarang. Nyaris sepanjang hari Minggu kemarin, Momon dan Sita berkali-kali bernyanyi duet sepenggal lagu dari Sindentosca, diulang-ulangĀ  seperti tidak ada bosannya. Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu, begitu liriknya. Terus terang saya ndak paham apa maksudnya. Menyamakan persahabatan dengan kepompong menurut saya adalah hal yang ganjil. Pun demikian dengan seolah menyatakan ulat lebih buruk daripada kupu-kupu.

Lantas apa hubungannya antara lirik dengan acara kumpul-kumpul kemarin itu? Ya soal keganjilan itu tadi. Terasa ganjil mungkin karena matriks pikir saya masih modern dan itu sudah usang (sebuah paradox yang menggelikan). Meminjam istilah Pakde Totot yang terlontar di saat kami bertemu di emperan Ambarukmo Plaza, saat ini adalah jamannya beyond post-modernism. Jika itu yang terjadi, maka saya tak perlu heran sebetulnya dengan kebingungan saya memahami apa-apa yang saat ini tengah berlangsung di blogosphere. Toh saya sudah ketinggalan dua langkah.

Soal cerpenista yang menjadi titik pusat acara pertemuan di akhir pekan kemarin itu adalah sebuah absurditas lainnya. Betul, saya bisa menikmatinya dan terkekeh-kekeh mengikutinya. Saya terkekeh karena saya tidak tahu harus apa lagi. Teman-teman yang usianya separuh usia saya itu memang absurd dalam arti positif. Jika lantas saya menjadi (semakin) absurd dari sebelumnya, ya itu resiko saja. Absurditas juga yang membuat orang bisa menjadi demikian girang. Paman terkenal yang budayawan itu rasanya tak akan sampai tergelak dahsyat jika atraksi Momon sang Ketua Kelas Cah Andong itu tidaklah absurd.

Kembali ke pertanyaan di paragraph satu, saya sempat bertanya kepada seorang kawan.

Saya: dapet apa sih coba?
Dia: kenangan? pengennya malah malem minggu itu tidak berakhir dan tidak ada rasa ngantuk
Saya: logikanya di mana itu?
Dia: gak smua bisa pake logika ya

Ini soal apa sebetulnya? Entah … saya sedang tidak bisa tidur saja.

Foto: itu yang motret siapa ya?

Join the Conversation

37 Comments

  1. saya ketinggalan.

    satu, mungkin saya lagi plurk sama plurk jadi gak bisa selalu plurk seperti biasanya. what the plurk!!

    dua, you know what happened the other day (dan makasih banyak situ telpon dan bikin saya nangis lagi, haha!), dan setelahnya saya jadi agak plurk, jadi yah…gitu deh. terlalu banyak yang harus diplurk, bukan?

    tiga, I love you and I thank you for everything. maaf kalo selama ini pernah punya salah, nyebelin, pernah salah omong atau gimana2. I was pretty sure it was gonna be too late for this. telling you this shit, asking for forgiveness, and everything. maafin ya mas..

    empat, saya juga gak tau harus ngomong atau cerita apa lagi.

    lima, plurk is under maintenance, it says.

    šŸ˜€

  2. tiga hari bersama kalian sungguh melelahkan.
    bikin sayah ndak tidur.
    bikin sayah jadi sopir antar jemput kesana dan kemari.
    bikin sayah ngakak ngakak luar biasa.
    bikin hidup sayah ceria..
    haha..

    persahabatan bagai kepompong.
    mengubah ulat menjadi kupu-kupu.
    sayah paham maksudnya itu.
    tanpa kalian-kalian, sayah ndak bakal tambah seabsurd sekarang dalam waktu 3 taun ngeblog inih..
    bwakakak..

  3. Jumat-Minggu yang menyenangkan
    Banyak bertemu kawan-kawan
    Acara rame lagi seru
    Sungguh bikin bahagia hatiku

    Selama ini hanya chatting saja
    Tiba-tiba bertatap muka
    Baru tiga hari berlalu
    Sudah ingin kembali bertemu

    << maap, saya serius

  4. […]Mengapa suasana menyenangkan yang dilaporkan oleh tulisan-tulisan itu terjadi dan mengapa pula banyak orang dari tempat yang jauh lantas meluangkan waktunya untuk berkumpul, itulah soalnya[…]
    Barangkali agar tidak bisa tidur dan menulis, mengenangkannya
    Absurd lagi, eh? šŸ™„

  5. berkumpul dan ketawa ketiwi seperti kmarin, bergadang semalaman,.. membuang waktu mencari nafkah sekian jam…
    menghabiskan beribu-ribu Joule energi hanya untuk menemui teman2 bloger, orang2 tua seperti pak de,..

    bener2 BEYOND-POST MODERNISM …
    istilah ini pernah saya dengar dari seorang teman dekat dulu..

    *thx buat post ini Pak De…

  6. saya merasa saya ndak pernah ke Jakarta setelah ketemu kalian smua. Jogja memang luar biasa! Aku merasa ndak ada kota yang hebat selain jogja.

    Jogja, aku telah memeluk Tugu. aku pasti akan kembali lagi ke sana!

    makasih atas smuanya, ini udah bukan blogerhood lagi, tapi udah seperti keluarga sendiri..

  7. emang ada apa to, di blogsfer ?? -bloger kuper-

    [..]Pun demikian dengan seolah menyatakan ulat lebih buruk daripada kupu-kupu.[..]

    eh tp… bener juga ya, kok ndak kepikiran. ulat ndak lbh buruk dr kupu2 kok ya, pakde. apa mentang2 krn penampilannya kenyil2, bikin geli kaum perempuan, dan tak punya sayap warna-warni ??
    ah ulat, aku jrs lbh menghargaimu…

    eh tapi…..mungkin tapsiran pakde juga. kayaknya si penyanyi tdk memburukkan si ulat kok. cuman ada perubahan fisik yg drastis itu. metamorfosa. persahabatan bisa jd merubah kita, syukur ke arah yg lbh baik…

  8. terima kasih untuk om momon n anak2 CA yg membuat acara menarik ini. beruntunglah saya karena kebetulan hari itu pas ada acara di jogja jadi bisa ketemuan lagi dengan anak2 CA. Hihi, meski lucu juga, yg ditemui sebagiannya kok ya orang2 Jakarta juga..:D

    betapa absurd lagi setelah ngobrol dengan memeth kalo ternyata rumahnya cuma beda beberapa rumah dari rumah eyang saya di sitisewu.. hihi..:D

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *