Sudah lebih dari dua tahun saya tidak berkemah, kegiatan yang saya gemari sejak kecil. Waktu kecil dahulu saya sering berkemah di dalam rumah dengan “tenda” dari kursi dan selimut. Ada sensasi yang asing tetapi menyenangkan tidur di dalam tenda.
Dalam banyak hal, saya adalah orang yang beruntung, sejak lahir hingga kini. Pekerjaan ayah, pendidikan dan pekerjaan yang saya lakoni membawa saya mengunjungi dan bermukim di banyak daerah di Indonesia serta banyak negara di dunia.
Sejak dahulu, manusia gemar mewarnai berbagai macam hasil karyanya. Warna-warna tersebut diperoleh dari bahan-bahan alam, baik yang anorganik (dari tanah yang mengandung mineral tertentu) maupun yang organik (dari tumbuhan dan hewan). Untuk pewarna yang berasal dari tumbuhan (dari getah, daun, batang, buah maupun bunga) sudah banyak diceritakan, tetapi kali ini saya hanya ingin bercerita tentang pewarna yang berasal dari hewan.
Serangga yang punya banyak nama, kadang namanya dijadikan makian. Kecoa, lipas, coro, tiga dari banyak nama yang diberikan kepada serangga ini. Serangga yang identik dengan yang kotor-kotor, jorok, menjijikkan, penghuni selokan, pembawa penyakit, pengundang rasa panik, bergidik bahkan jerit histeris apalagi jika ia terbang mendekat.
Pagi ini (Minggu, 20 Juli 2025) seperti biasa saya melakukan kegiatan rutin membaca e-paper Kompas yang kali ini ditemani kucing-kucing saya. Di halaman 16 ada foto pekan ini dan yang ditampilkan adalah tentang Kuil Murugan di Kalideres.