
Sudah beberapa tahun belakangan ini saya mengamati burung di sekitar rumah saya yang lingkungannya masih lumayan asri, teduh dan banyak ditumbuhi pohon buah. Bahkan di sekitar perumahan saya adalah ladang pertanian dengan beragam tanaman. Dari pengamatan sederhana itu saya melihat ada perubahan keragaman jenis burung di sekitar rumah. Apa saja yang hilang? Apa saja yang baru datang? Mengapa demikian?
Ada beberapa jenis burung yang hilang dari sekitar rumah saya. Burung yang ribut, Prenjak sayap-garis (Prinia familiaris) yang biasanya berkicau di taman depan rumah atau di pagar hidup rumah. Saya pernah mencoba mencarinya di sekeliling perumahan, gagal, tidak menemukannya. Apakah mereka menghilang karena adanya perubahan habitat, makanan atau karena diburu untuk dikandangkan? Dengan nama dagang Ciblek, burung ini lumayan sering saya jumpai di kandang-kandang tempat penjualan burung.
Bentet kelabu (Lanius schach) burung yang dahulu sering saya lihat di tempat terbuka bertengger di kabel listrik atau onggokan pohon kering. Tidak dalam jumlah besar, tapi ada, dan sekarang sudah hilang. Makanan juga masih banyak tersedia untuk burung ini, tampaknya mereka jadi sasaran pemburu untuk dikandangkan.
Bondol, paling tidak ada tiga jenis tadinya, Bondol haji (Lonchura maja), Bondol peking (Lonchura punctulata) dan Bondol jawa (Lonchura leucogastroides) juga turut lenyap. entah kenapa. Padahal biji-bijian juga masih tersedia banyak di sekitar rumah, pohon tempat mereka dahulu beristirahat juga masih tegak berdiri. Mungkin karena ditangkapi lalu diwarnai untuk kemudian dijual di sekitar sekolah untuk peliharaan bersama-sama dengan anak ayam aneka warna itu.
Burung Kaca-mata biasa (Zosterops palpebrosus) dahulu rajin menyambangi halaman rumah dan taman kecil di depan rumah saya secara berkelompok. Sekarang sudah benar-benar lenyap. Burung dengan nama dagang Pleci ini tampaknya ditangkap untuk dijadikan peliharaan di kandang.
Burung-madu sriganti (Cinnyris jugularis), burung pemakan madu ini entah kenapa juga turut menghilang dari sekitar rumah, walaupun saya kadang masih melihatnya di sekitar kebun di luar perumahan.
Selain burung-burung di atas, ada beberapa jenis yang walaupun masih ada tetapi sudah jarang terlihat seperti Cabai jawa (Dicaeum trochileum), Layang-layang loreng (Hirundo striolata), Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris), Wiwik kelabu (Cacomantis merulinus), Celepuk reban (Otus lempiji) dan Gemak loreng (Turnix suscicator).
Kalau di lihat, burung-burung yang “hilang” tadi boleh dikatakan burung yang umum saja sebenarnya, masih bisa dijumpai relatif mudah di tempat lain di Bogor. Saya sendiri menduga hilangnya jenis-jenis burung di atas lebih karena diburu untuk dikandangkan. Khusus untuk Wiwik kelabu, tampaknya hilangnya sarang burung lain yang diparasitinya mempengaruhi keberadaan jenis ini.
Apakah ada jenis burung baru yang datang ke perumahan saya? Sayangnya tidak ada. Berkurangnya keragaman jenis burung di sekitar perumahan saya tampaknya bukanlah hal yang unik. Turunnya keanekaragaman burung di kota Bogor juga tampaknya berkurang, tetapi harap dicatat hal ini masih harus diperiksa ulang. Jika kekhawatiran saya terbukti, kita wajib waspada. Bisa jadi karena ada yang salah dengan cara kita memperlakukan alam beserta isinya.
Tinggalkan komentar