
Adalah seekor burung Biru-laut ekor-blorok (Limosa lapponica) muda yang diberi penjejak satelit, terbang dari Alaska menuju Tasmania di Australia selama 11 hari menempih jarak lebih dari 13.600 km dalam perjalanan migrasinya.
Jarak yang ditempuh dan waktunya sungguh sangat menakjubkan. Tetapi lebih menakjubkan lagi karena itu semua ditempuh tanpa burungnya mendarat untuk istirahat, makan, maupun minum.
Fakta bahwa burung terbang begitu jauh untuk menghindar dari musim dingin menandakan bahwa musim dingin begitu berbahaya bagi burung-burung tersebut. Mereka “rela” menempuh perjalanan sangat jauh untuk menghindar musim dingin. Ingat, setelahnya mereka harus kembali lagi ke Utara untuk kawin dan bertelur di Alaska sana.
Saat ini banyak dari burung migran tersebut ada dalam perjalanan kembali ke Utara. Dari mulai burung kicau yang kecil hingga elang yang besar saat ini sedang beramai-ramai pulang kampung, meninggalkan rumah sementara mereka di belahan bumi Selatan.
Indonesia yang ada di tengah-tengah bumi, menjadi tempat singgah bagi banyak burung migran ini, bahkan beberapa burung raptor (burung pemangsa) menjadikan Indonesia sebagai rumah sementara mereka.
Di rumah sementara ini, burung-burung tadi makan dengan rakusnya untuk menimbum persediaan energi bagi perjalan pulang mereka. Sayangnya, tempat mereka mencari makan seperti lahan basah dan hutan di Indonesia banyak yang dialih fungsikan menjadi perkebunan, pemukiman maupun diganti (maunya) menjadi lahan pertanian berskala besar. Burungnya sendiri, seringkali ditangkap untuk dikonsumsi oleh manusia yang sering dijual sebagai daging “ayam”. Celaka memang. Tempat mencari makan dan beristirahat dihancurkan, dan burungnya disantap. Lengkap itu. Semoga dagingnya tidak diikutkan dalam program MBG dengan alasan untuk mencukupi protein hewani.
Tinggalkan komentar