Faktor U

bedagenerasi-1.jpg

Komunikasi antar generasi itu tidak mudah. Ada memang yang menawarkan berbagai kiat, tetapi toh penerapannya tetap butuh upaya tambahan. Ada perbedaan pola pikir dan cara pandang dan beda-beda lain hasil dari konstruksi sosial yang membuat kamunikasi itu menjadi tidak mudah. Ada banyak cerita perkara anak yang tak memahami orang tuanya, pun demikian sebaliknya. Jika kegagalan komunikasi itu terjadi, ada kata-kata baku yang lantas terlontar dari yang tua, seperti “Dasar anak-anak zaman sekarang …” dengan raut wajah murung tentu saja.

Apa sih maunya para orang tua dan anak-anak itu? Jika ada dua benda keras diadu, maka hasilnya adalah bahang. Awalnya hangat, melenakan, cocok untuk membuat hidup menjadi tidak datar. Lama-lama bisa membakar, yang jika tidak dikelola dapat berubah menjadi kobaran liar.

Adalah kewajaran saja sebetulnya jika masing-masing generasi mempertahankan nilai-nilai yang dianutnya. Tidak jadi masalah jika ruangnya ada, seperti mata acara tembang kenangan bisa berdampingan dengan acara tembang masa kini misalnya. Jika ruangnya bertumpuk, ada persoalan yang dapat muncul. Entah itu berupa dominasi salah satu diantaranya atau pertempuran tak kunjung selesai. Ada yang mengejawantahkan dominasi itu dalam bentuk hubungan atasan-bawahan atau guru-murid. Apapun yang terjadi tema-tema begini laku tampaknya untuk dijadikan sinetron.

wicakmbois-1.jpg

Saya sih berharap ranah blog itu dapat menjadi ranah yang egaliter. Sekat-sekat bisa dihilangkan, sehingga ada komunikasi yang bisa dibangun untuk lantas saling memahami. Sekat-sekat itu misalnya dalam bentuk agama, jenis kelamin, usia, latar belakang budaya, profesi atau orientasi seksual. Dalam kasus saya, jengah juga saya jadinya jika Faktor U (umur/usia) dipakai sebagai sekat. Buat saya blogger ya blogger, sama-sama menulis. Tulisan saya tidak menjadi lebih unggul dibandingkan dengan orang lain hanya karena saya sudah bisa pipis sendiri lebih dahulu. Jika seseorang lebih menyukai tulisan kawan saya dibandingkan dengan tulisan saya, itu mestinya soal selera saja.

Lantas, apa ada kiat-kiat untuk melakukan ini semua? Paman budayawan dan NdoroKoranCerdas lebih piawai soal ini. Percayalah.

Foto dan kata-kata di foto bukan oleh saya.

Join the Conversation

52 Comments

  1. setuju pakdhe. umur bukanlah penghalang untuk berteman. saya sendiri heran, masih muda dan belia serta ranum kok dipanggil tante ya?? *nangis*

    btw besok-besok saya panggil mas rudy aja ya…atau bang rudy?? *kedip kedip cacingan*

  2. wow, postingan ini sangat inspiratip! sepakat tak adanya sekat-sekat itu. tp untuk alat kelamin, memang harus ada sekat, ruangan sendiri-sendiri hi hi hi…

    ada cerita menarik darin pabrik tentang “penghilangan sekat-sekat ini”. salah satu caranya dengan memanggil langsung nama ke semua siapa saja.

    tak jalan dan cenderung tragis, karena ada salah satu buruh pabrik yang meminta maaf sebelum memanggil.

    kira-kira, “maaf mas rudy, karena postingan ini saya harus panggil “lung!

    peace….

  3. miskomunikasi, barangkali bisa terjadi karena kecenderungan melihat album dari sebuah gambar
    komunikasi yang intens dalam frekuensi yang sering barangkali akan mencairkan sekat itu, tidak menghilangkan membaurkannya
    meski bukan soal panggilan, tapi saya setuju sama zammy 😀

  4. ewuh pakewuh tidak ada didalam ranah blog, lhah kalo kopdar, silakan memanggil / menyapa janc*k kepada orang yang belum dikenal, kalo sampeyan tidak / belum dibacok silakan hubungi saya !

  5. Sebenarnya bukan semata hanya mengubah atau mempertahankan nama panggilan yang biasa, karena komunikasi tidak hanya berputar di itu2 saja. Tapi gimana cara kita menempatkan seseorang sesuai dengan porsi yang sewajarnya.

    Kalaupun kemudian saya memanggil “Mbilung” saja, ya mungkin tidak apa2. Asal jangan lantas diikuti dengan “nyet” atau becandaan sambil nyuntrungin kepala. Konon orang semakin tua semakin sensitif …

  6. huahhahhahahaha *ngakak*

    komene lucu2….

    tp pakde, kl boleh jujur, tipe saya kok yg agak berumur.mangkanya lbh ngiler sama george clooney, bruce willis, david duchovny, tio pakusadewo, drpd bintang2 abegeh macam -wah aku ndak apal bintang2 sinetron itu- bertrand antolin, mantune lidya kandouw, dll yg bertampang manis2 itu….

    huahahahaahahaha….. *kabur ke bulan*

  7. yah, saya pernah mengalaminya juga. ketika faktor U jadi masalah, bukan karena terlalu ‘tua’ tapi justru karena terlalu ‘anak-anak’ jadi dianggap yaaa… begitulah 😉

  8. weh weitje…di djaman ini soedah semestinja djika sekat2 jang mengganggoe dihilangken. faktor ‘OE’ ataoe faktor jang lainnja itoe semoe tjuma perasaan sadja. masalah panggil nama itoe djuga masalah perasaan sadja. jang penting bagaimana mentjiptakan rasa njaman dan harmonis oentoek bisa berkomoenikasi berdasarken azas saling menghargai..

    😀 tapi kalau faktor ‘OE’ bikin bengong 3 hari di kantor..nah itoe jang berbahaja!!!

  9. mmm…ini maksudnya apa? bicara soal kopdar dan orang yg sibuk dengan laptopnya, atau bicara soal panggilan? saya tetep mas aja…kalo dibilang ga sopan atau ga tau diri, saya jawab: itu cara saya meruntuhkan sekat. kalo bisa sih…nama aja [kalo orangnya ga keberatan :p] tapi saya takut kualat :p >>>kualat ga kualat, itu jg sekat ya, mas? :d

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *