Elang Jawa Simbol Satwa Langka Indonesia

Awalnya adalah sebuah pertemuan di sore hari sekitar akhir tahun 1992 di kantor International Council for Bird Preservation (ICBP) Indonesia Programme. Pertemuan kecil para ornitolog dan penggiat konservasi burung yang memang belum banyak jumlahnya.

Pertemuan di Jalan Cilosari, Bogor itu untuk membahas tugas yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup untuk mencari satu spesies burung yang layak dijadikan simbol satwa langka Indonesia. Diskusinya tidak alot, cenderung santai dan mengalir. Awalnya burung yang diusulkan adalah Jalak bali. Tetapi kemudian tidak dipilih karena burung ini “terlalu cantik“. Burung yang dicari adalah burung yang gagah. Lantas pembahasan mengerucut ke jenis-jenis elang. Mengerucut lagi ke elang yang punya jambul agar mirip Garuda. Akhirnya terpilih Elang jawa.

Saat itu, pengetahuan kami soal Elang jawa masih sangat minim. Kami hanya tahu kalau Elang jawa hanya ada di Pulau Jawa bagian Barat saja. Ini terbukti tidak benar.

Usulan kami ke KLH itu diterima dan pada awal tahun 1993, melalui Keputusan Presiden, Elang jawa ditetapkan sebagai simbol satwa langka Indonesia. Ini berdampak besar buat Elang jawa. Penelitian tentang Elang jawa kemudian banyak dilakukan. Sebaran terbaru Elang jawa juga diperoleh. Elang ini kini diketahui menghuni Jawa bagian Barat, tengah dan Timur, bahkan belakangan dijumpai juga di Pulau Bali. Upaya konservasi mulai dari menjaga sarang hingga upaya membiakkannya di penangkaran kemudian dilakukan.

Tiga dekade sudah berlalu, Elang jawa sudah jadi burung yang “ngetop”. Ada banyak peneliti lahir dari Elang jawa. Pengetahuan tentang Elang jawa juga bertambah. Ada perayaan kecil yang dilakukan untuk mengenang apa-apa yang telah dilakukan untuk elang ini dan apa selanjutnya. Kecil tapi meriah. Termasuk dalam acara adalah pelepas liaran Elang jawa di Taman Nasional Gede-Pangrango.

Tulisan ini saya buat untuk mengenang Pak Made Sri Prana, Wahyu Raharjaningtrah dan Derek Holmes yang telah mendahului kami semua yang sore itu ikut berdiskusi.

Komentar

Tinggalkan komentar