Ini sekelumit cerita tentang burung yang ukurannya sedang-sedang saja. Burung pemangsa (raptor) yang dikenal dengan berbagai nama seperti Elang-alap kawah, Hayabusa, Peregrine Falcon, Falco peregrinus. Nama panggilan boleh banyak, tetapi hanya satu hal yang terlintas di benak saya jika mendengar namanya … kecepatan. Binatang yang geraknya paling cepat di planet ini, dapat mencapai kecepatan lebih dari 300 km per jam pada saat menukik untuk membunuh mangsanya di udara. Kecepatan yang cukup untuk sebuah pesawat jumbo jet Boeing 747-400 lepas landas.
Peregrine Falcon adalah burung yang hidup di banyak tempat di dunia, praktis hanya Benua Antartika saja dia tak bisa dijumpai. Ia membangun sarangnya yang berkonstruksi sederhana di tebing-tebing tinggi, bahkan kadang di gedung-gedung pencakar langit di perkotaan. Tempat-tempat tinggi begini sangat penting bagi Peregrine Falcon karena udara adalah wilayah perburuannya. Tidak seperti kebanyakan burung pemangsa lain yang makanannya ada di darat, mangsa utama Peregrine Falcon adalah burung lain. Terbang tinggi, mencari mangsa dengan bantuan penglihatannya yang luar biasa tajam, dan jika mangsa sudah ditemukan Peregrine Falcon mulai menukik cepat, sangat cepat. Sang mangsa biasanya mati seketika dihantam dengan kecepatan setinggi itu. Sang pemburu belum selesai, mangsa yang sudah mati dan jatuh dari langit itu kemudian ditangkapnya di udara.
Video di bagian bawah tulisan ini mudah-mudahan dapat memberikan gambaran kecepatan Peregrine Falcon. Sekedar penambah gairah untuk mengetahui lebih jauh tentang burung ini.
Gagah, lincah, cepat, garang, kontras dengan kehidupan bahtera rumah tangga burung ini. Peregrine Falcon adalah burung penganut monogami dan baik jantan maupun betinanya berperan aktif dalam mengerami telur dan mengasuh anak. Telurnya berjumlah 2 hingga 6 butir dalam satu kali masa bertelur, yang kemudian dierami oleh burung jantan dan betina secara bergantian. Sekitar 35 hari kemudian, menetaslah telur-telur tadi. Tidak seluruh telur yang menetas lantas menghasilkan anak burung yang dapat tumbuh hingga dewasa. Tingkat mortalitas anak burung lumayan tinggi, dapat mencapai angka hingga 70% pada tahun pertama.
Anak burung yang sudah mampu terbang, mulai diajari oleh induknya untuk berburu. Anak burung tidak langsung praktek dengan mangsa hidup tentunya. Oleh induk burung, hewan buruan yang sudah mati dilepas di udara dan anak burung lantas belajar menangkapnya. Anak burung perlu waktu relatif lama untuk mencapai tahap dewasanya … 3 tahun. Waktu yang relatif lama untuk mahluk yang umurnya hanya sekitar 15 tahunan.
Kecepatan dan kelincahan Peregrine Falcon tidak banyak berguna untuk menghindari ancaman dari musuh utama burung ini … manusia. Racun pestisida DDT pernah membuat hewan ini dalam bahaya, bahkan di beberapa tempat seperti di sebagian Eropa dan Amerika racun ini “membasmi” populasi-popolasi lokal burung ini. DDT tidak secara langsung membunuh burung ini, tetapi DDT membuat kulit telur menjadi lebih tipis sehingga jika dierami, telur tersebut pecah.
Kembali ke soal kecepatan dan kelincahannya, tak heran jika Peregrine Falcon lantas memberi inspirasi pada manusia untuk mengambil tuah dari namanya untuk kemudian dilekatkan pada benda-benda yang identik dengan kecepatan dan kelincahan. Pabrik sepeda motor Suzuki misalnya, membuat motor balap Suzuki Hayabusa (Hayabusa adalah nama Peregrine Falcon dalam Bahasa Jepang). Tidak hanya motor balap, Jepang pada masa perang dunia ke dua memiliki pesawat tempur buru sergap Nakajima Ki-43 yang diberi nama panggilan Hayabusa. Ki-43 adalah pesawat tempur yang menembak jatuh pesawat sekutu lebih banyak dibanding dengan pesawat tempur lainnya yang dimiliki oleh Jepang, mengalahkan sang legenda Mitsubishi A6M Zero. Indonesia dahulu pernah memiliki pesawat tempur satu ini. Lantas pesawat tempur modern ada pula yang mengambil nama burung ini seperti F-16 Falcon, atau F-22 Raptor yang mendapat ide rancangannya dari anatomi Peregrine Falcon.
Bisa dikatakan kecepatan dan kelincahan identik dengan Peregrine Falcon. Lantas Peregrine Falcon juga identik dengan pesawat-pesawat pemburu, mesin perang berkecepatan tinggi. Sementara salah satu mangsa utama Peregrine Falcon di alam adalah merpati, simbol perdamaian. … Eh?!
Foto oleh Jonathan Cheah Weng Kwong diambil dari sini.
.
keren! aku inget dulu ada burung yang mirip falcon pernah nyasar masuk kegarasi rumah, sayapnya luka sepertinya… tapi cuma bertahan sehari, soalnya besoknya dilepas…
wooorghh… jadi nambah cerdas saya malem ini. makasi dhee!
untung falcon ini tidak menjadikan kepala manusia sebagai target, dipatuk dengan kecepatan 300 km per jam… adow!
jadi itu toh yang membunuh perdamaian, eh merpati… pantas surat untuk pacar saya nggak sampe-sampe…
hemm jadi ingat hardisk3.5 merek maxtor model falcon yg pernah ku bikin hihihi
Sang pemburu perdamaian.Pnghancur prnikahan jg g y?
keren! motor suzukinya itu juga keren pakde.
Anak2nya njenengan itu kalau suka main Dead or Alive di Playstation, ada tokoh namanya Ryu Hayabusa. Dulu Ryu Hayabusa nongol di game console lawas 8 bit, yaitu Nintendo dengan judul Ninja Gaiden (U.S)/Ninja Ryukenden. *lho malah cerita game*
Kangen aku baca-baca burung begini.
hore manuk meneh..seribu intan akan berlanjut sepertinya..
dipasar Pramuka jakarta ada ga ya? *kabur*
asik..seri burung sudah kembali
luar biasa………………… ga bayang deh kalo ditabrak saama burung ini pas lagi naik motor… bisa hancur kepala ai..
emang di Indonesia masih ada??? penasaran…
SERIBU INTAN telah terbang lagi???
MANTAB!!
*kangen cerita beginian*
waah wis suwe gak dapet crita soal per-heulangan kayak gini. Suwun atas ulasannya. Kapan niliki elang bareng2 yuuk?
edan! sampek onok falconer barang…apa setiap peneliti burung akan dijuluki dengan nama burungnya juga?
mantap artikel nya, pakdhe. mohon dipersering.
iKut ndoboz ah..haehahehe.. iya tuh, di Indonesia apa masih ada manuk ginian y?
Alhamdulillah…
meski sudah mengarungi seribu pulau, mengantungi seribu boarding pass… seribu intan masih di sanubari Pak Dhe… *terharu*
Mbok y si hayabusa dsuruh mampir semarang pak dhe
ngikut ya….
Burung pemangsa migran pertama yang dikenalkan Kang Ijo 15 tahun yang lalu… Saya masih ingat betul reaksi Kang Ijo waktu melihat burung ini menclok di Situ Patengan.
Klo tengkar sama Garuda menang mana pakdhe?????
Burung unik dan langka tersebut semakin terpinggirkan oleh derasnya modernisasi dan konversi hutan dan sawah di daerah 🙁
Nambah pengalaman nich..tentang macem2 burung???
Pakdhe, Indonesia juga ekspor ini burung ke Singapura lho..hebat kan? 🙁