Ciblek Berisik

perenjak.jpg

Pada saat saya baru mulai mengamati burung, ada beberapa jenis burung yang karena seringnya dijumpai lantas dijuluki “burung sampah”. Salah satunya adalah Perenjak sayap-garis (Prinia familiaris) atau dikenal juga dengan nama Ciblek. Bagi saya, “burung sampah” satu ini punya nilai lebih … dia adalah burung yang gembira dan sekaligus berisik. Bagi saya sekarang, burung ini tidak lagi menjadi “burung sampah”, karena burung ini sudah mulai susah dijumpai di sekitar tempat tinggal saya sehingga keberisikannya menjadi pelepas rindu akan masa lalu. Konon kabarnya, jika ada perenjak berkicau riang di depan rumah, ada tamu yang berkunjung ke rumah. Siapa tamunya? Ya si perenjak itu.

Kata perenjak sendiri seringkali digunakan tidak hanya mengacu pada burung dari genus Prinia, tetapi juga dari genus Orthotomus (Tailorbird atau Cinenen). Keduanya memang burung-burung yang ramai terutama di pagi dan sore hari. Walaupun sama-sama berisik, kicauannya berbeda dan Orthotomus lebih cerewet dibanding Prinia. Ukuran tubuh Orthotomus juga lebih kecil dibanding Prinia.

Di dunia, burung pemakan serangga ini hanya terdapat di Indonesia, tepatnya di Sumatera, Jawa dan Bali. Bagi saya, bentuk tubuh dan warna bulu burung ini tidak bisa dikatakan menarik, nyaris membosankan. Coklat-hijau zaitun mendominasi warna tubuh bagian atas dan warna kuning malu-malu di bagian bawah. Pada sayapnya terdapat dua garis warna putih yang membuat burung ini lantas dikenal dengan nama Perenjak sayap-garis. Rupa boleh tak seberapa, tetapi suara juara punya. Melodious, ramai, gembira, begitu saya menggambarkannya. Kijauan perenjak di luar jendela adalah suara yang pas untuk membangunkan tidur di pagi hari.

Akan tetapi suaranya ini pulalah yang membawa kemalangan bagi dirinya. karena suaranya, burung ini lantas sering diburu, sejak awal tahun 90-an, untuk dikandangkan. Saya sendiri tidak tahu apakah ada yang sudah berhasil mengembangbiakan burung ini dalam kurungan karena setahu saya burung ini tidak akan dapat bertahan lama dikurung. Mati karena tekanan batin. Jika ini yang terjadi, maka para pedagang perenjak menggantungkan pasokannya dari burung-burung yang ditangkap di alam. Sebenarnya, untuk menikmati kicauan perenjak tak perlulah sampai mengurungnya. Tanaman hias rimbun di pekarangan dapat menjadi tempatnya bermain dan mencari makan, tentu saja sambil berkicau riang.

Jika ada hal yang dapat ditarik sebagai pelajaran dari kasus perenjak … jangan kebanyakan ngoceh, berisik, nanti dikandangkan.

Photo oleh Karyadi Baskoro diambil dari sini.

Join the Conversation

37 Comments

  1. terakhir mendengarkan suara burung-burung itu adalah waktu SD, dan itu tahun 80-an.. huhuhuhu… Dulu di Palembang, punya om yang kerja di kehutanan dan di belakang rumah dinasnya masih hutan-hutan. Kalo lagi nginep di rumahnya, pagi-pagi pasti mendengarkan suara-suara ramai burung ini, dan suara monyet :mrgreen:

  2. ini burung favorit saya… suaranya asik, kenceng. kalo yang ada di gambar atas, wong malang bilang burung prenjak. kalo ciblek jenis yang berbeda dan sama sama asik bunyinya.
    nang pasar manuk malang. sepasang prenjak/ciblek `jadi` bisa dihargai 200an rebu

  3. weeehhhh.. burung ini masih banyak di kaliwaru resort ;;)
    musuhnya : kucing 😛
    tapi anakku biasanya aku taboki kalo ketahuan memburu burung.

    bbrp minggu yang lalu, saya baru ngeh tentang ciblek ini dan merasa lucu dengan penamaannya yang identik ma PSK.

    soal burung berkicau, di rumah sitisewu, kicau burung masih rajin terdengar dari subuh hingga petang. 🙂

  4. di jogja nasib prenjak juga hampir menyusul ciblek om..Terutama di daerah pedesaan populasinya surut drastis. semua pada pindah ke pasar burung. Dijual 20 ribu per ekor untuk yang masih muda dan > 50 ribu u/ yg mulai ngoceh. kasihan nasibnya

  5. Prenjak ini satu-satunya burung yang pernah berhasil saya tangkap dengan ketapel berpeluru tanah. Dibawa pulang dari sawah, dalam genggaman dengan penuh rasa kemenangan.

    Sampai rumah, penasaran dengan bentuk dan warnanya, saya longgarkanlah genggaman tangan.

    Lalu si burung kembali terbang dengan riang, sementara saya sedih meratapi burung terbang :))

  6. saya dapat kiriman ciblek dari jawa tgl 21 02 2010 ee.. tanggal 22 nya langsung saya bawa kontes di BNR gubernur cab di palembang bunyi si tapi kurang seing,tapi ngak papalah yg penting udah turun ,me love ciblek

  7. saya salah satu penggemar burung yg satu ini ciblek namanya…..perawakannya kecil tapi volumenya luar biasa kencengnya……mudah2an burung ini bisa segera mendapat perhatian dari penggemar burung.untuk bisa ditangkarkan…supaya tidak punah…….cap capp cap….cap….ctak catak ctak……wes bunyi nya mantapp….

  8. wahkebetulan saya baru aja miara ciblek beli dari temen, kata na sih sdh bunyi. tp koq dah beberapa hari ini belum berkicau jg ya? knp ya? apa masih stres? biar cepat berkicau baik na makanan apa yg tepet buat ciblek? thx om ndobos

  9. Ia sekarang sudah jarang suara ciblek alami pada di tangkapin mulu .sekarang dengaar suara burung crokcokan tiap pagiB-)

  10. Memang tu ch ciblek/prenjak. . . .mantapz. . .suka aq,
    apa lagi ch brung lge brkcau,huUuh suara na itu lo. . .bkin gregetan. . .
    Tpi aq gak pny brung na,
    aq nglead n dger.n dr dket rumah. . .
    Hohohoho. . . .

  11. Ciblek burung master andalan,jg bs dilombakan,. Punya 1 suara tembakanya jd alarm buat bgun pgi,krn jm 5 udh bunyi,. Bsok mau tk bw lomba.

  12. di bangka bisa dikatakan gak ada,,
    tp prenjak msh banyak,, dipasar didatangka dari jawa dan palembang, harga baru nangkap saja 100.000.. paling sampe rmh mati

Leave a comment

Leave a Reply to sandalian Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *