Pagi tadi, dalam perjalanan ke Cibinong, saya melihat ada begitu banyak orang di pinggir jalan. Tampaknya mereka pekerja yang sedang menunggu angkutan umum menuju ke tempat kerjanya.
Soal banyaknya orang menunggu angkutan umum ini mengingatkan saya pada masa saya tinggal di Tokyo. Setiap pagi di hari kerja, saya mengantri di halte bus untuk menuju stasiun kereta api. Antriannya rapih, tertib. Pada saat bus datang, yang nyaris selalu tepat waktu, penumpang yang mau naik selalu menunggu penumpang yang akan turun terlebih dahulu. Bus biasanya penuh, penumpang berdesakan di dalam bus tetapi tidak ada yang teriak-teriak.
Di stasiun kereta, antrian sudah mengular, toh semua calon penumpang tetap tertib mengantri datangnya kereta yang selalu tepat waktu. Yang menarik, ada petugas yang tugasnya mendorong penumpang masuk ke dalam kereta agar pintu bisa ditutup. Petugas bersarung tangan putih ini dikenal dengan nama Oshiya. Di dalam kereta penumpang berdesak-desakan, tetapi tidak ada yang bersuara, apalagi berteriak-teriak misuh. Sangkin padatnya, saya bisa berdiri tanpa berpegangan apapun, dijamin tidak akan jatuh.
Keadaan ini berulang lagi pada saat pilang kerja. Biasanya saya menunggu sedikit malam untuk naik kereta pulang. Sambil menunggu saya biasa nongkrong di kedai kopi atau izakaya dekat stasiun. Selain karena kereta sedikit lebih lega, juga karena makanan yang dijual di kobini (convenience store) dekat apartemen saya menawarkan potongan harga yang lumayan besar untuk produk makanan.
Kadang-kadang, saya begitu lelah dan tidak punya energi untuk berdesak-desakan di dalam kereta. Dalam situasi begini, saya biasanya memutuskan untuk menginap di hotel kapsul dekat stasiun. Itulah mengapa saya selalu membawa baju dan pakaian dalam ganti di tas kerja saya.
Berdesak-desakan dalam angkutan umum adalah hal yang lumrah di banyak kota besar di dunia, tidak terkecuali di Jabodetabek. Walaupun tingkat keberdesakannya tidak separah Tokyo, tapi isi kereta Bogor – Jakarta (dan sebaliknya), saya rasa lebih meriah.
Sekarang, kadang saya kangen juga berdesak-desakan lagi di kereta, bukan kereta di Tokyo tapi kereta Bogor-Jakarta yang rasanya lebih hidup.
Tinggalkan komentar