Awet Ganteng

loncat.jpg

Kemarin itu ada libur agak panjang, bertepatan pula dengan waktu saya sedang pulang ke rumah. Tidak sebagaimana pakem berlibur ke rumah nenek yang diajarkan pada saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kami memilih cara berbeda (juga karena saya sudah tidak punya nenek lagi). Anak-anak juga meminta “jalan-jalan” ke luar. Kalau sudah begini, yang langsung muncul di pikiran saya hanya dua tempat, villanya Ndorokakung atau berkemah di Tanakita. Kali ini, pilihannya pada berkemah dan jadilah acara berkemah di musim hujan itu dilaksanakan. Acara kali ini juga punya nilai lebih karena kami ditemani the dynamic duo Dinda dan Papin.

Apa saja isi acara berkemahnya? Ya bergembira ria dan ndak penting juga buat ditulis. Lantas yang penting apa? Buat saya, beralih dari kerutinan kerja adalah hal yang penting. Secara fisik hasil akhirnya memang tambah capek, tetapi secara pikiran kegiatan begini menjadikan saya jauh lebih segar dalam berpikir. Soal capek fisiknya? Ya tidur saja yang lama setelah berkemah selesai. Selesai itu semua, dijamin ganteng datang ke kantor. Perkara lantas di akhir pekan berikutnya sudah kusut lagi, berarti ada yang salah di pekerjaan sampeyan.

Sering kali pada masa libur saya diam saja di rumah, dengan alasan mengistirahatkan fisik yang lelah. Tetapi, itu laptop tetap menyala dan terhubung dengan internet dan alat komunikasi suara juga tetap menyala. Hasilnya? Fisik mungkin sedikit berkurang capeknya, tetapi pikiran nyaris tidak istirahat sama sekali. Alih-alih kembali ke kantor dengan lebih segar, malah sama saja kusutnya.

Lantas bagaimana? Buat saya, tidur di tenda, bermain lumpur, nyemplung di kali berair bening dan duduk-duduk manis di dekat api unggun bersama keluarga dan mematikan segala alat komunikasi adalah penyegar pikiran dan resep mujarab awet ganteng. Saya tidak mengatakan bahwa cara itu adalah satu-satunya cara yang dapat berlaku bagi semua orang. Sah-sah saja adanya jika ada yang pikirannya bisa segar setelah melenggang di pusat perbelanjaan, ngopi-ngopi cantik, icip-icip sepatu, nonton film horor (yang judulnya Beranak Dalam Celana sudah ada belum ya?) atau kegiatan lain. Ini soal pilihan saja.

Kemarin itu, kami juga mengajak kawan baik untuk meramaikan suasana. Dinda dan Papin yang kebetulan juga senang motret (dan kami girang jadi objeknya). Maka jadilah itu seperti kata pepatah, sekali merengkuh dayung dua tiga benua terlampaui. Ada banyak sebenarnya kegiatan kami di luar rumah yang tidak terdokumentasi dengan baik. Ini penting sebagai pengingat dan pemacu agar tidak malas untuk kembali menyegarkan pikiran. Toh, sudah lama juga kami tak membuat foto keluarga … ihiiiiiy, cakep dah!

keluarga.jpg

Foto oleh Dinda.

Join the Conversation

37 Comments

  1. Yihaaaa…liat poto keluarga ini jadi adem. Mungkin karena latarnya, mungkin juga karena senyumnya.

    Hari minggu kemarin saya ke bogor juga lhooo…. :p *ga nanya*

  2. Foto lulumpatan gitu gimana caranya ya? Kameranya yg dilempar atau gimana, … soalnya hmmm rada ndak percaya dgn gerakan si ayah.

  3. Saya dan keluarga juga suka camping. Kebetulan tempat kediaman kami dikitari hutan. Jadi setiap stress saya jalan2 ngider2 di hutan atau ke bukit yg yg penuh dgn pohon2 dan melihat2 domba dan kuda sedang berkeliaran. Kadang kalau cuaca sedang membaik sy dan teman2 suka bersepeda melewati pertanian. Menyenangkan… tapi sering juga merindukan suasana kota yg hingar bingar itu. Setelah satu minggu dihutan biasanya sy sudah kuat lagi utk di terpa badai utk setahun lamanya he..he

Leave a comment

Leave a Reply to Herman RH Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *