Membaca berita tentang bencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, bikin miris dan marah. Ini bukan takdir, ini adalah cermin kerakusan manusia dan ketidakberpihakan terhadap alam.
Mencermati opini para petinggi negeri ini dan bahkan ada ulama yang menyederhanakan masalah lingkungan sungguh memancing emosi. Karena terlalu emosi saya sampai malas untuk langsung berkomentar.
Bagaimana mungkin hutan alami disamakan dengan kebun sawit, hanya karena pohon sawit juga punya daun. Sependek itulah pemikirannya. Hutan alami dibabat habis lantas ditanami sawit.
Kegiatan penambangan, baik legal maupun ilegal, sama-sama mengupas kulit bumi, setelah vegetasi penutupnya dibabat habis. Celakanya lagi, setelah barang yang dicari habis, lahan bekas tambang itu dibiarkan begitu saja.
Penebangan hutan, baik yang berijin maupun tidak, adalah cerita lama soal perusakan hutan. Cuci mangkok istilahnya. Setelah kayu-kayu besar dibabat, kayu-kayu yang masih memiliki nilai ekonomi kemudian menyusul. Setelah itu, ya ditinggalkan begitu saja.
Dari tiga penyebab becana ekologi di atas, apa penyebabnya kalau bukan kerakusan manusia yang didukung dengan kebijakan negara yang tidak berpihak pada alam. Kebijakan kok tidak bijak.
Sudahlah, banjir itu karena ulah manusia sendiri. Tapi, kalau tanpa sawit yang jadi bahan baku minyak goreng hingga lipstik lantas bagaimana? Kalau tidak ada penambangan lalu bahan bakar dan mineral yang kita butuhkan bagaimana? Tanpa pembalakan lantas darimana kita dapat kayu? Disitulah kebijakan yang berpihak pada alam diperlukan.
Tinggalkan komentar